|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Siaran pers Warsi |
|||
| 150 Anak Rimba Menanti Pendidikan Jambi,
2 Mei 2012
Guru kunjung yang difasilitasi KKI Warsi juga disebut karin hanya sebagai bentuk persiapan bagi mereka memasuki pendidikan formal. Dan kurikulum yang digunakan juga disesuaikan dengan kurikulum pendidikan yang berlaku. Sampai saat ini, ada 20 orang anak yang sudah mengecap pendidikan formal di Sekolah Dasar. Namun, kondisi ini tidak bertahan dikarenakan sekitar 10 orang anak akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan tersebut dengan berbagai alasan. "Mereka biasanya tidak menyelesaikan pendidikan itu dikarenakan harus mengikuti orang tuanya yang pindah, terkait dengan budaya melangun dan orang tuanya juga mencari sumber penghidupan. Dan kebanyakan dari mereka juga tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekolah", kata Karin. Dengan pendidikan, anak-anak Rimba ini diharapkan memiliki pilihan hidup, meski pendidikan tidak dapat menjamin penghidupan yang lebih baik untuk mereka, namun dengan kondisi minimnya lahan untuk mereka hidup dan sebagai sumber penghidupan mereka. Ini mengharuskan mereka harus memiliki keterampilan untuk bisa terus bertahan, dan salah satu langkah untuk mendapatkan keterampilan tersebut melalui pendidikan. "Dengan kondisi yang ada saat ini, jika mereka tidak mendapatkan pendidikan, mereka akan semakin tertinggal dan Sudah menjadi Kewajiban pemerintah untuk memikirkan pola pendidkan yang tepat untuk mereka dengan kondisi mereka saat ini" Kemarginalan Orang Rimba ini disebutkan Ade Candra selaku Asisten Koordinator Program Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Warsi, bermula dari kehadiran sekitar 28 perusahaan yang memperoleh HPH (Hak Penguasaan Hutan) yang pernah tercatat beroperasi di Provinsi Jambi dengan total luas konsesi hampir 2,6 juta ha. Kemudian berlanjut pada 16 perusahaan mengeksploitasi kayu, berada atau bersinggungan langsung di kawasan hidup Orang Rimba dengan total luasan konsesi sekitar 1,5 juta ha.Eksploitasi tanpa kendali disengaja oleh HPH di hutan dataran rendah, untuk tujuan konversi. Kehadiran HPH ini turut memfasilitasi logging lanjutan dan perambahan melalui jaringan jalan. Penghancuran kawasan hidup bagi Orang Rimba tidak berakhir sampai di situ saja. Awal Dekade 70-80 an, pemerintah mencanangkan proyek transmigrasi yang merupakan wilayah hidup Orang Rimba, yaitu Singkut, Pemenang-Kubang Ujo, Hitam Ulu-Kuamang Kuning, Rimbo Bujang. Untuk menghubungkan antar lokasi transmigrasi, Pemerintah pun membangun jalan lintas Sumatera."Pertumbuhan penduduk di lokasi transmigrasi terutama generasi kedua, telah memberi tekanan berat terhadap kawasan hidup Orang Rimba yang tersisa", katanya. Dengan kondisi seperti ini, di banyak kelompok Orang Rimba bertahan di tempat asal dalam keadaan sangat marginal, dan sebaian kelompok berintegrasi dengan desa-desa dan yang kelompok yang lainnya terus menjelajah mencari hutan yang tersisa untuk kawasan hidup mereka. " Meski mencoba untuk berintegrasi dengan desa-desa trnasmigrasi yang ada di sekitarnya, namun Orang Rimba masih belum bisa diterima sepenuhnya di tatanan kehidupan bermasyarakat. Mereka seringkali tidak dianggap, bahkan dianggap sebagai momok dalam lingkungan pergaulan", imbuhnya. Berita terkait: | |||