Home > Action > Aku dan Orang Rimba

  RAFI'I RANGKUTI

 

Aku dan Orang Rimba
Oleh : M Rafi’i Rangkuti (Staff Kajian Pendampingan Orang Rimba)

Sudah satu tahun aku bergumul di kehidupan Orang Rimba (yang sering disebut Kubu oleh masyarakat Jambi). Banyak hal menarik yang kualami dan yang tak akan pernah ku lupakan. Ternyata Orang Rimba tidak seperti yang ku bayangkan selama ini (sebelum masuk Warsi), yaitu tertutup, penuh kekuatan magic (entahlah kalau dulunya), mungkin apa yang kulihat dan ku alami adalah masyarakat yang sudah mengalami perubahan.

Guruku seorang sosok tua Orang Rimba bernama Ngembar yang sangat menentang kata “Kubu” untuk sebutan masyarakatnya. Dia yang mengajariku bahasa dan menceritakan banyak hal tentang masyarakat rimba. Bagi dia, mereka bukanlah Kubu yang di identikkan dengan kekotoran, bau, penuh dengan ilmu sihir, terlebih lagi bukanlah golongan yang pantas dikelompokan sebagai masyarakat liar dan tidak beradat. “Kami nio Orang Rimba bukan Kubu sebab makanya rimba karena kami hidup di delom rimba (Kami ini Orang Rimba bukan Kubu, disebut demikian karena kami hidup di dalam rimba),” tegas Ngembar pada ku yang selalu melatarbelakangi ceritanya dari sejarah asal-usul suku mereka.

Hubunganku dengan Ngembar bisa dikatakan sangat dekat, selalu saja dia menyambut kedatangan dan kepergianku dari kelompok mereka dengan berbagai pantun, antara lain berikut ini bunyinya :

Apo guna berambut panjang
Esuk mandi mengurai jugo
Apa guno bekasi sayang, esuk mati bercerai jugo

La lamo idak ke talang
La ba buwo kacang parang
La lamo idak bepandang
La berubah kasih sayang

Kalo ndak nengok belungkang Jambi
Tengok belungkang Sungai Tabir
Kalau ndak tengok tunggang kami, tengok kepado air hilir.

Bagi Ngembar, (dari isi pantunya itu) kasih sayang akan terus mengalir seperti air yang terus mengalir ke hilir walaupun pertemuan jarang sekali terjadi dan walaupun akhirnya harus diputus dengan kematian. Ngembar tidak habis-habisnya melantunkan segala kemahirannya dalam berpuisi, karena bagi dia dengan puisi atau pantun akan menghibur dan melepaskan semua beban hidup yang ada di hatinya.

Pernah suatu hari aku ikut bersama kelompoknya pergi berburu mencari kura-kura (sibodoh) dan ikan di sungai yang ada di dusun pinggir hutan (Dusun Lubukjering). Dengan membawa tombak panjang dan bercawat kami berjalan menuju dusun, tiba dipinggir hutan ada sebagian Orang Rimba menggantikan cawat dengan celana pendek. Sepintas penampilan mereka tidak ubahnya seperti orang dusun, tapi tetap saja mimik Orang Rimba terlihat dari ekspresi mereka, seperti kelihatan lesu, kotor, dan lebih suka jalan berbaris. Mungkin karena kebiasaan di hutan yang jalannya memang kecil (sempit, dibatasi pohon-pohon) yang menyebabkan kebiasaan jalan berbaris itu senantiasa terbawa hingga keluar hutan.

Sepanjang jalan dusun mereka menjadi perhatian banyak orang, tombak-tombak panjang yang tersandang di bahu mereka menjadi tontonan menarik bagi beberapa anak sekolah dasar yang kebetulan saat itu sedang istirahat bermain. Sebagian dari mereka, terutama anak-anak kecil rimba bernama Ngeretek, Gemambur, dan Nyerto, kelihatan takut dan memperlambat jalannya. Dari dalam pagar sekolah, anak-anak sekolah lainnya berhamburan menuju pagar sekolah untuk menyaksikan Orang-orang Rimba yang sedang melintas itu. Sepertinya bagi Ngembar pemandangan itu sudah menjadi keseharian kelompoknya, mereka tetap saja meneruskan langkah, tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.

Akhirnya tibalah kami di pinggir sungai yang hendak dituju. Air sungai kelihatan sangat hitam. Bau busuk menyengat hidung. Ngembar ternyata kalah cepat dengan orang dusun, sungai itu ternyata telah ditubah orang dusun. Tapi perut berbicara lain, sungai yang berbau busuk itu tetap diselami, satu-persatu anggota kelompok Ngembar turun ke dalam sungai, mereka yaitu Besemen, Bepingkai, dan Njalo, Ngembar pun ikut turun. Mereka berenang sambil menghujamkan tombaknya ke dalam sungai. Bangkai-bangkai ikan terlihat mengapung di tebing-tebing sungai.

Di kedalaman sungai yang tampak hanya kepala mereka saja, ternyata sungai itu sangatlah dalam. Ngembar yang sudah sangat tua itu mencoba berenang dengan bertumpu pada tangkai tombaknya yang kelihatan hanya satu jengkal dari permukaan air sungai. Bisa dibayangkan dalamnya sungai itu, mampu menenggelamkan tombak mereka yang panjangnya 3–4 meter.

Dari atas tebing aku menyaksikan mereka yang sudah mulai lelah, wajah keputusasaan mulai telihat. Akhirnya setelah menelusuri panjang dan dalamnya sungai dengan tanpa membawa hasil, kami putuskan untuk pulang. Hanya bangkai ikan yang mereka bawa dari hitam dan baunya air sungai.

Ngembar adalah sosok Orang Rimba yang begitu percaya dengan kemampuan dirinya dan keagungan adatnya. Hanya saja Orang Rimba tetaplah Orang Rimba, yang hidup terus mengalami keterdesakan dari orang luar, hutan dan adatnya akan segera punah, serta bagaimana dengan anak dan cucu mereka nanti?

Pengalaman ikut berburu itu merupakan salah satu contoh kehidupan Orang Rimba yang tidak akan bisa kulupakan selama hidup bersama mereka. Pengalaman menarik lainnya ku alami saat menyaksikan Orang Rimba mengambil madu sialang.

Di mana Orang Rimba yang hidup secara berkelompok di pinggir-pinggir sungai di dalam hutan, terutama kelompok yang tinggal di Sungai Makekal Hilir Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi lebih sering mengalami kontak dengan orang dusun. Penampilan mereka pun persis seperti orang dusun. Meliyak, salah seorang pemuda rimba di bulan yang lalu baru saja menyelesaikan membuat lantak (lantok), yaitu kayu pisang yang dibentuk menyerupai paku yang berfungsi sebagai tangga untuk memanjat pohon sialang.

Sementara di dalam sebuah rumah yang beratapkan daun serdang, Betangkai, kakak iparnya, sibuk menyiapkan perlengkapan untuk memanjat sialang. Sesekali Betangkai berteriak ke anak dan bininya untuk mencarikan dan mengumpulkan alat-alat yang dia butuhkan, misalnya senter, perlak plastik, parang, ambung (keranjang), galon, dan geganden (palu dari kayu untuk memukul lantak). Teriakkan Betangkai itu menimbulkan suasana riuh yang ditingkahi suara-suara anak rimba yang sedang bermain dan berlari di antara pohon-pohon karet dan belukar. Anak-anak rimba tersebut terlihat ceria dan tidak peduli dengan hari yang mulai sore. Mereka bertelanjang kaki dan kain panjang yang melilit longgar pinggangnya tetap saja berlari di antara tunggul-tunggul kayu yang tajam yang setiap saat bisa menghujam kaki mungil mereka.

Lain halnya dengan para perempuan rimba, di sore hari itu mereka terlihat lebih santai sambil bekerja. Satu-persatu peralatan untuk mengambil sialang mereka kumpulkan. Bepirak, isteri Betangkai, dibantu mertuanya (mentuha) dan Meluai, keponakan Bepirak, menyiapkan baskom-baskom besar dan galon-galon berukuran lima liter, sebagai tempat penyimpanan madu. Sore itu semuanya kelihatan begitu sibuk sekali. Kulit kayu senggrip (tumbuhan hutan) yang berfungsi untuk menyalakan api dikumpulkan, lantak-lantak dihitung dan disusun kedalam dua ambung besar. Dan seolah telah dikomandokan kami pun berjalan kedalam hutan menuju pohon sialang.

Induk Betangkai dan Meluai berjalan paling depan, ambung yang berisi galon, tunom dan lampu damar terpikul kuat di badan Induk Betangkai. Sedangkan Meluai dengan sigapnya berjalan sambil menenteng baskom besar, sepanjang perjalanan matanya begitu liar, sepertinya dia mencari sesuatu yang belum juga ia temukan. Di belakang mereka, aku dan Betangkai disusul Bepirak bersama bayinya dan anak-anak rimba lainnya. Sepertinya jalan mereka sangat cepat sekali, berulangkali aku tertinggal dari Betangkai. Kadang di tengah perjalanan tiba-tiba saja dia berhenti mendadak dan aku hampir menabrak ambung yang berada di punggungnya, kagetnya minta ampun, jantungku berdetak kencang, khawatir kalau-kalau ada beruang atau macan. “Pi’i.....” teriak Betangkai padaku, “Cubo kawan koli ah..yoi buah tampui (Coba kawan lihat, itu buah tampui/sejenis buah-buahan rimba),” lanjutnya. “Au..guing, apo yoi buah tampui rimba (Iya kawan, apakah itu buah tampui rimba)?”  balasku ketika melihat buah lainnya yang bentuknya sama. “Hopi yoi buah tampui nasi (Bukan itu buah tampui nasi),”  jawab Betangkai.

Di kalangan Orang Rimba, buah tampui ada dua jenis yaitu tampui nasi dan tampui rimba, bentuknya memang sama namun warnanya agak berbeda. Buah tampui nasi berukuran kecil dan berwarna kecoklatan, sedangkan tampui rimba berukuran lebih besar dan berwarna kehitam-hitaman, sangat persis seperti buah manggis.

Mataku terus saja mengamati pohon tampui yang dipenuhi buah hingga ke batang-batang pohonnya, lebat sekali buahnya. Perjalanan dilanjutkan kembali, baru melangkahkan kaki sejauh 200 meter, lagi-lagi Betangkai menghentikan langkahnya. Kepalanya mendongak ke atas, entah apa yang di carinya, “Nio pohon durian haji, guing. Koli buahnya (Ini pohon durian haji, kawan. Lihat buahnya),” tutur Betangkai. Mataku kembali tertuju ke sebatang pohon yang ditunjuk Betangkai. “Bukan main, lebat sekali buahnya,” hatiku berkata. Wangi buah yang disebarkan dari pohon durian segar sekali menusuk hidungku, dan ingin rasanya segera menikmati buah yang tentunya sangat lezat itu.

Hari semakin gelap, matahari tidak lagi menunjukkan wajahnya, anak-anak rimba tetap saja terus berjalan, tertawa, dan saling bercanda. Bepirak yang menggendong bayi perempuannya yang baru berumur satu tahun itu terus saja mengikuti langkah kami sambil bernyanyi menghibur bayi yang digendongnya. Gemerincing gelang kaki bayi Bepirak kedengaran sangat nyaring di tengah hutan yang gelap itu, sepertinya dia mencoba mengiringi langkah-langkah kaki kami. Bayi perempuan yang mungil tanpa ada benang sehelai pun yang terikat di tubuhnya itu seolah-olah menari mengikuti gerak tubuh induknya yang sesekali harus merunduk menyelip di antara duri rotan dan batang-batang pohon hutan dengan dialuni gemerincing gelang kakinya. Kelihatannya dia ingin memamerkan kegagahan bapaknya yang akan memanjat pohon sialang dan sebentar lagi dia akan mendapatkan madu, makanan yang lezat yang mampu memberikan dia ketenangan dan tidur yang lelap.

Di penghujung perjalanan, di antara tebasan-tebasan pohon-pohon kecil, terlihat pohon sialang, batang pohon kayu muara keluang yang di hinggapi sarang lebah, batangnya besar berdiri angkuh menantang langit. Akarnya kuat mencengkram bumi. Mata ku terfokus ke dahan-dahan sialang yang besar. “Satu, dua, tiga, dan empat,” aku berhitung dalam hati, ada empat bidang (bambing) sarang lebah yang besar melebar ke bawah bergantungan di dahan-dahan pohon sialang. “Pi’i....!”, lagi-lagi terdengar ada tertuju pada ku, tapi kali ini yang memanggil Serno, adik ipar Betangkai, dia termasuk Orang Rimba yang selalu mengajariku banyak hal tentang kehidupan Orang Rimba. “Koli Pi’i, ado empat bambing godong-godong guing (Lihat Pi’i, ada empat sarang lebah bersar-besar, kawan),” teriaknya. “Au guing (iya kawan),” jawabku singkat.

Suara lebah di pucuk pohon sialang nyaring terdengar di telingaku, suara lebah yang menggemuruh dan menakutkan, menggema seperti air bah yang melimpah dan siap membenamkan semua orang yang berada dihadapannya. Betangkai dengan dibantu Serno kembali mulai sibuk, berulangkali Betangkai berteriak pada Serno agar segera mencari dan mengumpulkan rotan. Rotan temiang sebesar jari kelingking anak bayi mulai dikumpulkan  untuk dijadikan tali menurunkan madu dari atas pohon, mereka menyebutnya ‘tali hanyut’.

Anak-anak rimba lainnya (Bedasar, Ngimbai, Pelantar, dan Besusuk) sibuk bermain-main dan terus bercengkrama. Induk mereka dan perempuan rimba lainnya duduk di belukar hutan dan ada sebagian yang lain sibuk mencari kayu kering untuk membuat perapian.

Tali hanyut sudah terjalin panjang. Betangkai sepertinya sudah siap untuk memaku lantak. Cawat yang tadi dipakainya dan kelihatan kusam kini diganti dengan cawat baru berwarna merah bercorakan bunga-bunga.

Dalam aktifitas mengambil madu ini, Orang Rimba bukan sekedar mengganti cawat lama dengan yang baru, tapi sebelumnya mereka juga harus mandi bersih dan dilarang memakan makanan yang menyisakan bau di tubuh, seperti daging dan cabai, karena dalam kepercayaan mereka bau-bauan yang menempel pada cawat yang kotor atau karena memakan makanan yang meninggalkan bau, akan mengundang lebah untuk menyengatnya.

Cawat merah Betangkai kelihatan begitu cerah walaupun hari telah gelap, dengan didampingi Merdo, adik Bepirak, mereka mendekati pohon sialang dan berdiri di antara dua akar kayu sialang yang lebar dan besar, tidak lama kemudian induk Betangkai bersama Meluai sambil membawa bara api datang menghampiri. Suasana malam itu begitu hening, suara lebah tidak lagi terdengar, hanya sesekali suara kecil kicau burung terdengar bersahutan. Udara yang bertiup lembut membuatku mengantuk, tapi tersentak lagi seketika dan merasakan hawa udara yang berubah, asap kemenyan telah berbaur menjadi satu dengan udara yang mengelilingi pohon sialang.

Mataku kembali tertuju pada Betangkai dan induknya yang sedari tadi berdiri di antara dua akar batang sialang, dan aku berlahan berjalan mendekati, mencoba melihat apa yang sedang mereka lakukan. Betangkai duduk jongkok di antara dua akar besar entah apa yang dia lakukan, di tangannya ku lihat dua kayu lantak yang ditempelkan ke batang sialang dan mulutnya komat-kamit, sepertinya dia sedang melafalkan sebuah mantra, sementara induknya di bantu dengan Meluai terus menghasapi lantak yang dipegang Betangkai dengan asap kemenyan.

Suasana terkesan sangat angker di mana setan-setan seperti menari-nari menikmati bau kemenyan yang menyengat. Betangkai sedang melakukan ritual mugo (-nye), di mana ritual ini dilakukan khusus pada pohon sialang yang baru pertamakali dihinggapi lebah madu. Lewat ritual itu diajukan permohonan ke lebah-lebah (dewo repo) mau hinggap lagi di pohon sialang ini.

Tidak berapa lama induk Betangkai pun mundur, kelihatannya mereka sudah selesai melaksanakan ritual yang tadi mereka lakukan. Betangkai juga sudah kembali berdiri dan bergegas mengambil geganden yang terletak disampingnya. Dengan geganden, Betangkai memukul lantak yang tadi dia pegang. Dua lantak terpasang berdampingan dan terus dilanjutkan ke atas. Betangkai dan Merdo silih berganti melantak pohon sialang, malam semakin larut saja, namun suara pukulan geganden terus saja menggema di heningnya malam itu.

Kali ini bukan hanya suara geganden memukul lantak yang terdengar tetapi lantunan tomboy (lagu-lagu pujian) yang indah mengisi kesunyian malam, terisi syair :

Linjang melinjang o..o..
Kundang kecik baru andut..o..o..
Kundak lalu kubelai panjang

Belai lupo lamo tinggal
Lamo tegantung di awang-awang
Betiang satu lah bekeliling

Adik...o...i.

Isi syair tersebut bermakna puji-pujian untuk lebah agar berpindah ke dahan pohon yang lain dan tidak menyengat. Suara Betangkai begitu tajam di telinga dan menggema mengisi malam. Dari bawah pohon aku dan Serno mencoba menerangi Betangkai yang hampi mencapai batang dahan dengan menggunakan senter. Sungguh tinggi pohon sialang ini, Betangkai kelihatan kecil sekali, dan yang kelihatan hanyalah cawat barunya yang merah merona. Sekali lagi suara Betangkai terdengar melantunkan tomboy :

Assalamu’alaikum daun jerambang o...o..
Daun jerambang ku bagi lalu o..o..

Kundak lalu ku belai panjong
Lamo tinggal lamo lupo

Lamo tegantung diawang-awang
Betiang satu bekeliling, adik..oi

Usai Betangkai mengakhiri tomboynya, tiba-tiba Setengkin, adik Betangkai, berbisik, “Pi’i, ado kawana tentu yoi tomboy apo (Pi’i, kamu tahu apa guna tomboy itu?). “Hopi (tidak),” jawabku. “Yoya tomboy agar kanti di bewo tentu kalau Betangkai lah sampai di dahan (Tomboy itu digunakan agar kawan-kawan di bawah tahu kalau Betangkai sudah sampai melantak di dahan kayu),” terangnya.

Aku terdiam dan kembali melihat Betangkai yang terus saja memukul lantak. Tidak berapa lama kemudian angin bertiup kencang hingga sebagian wanita rimba yang dari tadi hanya duduk di belukar hutan merasa ketakutan dan “Totogu....Gunjaron (hati-hati..ada angin kencang) !” teriak induk Betangkai di balik belukar. “Au...Gunjaron (Ya...angin kencang),” jawab Betangkai dari balik dahan sialang yang menandakan Betangkai harus lebih hati-hati lagi agar jangan sampai jatuh karena angin kencang yang menggoyang dahan-dahan sialang.

Suara daun-daun bergesekan begitu jelas terdengar membuat suasana berubah dingin dan aku membayangkan seandainya Betangkai terjatuh dari dahan sialang yang tinggi, suatu peristiwa yang sangat mengerikan. Namun Betangkai yang sudah terbiasa memanjat sialang tidak begitu khawatir dengan tiupan angin, tetap saja geganden diayunkannya, memukul lantak ke kayu dahan sialang.  “Bulan noik hopi depot nurunko mani repo malama nio (Bulan naik, tidak dapat mengambil madu lebah malam ini),” kembali Betangkai berteriak. Baru saja Betangkai berteriak Serno memanggilku, “Pi’i, malam nio hopi jedi ambi maninya, mungkin esuklah diambik, sebab bulanlah noik kanti takut nurunko mani kalau disongot repo (Pi’i, malam ini tidak jadi ambil madu, mungkin besok, karena bulan sudah muncul dan Betangkai takut menurunkan madu kalau disengat lebah),” Serno menjelaskan padaku kalau bulan sudah timbul, dan madu tidak bisa di ambil karena Betangkai takut disengat.

Mendengar ucapan Betangkai dari atas pohon sialang, membuat sebagian wanita rimba kecewa dan memutuskan untuk pulang. “Bepak Krindo, kami baliklah sebab bulan lah noik hopi jedi ambik mani semalom nio (Bapak Krindo, kami pulang karena bulan naik, tidak jadi ambil madu malam ini),” teriak Bepirak, isteri Betangkai ke Betangkai. “Au...Beliklah mika (Ya...Baliklah/pulanglah kamu),”  balas Betangkai.

Satu-persatu perempuan-perempuan rimba mulai beranjak meninggalkan perapian yang mereka buat sore tadi dengan kulit kayu tunom yang terpanggang di atas baranya. Anak-anak dibangunkan dan kembali berjalan pulang dengan menahan kantuk yang dalam. Bayi Bepirak tetap saja terlelap dalam gendongannya, kerincingaa gelang kaki bayinya kembali terdengar bersamaan dengan ayunan langkah mereka, semakin lama suara kerincingan gelang kaki itu semakin jauh kedengarannya dan kemudian hilang di antara pohon-pohon hutan dan kegelapan malam.

Betangkai masih saja melantak dahan sialang, tidak berapa lama ia pun turun bersama turunnya gerimis di tengah terangnya sinar bulan. Malam ini begitu indah tapi juga menyeramkan. Mata Betangkai kelihatan sayup, nafasnya terasa tersengal-sengal, letih setelah naik-turun melantak sialang, namun apa daya kalau malam itu cahaya bulan yang terang telah menghambatnya mengambil madu, makanan yang yang lezat yang tergantung di dahan-dahan sialang. Malam ini anaknya tidak bisa menikmati madu yang segar itu, mungkin esok atau lusa mereka akan mendapatkannya.

Akhirnya kami pun pulang, kali ini tidak ada suara gemerincing gelang kaki bayi Betangkai yang tadi sore menghiasi gerak langkah kami. Tidak ada suara anak-anak rimba yang berlarian dan bercengkrama, yang ada hanya suara jangkrik, burung yang saling bersahutan dan gesekan ranting-ranting pohon karena tiupan angin dan siraman gerimis.

Besoknya pengambilan madu dilanjutkan. Tapi kali ini Betangkai dan Merdo tidak ikut mengambil madu, karena baru sore tadi Betangkai dan Merdo pulang dari dusun, mereka sangat lelah untuk kembali lagi memanjat sialang. Kali ini hanya ada Meliyak yang merupakan adik ipar Betangkai, dialah yang melanjutkan melantak dan menurunkan madu.

Seperti yang dilakukan Betangkai pada hari kemarin, Meliyak mengisi tekuluk-nya (kain panjang yang digunakan untuk ikat kepala) dengan lantak dan bergegas kakinya pindah dari lantak yang satu ke lantak yang berikutnya memanjat pohon sialang. Tomboy-tomboy dilantunkan sampai akhirnya ia mendapatkan dahan-dahan sialang yang akan dilantak. Meliyak agaknya lebih cekatan karena tidak lama kemudian dahan-dahan yang dihinggapi lebah selesai dilantak semua, dan kini tiba saatnya untuk menurunkan madu.

Ditemani isteri dan induk Betangkai, Meliyak kembali berdiri di antara dua akar batang sialang yang lebar dan kekar. Meliyak pun melafalkan jempi-jempi (jampi-jampi) menolak hantu kayu. Seperti melafalkan tomboy, jempi hantu kayu dilafalkan dengan cepat sekali, tidak ubahnya dukun yang mengucapkan mantra untuk mengobati pasiennya. Suaranya kuat sehingga menggema di kesunyian malam ini. Tunom telah dibakar, baranya yang merah menerangi wajah kami dari gelapnya malam. Selesai melafalkan jempi menolak hantu kayu Meliyak kembali memanjat pohon sialang, di lehernya tergantung tali songkorot (tali dari rotan yang digunakan untuk memanjat dahan sialang) dan tali pengikat tunom yang panjang, sementara di pinggangnya tali hanyut dililitkan dan menjulur, tidak ubahnya seperti ekor binatang yang panjang.

Dengan sigap dan cepat Meliyak memanjat batang sialang, tomboy-tomboy kembali dilantunkan, mengisi kehampaan malam ini. Tunom bergelayutan mengiringi langkah-langkah kaki Meliyak, bara-bara api tunom berjatuhan akibat terhempas batang sialang.

Tampaknya Meliyak sudah tiba di dahan sialang, dia mengambil posisi tiarap memeluk dahan sialang dan sambil mengucapkan tomboy-tomboy tunom disapukannya ke sarang lebah dan serta-merta suara lebah kembali menggema, bara-bara api tunom bertebaran seperti kembang api, “Wow, indah sekali, bara api tunom tidak ubahnya bagaikan kembang api yang memecah di udara,“ aku berkata-kata sendirian. Dan sepertinya lebah-lebah juga ikut turun mengikuti turunnya barah api ke bumi. Benar-benar indah sekali, ini kali pertama aku menyaksikan Orang Rimba memanjat sialang untuk mengambil madu lebah.

Terus saja Meliyak menyapu dinding rumah lebah dan tidak berapa lama tali hanyut pun dijulurkan ke bawah untuk diikatkan pada seludang (bakul yang berfungsi seperti ember terbuat dari kulit kayu gaharu sebagai wadah menurunkan madu). Bepirak bersama mertuanya mengikatkan tali kemenyang seludang ke tali hanyut dan segera ditarik Meliyak ke atas pohon. Kali ini mereka akan meminum madu, minuman sekaligus makanan dari pohon yang bernilai sakral, yang siapa mengambilnya tanpa izin dari pemiliknya maka melalui sidang adat dan disaksikan orang-orang di kelompok mereka denda adat dijatuhkan (dilabuhkan).

Meliyak telah menerima seludang, dari bawah ku lihat perlahan-lahan sekali Meliyak membongkar rumah lebah agar tidak terlepas dari tangannya dan memasukkannya ke dalam seludang dan segera menurunkannya. Induk Betangkai dan Bepirak di bawah sudah siap-siap menunggu uluran seludang, betapa menakutkan karena lebah-lebah yang besar itu berkeliaran di sekeliling tubuh mereka lalu hinggap, tapi mereka tidak memperdulikannya. Bahkan dengan tenang sekali mereka menampung seludang dan perlahan-lahan memindahkannya ke dalam baskom yang telah dipersiapkan.

Madu yang baru saja diturunkan membuat sebagian anak rimba beranjak dari duduknya, Bepirak dengan sebaskom madu di tangannya menghampiri anak-anak rimba dan tanpa dikomando madu yang kelihatan segar dan gurih itu menjadi rebutan anak-anak. Sarang-sarang lebah pun yang sudah diperas dibagikan ke anak-anak, dengan penuh rasa gembira mereka menghisap dan memakan sarang-sarang lebah yang berisikan anak-anak lebah muda itu. Wajah-wajah ceria jelas terlihat di gelapnya malam. Akhirnya jadi juga makan madu.

Aku juga tidak mau ketinggalan, dengan tawaran yang ramah dari perempuan riba, aku mengambil sarang lebah yang menyimpan madu segar. Bening sekali madu ini dan rasanya juga manis sekali hingga membuat kepalaku pusing dan mual di perut.    Tidak lama kemudian Meliyak sudah kembali menurunkan seludang yang berisikan madu dan selanjutnya diperas dan diisi ke dalam galon-galon yang sudah dibersihkan. Sementara di belakangku anak-anak rimba antri mendapatkan sarang lebah sisa perasan, mereka membongkar-bongkar perasan dan menyantap anak lebah yang masih muda. Demikianlah pemandangan yang indah pada satu sisi kehidupan masyarakat terpencil, jauh di dalam hutan TNBD Jambi.



Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |