|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Siaran pers Warsi |
|||
| Jambi Menuju Pembangunan Rendah Karbon
Jambi, 27 Maret 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen dan 15 persen tambahan dengan bantuan internasional, bersama dengan target pertumbuhan ekonomi tujuh persen per tahun. Guna mewujudkan itu semua, Susilo Bambang Yudhoyono mengambil langkah melalui pembangunan rendah karbon mengurangi terhadap pembangunan rendah karbon. Senada dengan itu, Jambi sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia, baik secara kesatuan wadah, yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi, maupun sebagai sumber daya. Dengan luas hutan mencapai 2,1 juta hektar, yang saat ini kehilangan luasan hutannya mencapai 50 persen yaitu hingga satu juta hektar. Angka ini menunjukkan telah terjadi konversi hutan secara berlebihan, dan ini merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya emisi. Diperlukan penataan ruang yang baik dengan pendekatan nilai strategis kawasan untuk mengembangkan, melestarikan, melindungi dan mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan nilai strategis kawasan demi terwujudnya pemanfaatan yang berhasil guna, berdaya guna dan berkelanjutan.
Niat baik ini disosialisasikan dengan penandatangan Nota kesepakatan Kerjasama
KKI Warsi dengan Fraksi Gerakan Keadilan DPRD Provinsi Jambi, yang diwakili
Henry Mansyur dalam bentuk kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Peraturan
Daerah RTRWP 2011-2031,yang telah berlangsung, Selasa(20/3)
Sekitar 60 orang pemegang kepentingan utama, termasuk pemerintah, swasta,
LSM, Universitas, lembaga penelitian dan pihak-pihak lain mendiskusikan
peluang dan tantangan bagi Jambi dalam mengembangkan investasi yang berkelanjutan
dalam Konsultasi Publik Rancangan Peraturan Daerah RTRWP 2011-2031.
Ditambahkan Nelly Akbar, Koordinator Project KKI Warsi, “Investasi
pengelolaan hutan dan sumberdaya alam di Jambi yang tidak berpihak pada
masyarakat adat menimbulkan konflik horizontal maupun konflik vertikal.
Penyertaan tanah sebagai modal dari masyarakat adat dalam investasi masih
sebatas wacana”, jelasnya. Dalam kegiatan Konsultasi Publik tersebut, didapati beberapa rekomendasi diantara meminta Pemerintah Provinsi menyusun indikasi program dalam rencana pola ruang kawasan budidaya. Terkait perkebunan dan pertambangan yang mempertimbangkan mitigasi dampak program dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang telah dilakukan. Henry Mansyhur, ketua Fraksi Gerakan Keadilan DPRD Provinsi Jambi , menyebabkan banyak langkah yang harus dilakukan pemerintah dalam rangka penataan ruang berkelanjutan di Provinsi Jambi.
“ Pemprov harus menata kembali perizinan pemanfaatan ruang antara
perkebunan dan pertambangan. Tidak hanya itu, pemetaan konflik tata ruang,
konflik sosial dan konflik tenurial juga harus dilakukan, guna meminimalisir
tingginya konflik yang terjadi sepanjang 2011 hingga awal 2012 ini”,
jelasnya. Berita terkait: | |||