Home > Action

  ACTION

 
  Masuk Hutan, Siapa Takut!!
By : Sauttua P. Situmorang (Legal Officer Konsorsium Bukit Tigapuluh)
Suara teleponku berdering: ”Hallo selamat siang!!!! Kami dari Warsi mengajak Anda untuk bergabung.” Spontan aku berteriak girang. Amin, itu doaku dalam hati. Terima kasih Tuhan karena perjuangan dan harapan untuk bergabung dengan KKI–Warsi tercapai sudah. Akhirnya aku bisa bersama lembaga ini, memperjuangkan lingkungan hidup dari pelaku-pelaku kejahatan lingkungan -istilah yang lagi trend.
 
 
 
 

Antara Minangkabau dan Orang Rimba
Oleh: Bubung Angkawijaya

Rasa yang pertama kali muncul ketika akan kelapangan untuk tinggal bersama dengan OR adalah suatu perasaan yang tidak menentu. Bagaimana pula kehidupan OR ini, apakah sama dengan Masyarakat Mandiri lainnya yang pernah aku dampingi ???...

 
 
 
  Witing TRESNO Jalaran soko KULINO
oleh : Losi, Bening, & Dani
Adalah sebuah kondisi yang harus dirasakan ketika harus bergumul dengan Masyarakat Semesta Belantara Rimba. Padahal, kami bertiga berlatar budaya Jawa yang -tentu saja- telah menghiasi  seluruh persendian darah ini. Kondisi yang menjadikan kami kaget budaya.
 
 
 
 

Menjadi Aku yang Funky
Oleh: Rahmadi Rahmad

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk kreatif-dinamis. Kesungguhan dan kerja keras adalah dua semangat yang membedakannya dalam meraih kesuksesan dan kemenangan hidup (Filsuf Yuk Nani & Ustad Sanusi)

 
 
 
  Bohemian Rhapsody Seorang Guru Rimba KKI Warsi
Oleh :Ninuk Setya Utami

Sah-sah saja ketika seorang kawan mengatakan kepadaku, “Kau satu-satunya orang paling bodoh yang pernah aku kenal!” Kesengsaraan – yang menurutnya- menimpaku tatkala harus bertugas mengajar (menjadi guru) di pedalaman hutan di provinsi Jambi. “Nggak ada koran, nggak ada listrik, nggak ada hiburan apapun…,” demikian kata kawanku yang merasa akan kesepian menghinggapi seorang seniman seperti dirinya yang bergelut di bidang teater dan sangat pintar bergaul dengan siapa saja itu.

 
 
 
 

Ladang Palembang….I’m in Love!
Oleh: Cut Nurul Aidha – Interpreter pindah jurusan
Gue udah mulai stress! Ketika hampir mendekati Curup (suatu desa nun jauh di wilayah Provinsi Bengkulu), jendela gue buka lebar-lebar, dan  rokok yang tinggal satu-satunya di kotak gue nyalain. Udara di luar lumayan segerr, suasana nya pun hampir mirip puncak. Sang supir yang sok akrab mulai ngerecokin dengan sejumlah cerita. Gue hanya  ngangguk-ngangguk dan berkomentar seadanya sambil menikmati racun nikotin dan aroma karbon monoksida. Gila! Ini orang gak nyadar apa kalau gue enggak nyimak.  

 
 
 
  “GUNDUL & GAK PERAWAN”
Oleh Asep Ayat, S. Hut.

Hutan kita dah gak perawan lagi! Benarkah?
He eh. Bener lho. Soalnya, saat gue observasi ke Desa Pemayungan di Kawasam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh tanggal 11-27 April ’05 kemarin. Nah, tuh hutan di sepanjang kawasan dah botak, Jack! Ya, sih. Ga banyak. Tapi keliling. He he he.

 

 

NEGERI CHACAPOYA INDONESIA
Oleh: Fery Apriadi.S.Sos
Ahh. Andai gue masuk Warsi di era dunia persilatan.  Mungkin, gue belajar ilmu meringankan tubuh dulu sama Wiro Sableng. Dengan kecepatan tinggi dan sekali kelebat bisa mencapai tempat yang jauh di Bukit 12. Tentunya, dengan jurus Badai Topan Melanda Samudra gue ajar mereka Baca Tulis Hitung he...he...he...

 


MANUSIA BIASA DAN PILIHAN HIDUP

Oleh: Ade "Joe" Candra, S. Hut.
Tuhan yang Maha baik memberi kita rezeki, tetapi kita harus menjemput untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kita terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kita tidak akan pernah mulai
. Mulailah sekarang ... mulailah di mana kita berada sekarang dengan apa adanya.Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih sesuatu untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya. Maka tentukanlah pilihanmu untuk masa depanmu !!!. (Sia Pacoba)

 

KESADARAN KONSERVASI, AKANKAH...?
Oleh: Invicta Sudjarwati, S.Sos.
Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat…berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu ketika hatimu bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu…

 

 

THE JUNGLE SERENADE
Cara Pengasuhan Anak pada Orang Rimba

Oleh: Erna Anjarwati, S. Sos.
“Peluh yang membasahi tubuh, nafas yang terengah, darah yang terus menetes di kaki karena gigitan pacet, belum lagi beberapa duri (unok) menusuk di sela-sela jari kaki…Sungguh saat itu yang terlintas dalam pikiranku ketika pertama kali melangkahkan kaki di rimba Taman Nasional Bukit Dua Belas hanya satu kata ‘Pulang’, semua itu seakan membuatku ingin menyerah dan memilih kembali ke kota, tempat yang bagi kebanyakan orang adalah Surga Dunia, realitas hidup dengan berbagai fasilitasnya”.

 

 

Dari Sahut-sahutan mBul mBul
Hingga Kelap-kelip Iyup Iyup

Oleh: Agustina D Siahaan, S. Hut
Menulis huruf A berbaris panjang dari kiri ke kanan di antara garis-garis lurus dalam setiap helai buku tulis. Dilanjutkan dengan abjad B. Hal yang sama dilakukan pula pada huruf C, D, E, sampai Z. Beberapa kesalahan kerap terjadi. Ada kaki panjang pada huruf B dan huruf V yang sama persis dengan huruf U. Yang paling sering adalah kesulitan menulis huruf G, M, W dan X. Mereka terus saja mencoba untuk menulis lebih baik dan semakin benar. Aku coba menjelaskan perbedaan bentuk beberapa huruf yang hampir sama, C, G dan J; E dan F; M dan W; X dan Y.

 

 

'Dan Menjadi Lain-lain!’
Catatan Seorang Surveyor Juru Peta

Oleh: Willy Marlupi
Doeloe, waktu masih kecil (kira-kira kelas 1 atau kelas 2 SD) aku  sering ditanyain, ”Kalo besar kamu mau jadi apa"? Dengan santai aku menjawabnya “Tidak tau”. Si penanya pun menanggapi, “Eee.. tidak boleh begitu, setiap orang harus punya cita-cita, seperti ini, itu, dan seterusnya..” Memasuki masa remaja (SMP/SMU) datang lagi pertanyaan yang sama, gobloknya jawabanku pun masih yang sama. Tapi si penanya malah bingung. Sedangkan beberapa kawan yang ditanyai, menjawab dengan bersemangat dan spontan. Mereka ingin menjadi presiden, kayak bapaknya (Diplomat), pilot, bahkan ada yang masih terinspirasi dari tokoh kartun idolanya,  menjadi superman, dan lain-lainnya! Jujur saja aku tertarik (bisa dikategorikan) pada keinginan menjadi yang terakhir, dan lain-lain. Tapi apa?

 

 

Dipaksa Ngibul...
Oleh Agus Widodo, SH
Sebagai staf baru (bertugas awal Maret 2003) di Unit Fasilitasi Desa Warsi saya menyerahkan urusan penempatan saya di salah satu desa sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi kepada koordinator unit, tanpa protes. Dan koordinator memutuskan saya ditempatkan di Sungairuan. Sebuah desa di bawah naungan pemerintah Kabupaten Batanghari yang sebagian besar penduduknya bebalok serta tidak tamat SD.Mereka sangat bergantung pada hasil hutan demi pemenuhan kebutuhan hidup. Bisa dibilang mereka musuhnya kaum konservasi dan sebaliknya. Warsi pun dianggap musuh bagi mereka. Mengingat status itu, saya pun putar otak untuk bisa diterima mereka. Hingga ngibul pun terpaksa saya lakoni.

 

 

Menunggu Pengakuan Hak Adat
Oleh: Erinaldi Ramli, S. Pt.
G
egap-gempita derap langkah beberapa penari diiringi detuman gendang serta dentingan ceng-ceng (simbal) dari pasukan gendang bale, alat musik tradisional warga Desa Tanjung, Lombok Barat. Demikianlah salah satu sisi kemeriahan yang saya saksikan saat mendampingi tokoh Orang Rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Temenggung Tarib, dalam pertemuan kedua dari kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

 

 

Aku dan Orang Rimba
Oleh : M Rafi’i Rangkuti, S. Ant.
S
udah satu tahun aku bergumul di kehidupan Orang Rimba (yang sering disebut Kubu oleh masyarakat Jambi). Banyak hal menarik yang kualami dan yang tak akan pernah ku lupakan. Ternyata Orang Rimba tidak seperti yang ku bayangkan selama ini (sebelum masuk Warsi), yaitu tertutup, penuh kekuatan magic (entahlah kalau dulunya), mungkin apa yang kulihat dan ku alami adalah masyarakat yang sudah mengalami perubahan.

 

 

Sketsa Pembelajaran Anak Rimba Makekal Hulu
di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi

Oleh : Oceu Aprista Wijaya, Spd
S
esuatu yang menakjubkan kalau sejak Agustus tahun lalu hingga sekarang aku duduk di tengah-tengah anak rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi. Mengajarkan mereka mengekspresikan apa yang ada di kepala dan hati mereka (tentang alam, kehidupan, dan impian mereka) melalui gambar. Kenapa begitu? Tak pernah terpikirkan olehku meskipun selintas, aku akan berbaur dengan mereka yang akhirnya membuat aku sangat mencintai mereka. Meskipun keluarga dan teman-teman mengenal aku sebagai orang yang suka menembus rintangan dan berinovasi dalam hidup.

 

Trik Orang Rimba Menarik Simpati
Oleh: Marahalim Siagian, S. Ant.
Jambi di pagi hari, saat itu awal April 2001, waktu seolah berjalan malas, tak ada klakson mobil, telepon, surat kabar, rumah sakit, apotik, internet, bahkan coca-cola  sekali pun.  Kondisi yang tak bisa dibayangkan akan ‘muncul’ di pedalaman hutan Bukit Duabelas, tempat Orang Rimba membangun kehidupan dan membesarkan anak-anak mereka.


Kompleksnya Tugas 
Seorang Fasilitator Kesehatan untuk Orang Rimba

Oleh : Sutardi Diharjo (Tenaga Medis)
Sadar pentingnya kesehatan…ketika  sakit harus dibayar mahal

Ngapain sih Di’ kerja jauh-jauh, keluar-masuk hutan lagi?  Mau-maunya sih Di’ bergaul dengan Kubu (Orang Rimba)?” Beberapa pertanyaan bernada miring terlontar baik oleh teman maupun keluarga  lima bulan yang lalu saat saya hendak bergabung dengan Warsi sebagai  fasilitator kesehatan untuk Orang Rimba. Dengan beberapa pertimbangan antara lain mencari pengalaman yang unik disamping untuk memuaskan jiwa yang kering akan petualangan, akhirnya kaki melangkah juga ke Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD ).

 

Kisah Kisah Anak Rimba Penyakit Hernia, Nasibmu Kini
Oleh  : Sutardi Diharjo (Fasilitator Kesehatan Orang Rimba)
Dibalik kesulitan akan datang kemudahan

P
erjalanan tugas sebagai fasilitator kesehatan Orang Rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi yang telah berjalan satu tahun, mengantarkan saya menemukan istilah poliron/Oluron/penyakit jenton untuk suatu jenis penyakit yang masyarakat luar menyebutnya penyakit turun berok atau buru. Dalam istilah medis disebut hernia.

 

Pengalaman dan Lingkup Kerja
Staf Kajian dan Pendampingan Orang Rimba
di Taman Nasional Bukit Duabelas  

Oleh:
Dodi Rokhdian, S. Ant.
K
ehidupan bukanlah pilihan bebas, yang beruntung mungkin bisa mengalami hidup yang membahagiakan, yang sial tentunya kebalikannya! sengsara dan miskin papa. Bicara itu semua muaranya peruntungan dan usaha setiap manusia untuk merubah nasibnya. Nasib yang buruk dan papa itulah yang dialami kelompok orang rimba di TNBD, padahal lingkungan hutannya berlimpah dengan keragaman isi didalamnya. Lalu apa persoalannya? apa yang salah dari  budaya orang rimba? hingga ‘sumber kekayaannya’ tersebut justeru dinikmati oleh fihak luar yang terus-terusan menggerogoti tegakan-tegakan pohonnya dan luasan hutannya dengan cara-cara illegal. Selain itu nasib tersebut diperburuk oleh tekanan sebuah arogansi tradisi yang telah mengakar dalam hegemoni sejarah selama ratusan tahun. 


Suka Duka Sokola Orang Rimba 
di Taman Nasional Bukit Duabelas

Oleh: Saur Marlina M., S. Ant. (Butet)
"Akeh urang malong, baco hopi ado tokang, menuliy-hitung hopi ado tokang, mancing hopi mendepot. Eee.. akeh hopi menjedi (Saya orang yang paling malang: baca tidak pintar, menulis hitung tidak bisa, memancing tidak pernah dapat, aku tidak akan menjadi orang pintar, red.)”, tutur Melabatu dengan memelas. Seorang anak rimba ini sadar akan ketertinggalannya di bidang pelajaran dibanding yang lain. Teman-temannya kemudian menghibur, “tapi Batu nang paling tokang main ebal (tapi, Batu paling pintar bermain sepak bola, red)!”. Mendengar pujian itu sesungging senyum Batu muncul, dan semangat belajarnya timbul lagi.


Kegiatan Fasilitasi Kesehatan Untuk Orang Rimba
di Taman Nasional Bukit Duabelas

Oleh: dr.
Herti Harjati
Apa sih yang dilakukan fasilitasi kesehatan di lapangan? Tentu saja tidak jauh dari memberikan pelayanan pengobatan kepada mereka. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mendatangi satu-persatu kelompok mereka, tentu saja hal ini akan membuat satu kelompok hanya mendapat kunjungan setiap 2-3 bulan sekali. Kelompok Orang Rimba tersebar di seluruh bukit dua belas sehingga untuk menemui setiap kelompok harus berjalan kadang-kadang sampai setengah hari perjalanan. Mungkin hal ini pula yang membuat petugas kesehatan jarang mengunjungi dan mereka pun enggan untuk berobat ke fasilitas kesehatan yang ada, seperti Puskesmas.


Copyright © WARSI 1999 - 2014.  All Rights Reserved. | log in |