|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Siaran pers WARSI: 22-05-2003 |
||||
|
Gubernur Jambi Kian ‘Gerah’ |
||||
|
Bahkan menurut Gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin, berpendapat, Rabu (7 Mei 2003), siklus banjir di Jambi telah semakin memendek dari tujuh tahun sekali menjadi lima tahun sekali. Akibatnya gubernur juga semakin ‘gerah’ dengan illegal logging yang marak terjadi di Jambi. Media massa lokal pun hampir setiap hari melansir komentar Zulkifli tentang itu. “Saya bukan mengambinghitamkan illegal logging, tapi itulah kenyataannya.Pokok pangkal Banjir adalah illegal logging,” ujarnya pada salah satu harian lokal Jambi. Bahkan dia merasa telah sangat pusing memikirkan persoalan tersebut. Bahkan telah kering air liurnya pun, illegal logging tak juga berhenti. Upaya memanggil Kepala Dinas Kehutanan Jambi, Ir. Gatot Moeryanto, dan Kepala Dinas Kehutanan Batanghari, Ir. Simon S Pattasik, juga telah dilakukan untuk memproses secara hukum semua pihak yang terlibat illegal logging. Kasus terakhir dengan volume kayu terbesar dalam tahun 2003 ini terjadi di Batanghari yang kubikasi kayunya sebesar 1.810 M3 lebih atau jumlah batang kayunya yang ditangkapyaitu 3.279 batang berdiameter 50-120 cm. Kayu tersebut diambil dari kawasan TNKS dan rencananya dibawa dari Peninjauan ke Muarakilis. Kayu itu ditangkap tanpa dokumen hasil jarahan dari Batanghari dengan menggunakan SKSHH Tebo, pemilik kayu bernama Acuan dan pemilik dokumen Salim Ismail. Telah ada delapan orang yang diperiksa dengansatu orang saksi. Bahkan selainTNBT dan TNBD, Pj Kepala Balai TNB,Ir. Istanto,MSc, kepada pers lokal menjelaskan TNB juga tak luput dari penebangan liar, terutama yang semakin merajalela di wilayah Air Hitam (Sungai Pesujian, Sungai Bungur,Sungai Serdang, Simpang Batu Pahat, dan Sungai Sawah). Pemicu illegal logging di TNB ini adalah lima sawmillliar di sekitar TNB, yakni di Desa Pematang raman, Desa Suko Berajo, Desa Tanjung,Desa Sungai Aur, dan Desa Gedong Karya. Areal kerja HPH yang berdekatan dengan TNB,menurutnya, juga mengakibatkan semakin terancamnya kelestarian dan keutuhan TNB dan kondisi Jambi secara keseluruhan. Sementara itu sebagai lembaga yang peduli pada konservasi, Warsi mendatangi kantor pemberitaan lokal guna menjaring masukan dan memberikan keterangan seputar temuan Warsi dalam menanggapi permasalahan illegal logging dan banjir. Direktur Eksekutif Warsi, Rudi Syaf, didamping Koordinator Program, Robert Aritonang, dan Asisten Bidang Komunikasi, Roidah, menegaskan kalau kondisi yang melanda Jambi ini jika dibiarkan terus, diprediksikan tahun 2007 hutan Jambi habis dan Jambi akan menjadi lautan air. |
Solusi untuk permasalahan ini, menurutnya, tata ruang hutan di daerah DAS Batanghari keluaran tahun 1993 tetap dipertahankan. Hutan jangan hanya dijadikan sasaran pemasukan bagi daerah,melainkan harus dipikirkan hutan sebagai penyelamat daerah dari bencana banjir. Karena ada kecenderungan peningkatan pemasukan oleh daerah dari menebangi hutan atau membuka lahan, kemudian menanaminya sawit. Padahal jika sawit tak menghasilkan lagi, pembongkaran akarnya harus dikeruk/dilobangi hingga ke dasarnya. Bisa dibayangkan aan terbentuk lobang-lobang yang perlu penimbunan jika tak inginkan digenangi air bahkan diterpa banjir. Sementara juga belum tentu semua lahan yang dibuka diolah atau ditanami. Banyak juga lahan yang ditelantarkan hingga tak menghasilkan apa-apa bagi daerah. Contohnya yang dilakukan PT SDM dan Wana Perintis terhadap hutan disekitar TNBD. Kedua perusahaan itu memang telah mendapatkan izin pembukaan dan pengolahannya, namun dibiarkan saja. Total lahan yang ditelantarkan itu tak sedikit,mencapai puluhan ribu hektar. Ke depan pemerintah perlu membenahi ini jika tidak inginkan Jambi rutin didatangi banjir. Adapun daerah-daerah yang saat ini tak luput dari agenda banjir ini, selain sekitar Kota Jambi, misalnya kawasan Seberang, juga melanda beberapa lokasi ditingkat kabupaten, salah satunya di tujuh kecamatan di Kabupaten Batanghari. Tujuh kecamatan itu, antara lain Kecamatan Pemayung, Muarobulian, Maroseboulu, Marosebloilir, Mersam, Muarotembesi, dan yang terparah dikecamatan Batin XXIV yang memiliki 1 5 desa (10 desa-nya telah terendam air). Gubernur telah turun ke beberapa lokasi banjir,bahkan meminta didirikan Posko Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi,terutama untuk Kabupaten Batanghari. Mengingat telah jatuh korban dua orang warga yaitu SaifulBahri (30) warga Desa Pakuaji Kecamatan Batin XXIV akibat jatuh dari perahunya,meninggal dunia 5 Mei 2003, dan korban berikutnya Rika (3), warga Desa Malapari Kecamatan Muarabulian yang terjatuh darijamban karena licin. Posko bantuan banjir ini didirikan di pendopo kediaman bupati Batanghari.*** |
|||
|
Berita terkait:
| ||||