Home > Action > Ladang Palembang….I’m in Love!

  Cut Nurul Aidha

 

Ladang Palembang….I’m in Love!
Oleh: Cut Nurul Aidha – Interpreter pindah jurusan

P erjalanan dari Jambi ke kota Bengkulu yang memakan waktu nyaris sepuluh jam itu diiringi alunan lagu-lagu hits Betharia Sonata yang sedih dan nyebelin (Ihh…!) NON STOP!

Gue udah mulai stress! Ketika hampir mendekati Curup (suatu desa nun jauh di wilayah Provinsi Bengkulu), jendela gue buka lebar-lebar, dan  rokok yang tinggal satu-satunya di kotak gue nyalain. Udara di luar lumayan segerr, suasana nya pun hampir mirip puncak. Sang supir yang sok akrab mulai ngerecokin dengan sejumlah cerita. Gue hanya  ngangguk-ngangguk dan berkomentar seadanya sambil menikmati racun nikotin dan aroma karbon monoksida. Gila! Ini orang gak nyadar apa kalau gue enggak nyimak.  

Akhirnya… kami berhenti untuk kudapan sore, setelah itu melanjutkan perjalanan dan tiba di kota Bengkulu sekitar jam delapan malam. Ketika sampai di kamar hotel yang terpikir hanya TIDUR! Malam itu gue terlelap sambil bermimpi tentang jeng Betha dan suaranya…(sial!). 

Keesokan paginya, sekitar jam tujuh gue dengan setengah ikhlas memutuskan untuk mandi. Baru satu gayung, pintu kamar mandi sudah diketok. “Apaan Vid?” Tanya gue sama si Vidra (yang selain jadi temen serumah, juga jadi temen satu team di lapangan…berdedikasi sekali kita ini! Hehe) “Mobil udah datang Rul, cepetan mandi nya!” balas Vidra yang kedengarannya sedang terburu-buru. “Hah? Duh…gimana nih…tunggu gue ya, bentar lagi gue beres!” Sial banget gue kayanya dua harian ini, terpaksa deh mandi gue cuman lima gayung (gue itungin). Waktu gue sampai di pelataran parkir hotel, “wanoja” sudah menunggu dan lima jam lagi kami akan tiba di Ladang Palembang. Siip lah! 

Begitu sampai di Muara Aman, “wanoja” berhenti di pos nya untuk ganti supir.“Emang masih jauh dari sini Vid?” bisik gue ke si Vidra “Deket kok…paling lima belas menitan”. “Jadi kenapa pake ganti supir segala?” Vidra hanya mengangkat bahu. Saat sang supir  mulai berbincang-bincang dengan kernet yang berada di sebelahnya gue mulai agak heran “kok bahasa sunda?” pikir gue… si Vidra kayaknya tau apa yang gue pikirin, dia cuma senyum-senyum aja.  “Kumaha damang?” tegur sang supir kepada seseorang yang dikenalnya. Sah deh gue salah alamat!…ini di Bengkulu apa di Bandung? Masa gue salah naik kendaraan…hehe.  

Beberapa saat kemudian kami sampai di desa Ladang Palembang, di antar tepat di depan rumah si “cece” tempat kite ngetem selama enam harian ke depan. Wah… bener-bener deh…udara di tempat ini bersih! Gue sampe enggak tega mau ngerokok (tapi gue akhirnya mencemari udara juga selama enam hari itu). Dan…Airnya...jernih, dingin, segerrr….terharu amat gue waktu cuci muka. Tapi setelah istirahat sore itu, gue mulai sadar, banyak tugas yang harus diselesaikan. 

Kegiatan kami berdua tidak lain dan tidak bukan adalah mencari data sosial ekonomi termasuk menemukan potensi desa dan jenis komoditi yang bisa dikembangkan. Hal ini untuk mendukung program marketing. Nah sebelum memasarkan sesuatu, kan harus dicari dan dianalisa dulu apa yang akan dipasarkan, jadi itulah fokus kami di desa Ladang Palembang. Si Vidra tugasnya selain mencari pasar yang dapat menampung komoditi masyarakat secara berkelangsungan juga berusaha mengembangkan komoditi yang sudah ada dan yang akan berkembang dengan menggunakan metode “Study Kelayakan Business/Usaha”, sedangkan gue menganalisa hasil usaha tani dari komoditi tersebut (termasuk yang akan dikembangkan), dengan menggunakan analisa Break even point (BEP) yang fungsinya untuk mengetahui titik balik modal tercapainya produksi, Rasio Biaya dan Pendapatan (R/C), dan Net Present Value nya(NPV) yang menggunakan asumsi bunga bank untuk mengetahui penerimaan yang akan diterima untuk jangka waktu tertentu dari setiap produk yang sudah ada atau akan dikembangkan. Dan…blah blah blah…beneran nih mau dijelasin semua? (gue kudu’ ngejelasin kata si Fay jadi bukan salah gue kalau yang baca kena migraine). Jadi intinya kita menganalisa produk dan pasar untuk masyarakat sehingga mereka dapat memiliki jenis-jenis komoditi yang memungkinkan mereka untuk mandiri secara ekonomi selain ikut berpartisipasi dalam pelestarian hutan. (idealis nih…tapi optimis boleh kan?) 

Seminggu di desa Ladang Palembang memang enggak cukup, selain data-data yang dicari memang belum didapatkan semua, gue juga udah jatuh cinta sama tempat ini. Terlebih lagi si cece yang baik hati dan pinter masak, abah dan ibu Isah yang sudah banyak membantu, ibu-ibu yang gue temuin di pengajian yang selalu bersahabat (walapun mereka tau waktu mereka ngaji gue malah sibuk nyatet struktur pemerintah desa yang tergantung di dinding ruangan…hehe). Terus ada Leo dan Andika (anak cece dan keponakannya) dan masih banyak lagi.  

Selama kami disana banyak hal yang menarik dan unik yang ditemui, dari mulai penjelajahan ke sawah-sawah di atas bukit, ngobrol sama pengumpul di pasar, sampai ke daerah trans yang “cukup” ironis nasibnya (“Bagai anak ayam kehilangan induk”- menurut salah satu bapak pemilik warung di Trans). Daerah Trans yang termasuk dalam wilayah desa Ladang Palembang ini, nasibnya memang prihatin, selain sarana dan prasarana yang tidak menunjang, mereka juga merasa ditelantarkan oleh pemerintah (termasuk program dableknya). 

Masyarakat desa Ladang Palembang pada umumnya sudah cukup mengenal Warsi dan ketika kami disana mereka menyambut kami dengan baik. Program CBFM yang sebelumnya dilakukan di desa Ladang Palembang dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini menyangkut pemetaan desa dan pendampingan pengelolaan air, namun belum sepenuhnya menyentuh ekonomi masyarakat. Selain pelestarian dan perlindungan Hutan, kesejahteraan ekonomi masyarakat perlu diperhatikan agar mereka mendapat pengetahuan tentang alternative ekonomi dan pengembangan usaha sehingga mereka tidak selamanya bergantung pada hutan. Melalui Fasilitator Desa yang berada di Ladang Palembang (kang Sastro) kami bekerja sama untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat setempat.  

Tapi setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Perjalanan pulang dari desa Ladang Palembang ke kota Bengkulu lalu ke Jambi jadi agak berat karena gue masih kepingin lebih lama lagi di sana. Yang pasti, untuk ke lapangan berikutnya gue udah ada appointment sama pak kades buat ngobrol sambil ngopi bareng (mudah-mudahan tanpa iringan lagu-lagu Jeng Betha, Nia Daniaty atau Dian Pisesha…duh!). To be continued sampai jadwal ke lapangan berikutnya (itu juga kalau masih boleh dibuat jadi cerbung…).

(Foto: Dok. WARSI)


Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |