|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Pentingnya Rasionalisasi Taman Nasional Bukit 30 |
||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kawasan konservasi yang kompak dan beraturan akan mempermudah perencanaan, pengeolaan dan pengawasan. Dan, tentu saja, bentuk yang rasional akan mengurangi risiko fragmentasi habitat. Dari aspek hukum (UU No 24/Tahun 1992), upaya ini bisa direalisasikan, asal areal yang hendak dirasionalkan berada pada kelerengan di atas 40 persen. Fakta di lapangan, hampir sebagian besar areal yang berada di kawasan penyangga TNBT memiliki areal hutan dengan topografi di atas 40 persen. Topografi yang relatif curam, dan tergolong kriteria lindung, tentu cukup berasalan untuk dimasukkan ke dalam kawasan taman. Beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan di kawasan hutan Bukit 30, cukup mendukung ikhtiar itu, baik dari aspek fisik maupun biologi, seperti resume di bawah ini. I. Aspek Fisik Dari sisi topografi, kemiringan lerengnya berkisar agak curam (30-45 %), sampai curam (45 – 65 %). Hanya sebagian kecil saja arealnya yang relatif datar. Penggunaan lahan yang sesuai pada daerah ini adalah hutan lindung. Begitu
juga dari sisi kesuburan tanah. Kandungan
C-organik hanya tinggi pada permukaan saja. Jika lapisan atasnya tererosi maka
kandungan C-organiknya akan rendah dan bahkan sangat rendah.
(“Studi Kemungkinan Perluasan Areal TN Bukit 30 di Propinsi Jambi”,
Hasil Penelitian Kerjasama
Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor- WWF TN Bukit 30: 1996) Pada
areal HPH PT Dalek Hutan Esa, sisi Barat TN Bukit 30 yang masuk dalam wilayah
Jambi, sisi kelerengan diambil melalui empat titik, yakni:
Sementara
pada areal HPH Hatma Hutani, sisi timur TN Bukit 30 ada dua titik kelerengan
yang diambil, yakni:
(Hasil
Peninjauan Lapangan dalam rangka Rasionalisasi TN Bukit 30, Maret 2001) II. Aspek Biologi 1.
Flora Hasil
koleksi spesimen herbarium yang berhasil dikumpulkan, tercatat 107 jenis
tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Melayu, 176 jenis oleh masyarakat Talang
Mamak, 45 jenis oleh Suku Kubu (Orang Rimba) dan 47 jenis berguna bagi
transmigran suku Jawa. Malah
jenis Rafflesia hasseltii, flora endemik, unik dan sudah sangat langka,
ditemukan di Hutan Semambu. Tumbuhan
ini umumnya berkelamin tunggal dan sampai saat ini belum diketahui cara
pembudidayaannya. (Penelitian Diversitas Flora di Kawasan Hutan Berbatasan
dengan TN Bukit 30, kerjasama Puslitbang LIPI-WWF Bukit 30: 1996) Kawasan
ini juga memiliki potensi keragaman jenis tumbuhan obat. Hingga kini, terdapat potensi biota medika sebanyak 182 jenis
tumbuhan obat dan 8 jenis cendawan yang selama ini dimanfaatkan oleh Suku Melayu
Tradisional Riau. Jenis
flora yang tumbuh di kawasan TN Bukit 30 memang belum teridentifikasi secara
menyeluruh. Diperkirakan ada ribuan
spesies yang tumbuh di kawasan ini. Selain
tumbuh-tumbuhan penghasil kayu, getah dan rotan, di kawasan ini terdapat
tumbuhan obat, yang jumlahnya lebih dari 520 spesies (Waldemar, Kondisi dan
Permasalahan TNBT, makalah Lokakarta TNBT: 1999) Penelitian
Norindra juga mencatat kekayaan flora hutan basah di Bukit 30.
Sejumlah 700 nama spesies flora yang digunakan penduduk setempat telah
dicatat, termasuk di dalamnya 79 spesies tanaman buah-buahan dan 246 tanaman
obat. (Gambaran Umum TN Bukit 30 dan Kawasan Penyangga, kerjasama WWF TN
Bukit 30-Warsi: Tahun 1999) 2.
Fauna Vegetasi
hutan pada empat lokasi pencuplikan di areal kerja TN Bukit 30 wilayah Jambi,
memiliki keragaman jenis yang relatif tinggi, yakni 124 jenis, 98 marga, 53 suku.
Dari jumlah ini 25 jenis di antaranya
terdapat di 4 lokasi pencuplikan. Suku
yang memiliki jumlah jenis cukup banyak antara lain suku Dipterocarpaceae
14 jenis (11,3%) dan Euphorbiaceae (8,9%). (“Studi Kemungkinan
Perluasan Areal TN Bukit 30 di Propinsi Jambi”, Hasil
Penelitian Kerjasama Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor- WWF TN Bukit
30: 1996) Penelitian
yang dilakukan Direktorat PHPA (1977), FAO (1982) dan Norindra (1992) mencatat
keragaman hayati yang tinggi di Bukit 30. Tercatat 59 spesies mamalia di kawasan
ini, termasuk gajah Sumatera, harimau Sumatera dan tapir, yang sudah terancam
punah. Lalu, tercatat pula 192
spesies burung, atau hampir sepertiga jumlah semua spesies burung yang ada di
Sumatera yang ditemukan di Bukit 30 dan 10 spesies di antaranya sudah terancam
punah. (Gambaran Umum TN Bukit
30 dan Kawasan Penyangga, kerjasama WWF TN Bukit 30-Warsi: Tahun 1999).
|
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |