|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
‘Dan Menjadi
Lain-lain!' Prologue
Fase ini
anggap selesai dan loncat ke masa setelah menamatkan SMU Waktu itu berpikir, debat, rembuk, dan segala macamnya hanya omong kosong, singkatnya selama kurun 1997-1998 aku pun dihadapkan pada rumus, pengajar/guru yang tidak tau kompromi, PR-PR, serta praktek kerja yang berjibun. Aku merasa pusing, edan! Kenapa..? Jelas! Aku yang sebelumnya selalu ceria, bersenda-gurau, santai (maklum di SMU aku masuk jurusan sosial) tau-tau loncat, dan berada di dunia sebaliknya. Orang bilang, “Ah, kan cuma setahun !” Benar, tapi setahun itu menjadi ‘neraka’ dunia bagiku. Habislah cerita..! Dari uraian di atas, mungkin ada yang bertanya, kenapa nenek memintaku sekolah dipemetaan? Alasan ringkasnya, karena nenekku pernah sekolah di sana dan begitu tamat langsung diangkat menjadi pegawai di PU. Kedengarannya gampang sekali, tapi sayangnya beliau sengaja melewatkan satu hal yaitu pendidikan/proses untuk melalui semua itu memunculkan koma alias semuanya tidak berjalan mulus begitu saja. Kisah selanjutnya aturan ketat yang diterapkan sekolah kadang menjenuhkan. Misalnya di pagar sekolah dipasang peringatan, Lebih Baik Pulang daripada Terlambat! Aturan ini sebenarnya boleh saja diterapkan, karena jika terlambat 15 menit saja akan banyak rumus yang terlewati dan bila dibiarkan bagi yang terlambat akan menjadi orang tertinggal. Aku sendiri pernah terlambat (walaupun cuma sekali) selama 10 menit. Untuk kerterlambatan yang pertama ini masih ada dispensasi yaitu jalan jongkok sejauh 50-an meter. Hari-hari keberikutnya aku datang paling awal. Dan bagiku ‘neraka’ itu terus berlangsung, bahkan setelah menamatkan sekolah hingga sekarang neraka itu masih berlangsung, karena “proses pembelajaran” itu terus berlanjut. Lho.. kok tidak habis-habisnya? Memang…!
Masa Selanjutnya Banyak yang telah aku rasakan,ku temui, dan yang didapat, tapi hanya satu kisah yang selalu teringat dan bisa kuceritakan. Tepatnya tahun 1999 awal aku bergabung dengan perkumpulan ini (KKI-Warsi), tiga bulan pertama masa adaptasi rumit yang nyaris tidak ada kenikmatan, apalagi di kantor. Karena harus banyak belajar software pemetaan, tiga bundelan tebal petunjuk untuk digitasi yang harus dibaca atau harus diketahui. Sialnya bahasa di buku itu bahasa Inggris (aku kembali merasakan ‘neraka’ itu), dan kalo mau jujur aku sudah tidak kuat untuk kembali ke situasi seperti itu lagi. Bulan keempat di Warsi aku mengikuti orientasi lapangan, masuk ke bagian utara dari cagar biosfer yang saat ini sudah menjadi kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Aku difasilitasi salah seorang senior yang sekarang tengah mengambil beasiswa S2 di Australia. Pembawaannya dingin, tegas tapi bijaksana. Masa itu merupakan saat pertama aku menginjakan kaki di hutan. Aku diantar dengan motor trail sampai ke basecamp HPH (masuk jalan logging 24 Km dari desa, sedangkan lokasi yang harus dicapai Km 30-an). Artinya aku harus jalan kaki sejauh 6 Km. “Ah dekat, paling hanya jalan kaki selama 1,5 jam,” pikirku, apalagi sudah ada petunjuk dari senior untuk mencapai lokasi itu. Setelah istirahat sebentar, aku berpisah dengan dia dan melanjutkan perjalanan sendirian dengan tanpa bekal, 15 menit pertama hingga 45 menit aku masih merasa segar. Jalan yang dilalui pun tak sulit, bersih dan tidak terjal alias rata. Menit-menit berikutnya aku merasa petunjuk yang diberikan sang senior tidak sama dengan kenyataannya, karena jalan yang dilalui berupa jalanan yang sempit,penuh semak. Petunjuk yang ku dapat menjelaskan kalau jalan yang akan kulalui hingga menemui simpang pertama, bersih. Tapi aku terus menelusuri jalan tersebut, tanpa terasa perjalanan pun telah memakan waktu 1,5 jam, sedangkan aku masih penuh peluh? Sendiri! Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukan pukul 17.30 Wib, lagi-lagi masih tidak ada tanda kalau aku telah memasuki lokasi (batinku berkeyakinan aku telah tersesat). Aku putuskan untuk istirahat saja, rebahan di atas pohon yang tumbang. Pikiranku berkecamuk, ditambah lagi rasa capek yang tak terkira, minuman pun tak ada. Belum lagi kendur urat syarafku dan belum pulih otot-ototku, tau-tau ada suara berintonasi tinggi, mengejutkanku. “Siapo…..?” Aku reflek melihat ke samping kiri, asal suara tersebut. Di sana berdiri seorang laki-laki, tubuhnya terbungkus selembar kain yang hanya dililitkan di bagian kelaminnya saja. Tangan kanannya memegang tombak, sedang tangan kirinya membawa karung penuh darah (entah apa isinya). Lama kami saling diam (mungkin sama-sama kaget).Aku berinisiatif memulai pembicaraan yang intinya mengajak si lelaki berkenalan sambil meminta petunjuk jalan ke lokasi yang ingin ku tuju. Sambil berbincang dia meminta beberapa batang rokok yang ku bawa. Hanya bicara selama 15 menit, rokokku sudah berkurang setengah bungkusnya. Dia begitu rakus.
Ditinggal begitu, tanpa pikir panjang aku bergerak ke arah lelaki aneh tadi lenyap, hari pun kian gelap, dengan pandangan remang aku terus berjalan hingga sampai ke menit 20. Aku kaget luar biasa,di suasana gelap begitu keluar serombongan laki-laki aneh lainnya seperti lelaki sebelumnya. Mereka menghadangku dengan raut serius, “Apalagi ini...!,” ujarku dalam hati. Aku dihantam dengan berbagai pertanyaan, siapa aku, mauku apa, untuk apa, kenapa, dan pertanyaan lainnya. Ku coba menjawab semua pertanyaan mereka. Setelah itu, salah seorang dari mereka memberi isyarat (yang kukira waktu itu isyarat meminta rokok) tanpa ba-bi-bu ku lempar rokokku dan berlalu melanjutkan perjalanan (rasa lapar dan capekku hilang). Tidak lama kemudian aku melihat kepulan asap di kejauhan, otakku bekerja mempertanyakan dimanakah asal asap itu, asap dari api tanda kehidupan (terlepas benar atau salah aku tak peduli, tapi kalimat ketiga membuat aku berpikir untuk kesana) jangan-jangan…? Perasaanku waktu itu mungkin di bawah normal, tapi ku putuskan untuk mendatangi sumber asap tadi, pikirku mati pun sudah pilihanku…! Jarak antara aku dan sumber asap hanya 15 meter. Aku bergerak sambil mengendap-endap, lama aku perhatikan, dan ternyata di sana ada suara, tenda, dan manusia ! Walau samar pandanganku tapi pendengaranku mengatakan kalau suara-suara itu aku kenal. Dan untuk meyakinkanku, kian ku dekati tempat itu. Tidak salah ! Mereka adalah teman–teman lokasi yang ku tuju. Terasa lepas dari beban, aku berjalan cepat menuju tenda dan menyapa mereka lewat tatapan mata tanpa suara. Hikmah yang ku
petik dari catatan perjalanan ini yaitu berguru dari alam, belajar pada
tanda, dan sabar adalah makna.
|
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |