DAS BATANGHARI

[ English ]   

Bio Region DAS Batanghari (September 2002 - Desember 2006)

Dimulainya proses penerapan otonomi daerah yang diikuti desentralisasi pengelolaan sumberdaya alam, ternyata telah menjadi bumerang bagi sumberdaya alam di daerah, terutama sumberdaya hutan. Masing-masing daerah otonom cenderung melihat bahwa potensi sumberdaya hutan yang ada dalam wilayah administratifnya bebas dieksploitasi untuk kepentingan daerah. Akibat pemikiran tersebut telah timbul dampak yang lebih luas seperti banjir besar-besaran setiap tahun, kebakaran hutan dalam skala besar, dan meningkatnya jumlah DAS kritis setiap tahun.

Seperti halnya kebanyakan DAS dan sub DAS besar di Indonesia, DAS Batang Hari juga telah diklasifikasi sebagai satu dari 22 DAS dengan kategori sangat kritis (super critical). DAS ini merupakan DAS terbesar kedua di Sumatera dengan jumlah luas daerah tangkapan air (water catchment area) 4,9 juta hektar dan secara administratif meliputi propinsi Sumatera Barat dan Jambi. Disamping bernilai penting untuk jalur transportasi, irigasi, perkebunan, rencana PLTA dan persawahan, secara ekologis DAS Batang Hari sangat penting karena meliputi berbagai type ekosistem alami (selain ekosistem sungainya sendiri) mulai dari ekosistem pesisir/muara, lahan basah, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin. Sebagian besar hulu sub DAS terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Menyikapi kondisi ini, WARSI dengan dukungan DFID-MFP selama 7 bulan (September 2002 – Maret 2003) telah menjajaki suatu titik masuk baru dalam upaya pengelolaan hutan. Konservasi Indonesia – WARSI. Titik masuk dan pendekatan baru dimaksud adalah dengan mengajak para pihak melihat persoalan-persoalan pengelolaan sumberdaya alam di wilayah Jambi dan Sumatera Barat dari kacamata DAS Batang Hari dengan pendekatan Bioregion yang substansinya adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah/teritori tanah dan air yang cakupannya tidak ditentukan oleh batasan administrasi/politik, tetapi oleh batasan geografis komunitas manusia dan sistem ekologinya.

Langkah strategis dan realistis yang telah dilakukan WARSI pada tahap awal ini adalah :

  • mendorong lahirnya kesadaran kolektif tentang perlunya pendekatan bioregion dalam pengelolaan DAS Batanghari yang bertumpu pada peranserta masyarakat

  • mendorong tersusunnya dokumen kesepahaman bersama antar pihak yang mendukung pengelolaan Sumber Daya Alam oleh masyarakat dengan pendekatan Bioregion pada DAS Batang Hari

Melalui serangkaian Konsultasi Publik mulai dari Desa, Kabupaten, dan Regional maka telah berhasil didorong lahirnya suatu Nota Kesepahaman Bersama para pihak untuk mendukung gagasan pengelolaan sumberdaya alam DAS Batang Hari dengan pendekatan bioregion dimasa datang.