|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Trik
Orang Rimba Menarik Simpati Jambi
di pagi hari, saat itu awal April 2001, waktu seolah berjalan malas, tak
ada klakson mobil, telepon, Sebelum masuk hutan, saya telah menghafalkan beberapa kata, modal awal bagi saya berkomunikasi dengan Orang Rimba, tapi tak sepatah kata pun bisa terucapkan, saya terlalu gugup menghadapi para jenton (laki-laki) yang hanya bercawat dengan golok dipinggannya, merokok tak henti-hentinya, dan memelototi saya dalam kebisuan yang meyiksa. Mitos yang dimunculkan masyarakat luar terhadap mereka terlalu banyak dan jujur sempat membuat saya sedikit takut. Hari-hari seolah berjalan terlalu lamban dan berat untuk dilewati. Setelah beberapa malam berlalu, barulah saya bisa menguasai diri dan mencoba mengakrabkan diri. Masuk dalam dunia Orang Rimba ternyata tidak semudah dalam teori antropologi yang saya pelajari di kampus, apalagi kerja di pendampingan Orang Rimba ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. Memang benar slogan kalau pengalaman bisa menjadi ‘guru’ yang baik bagi manusia, terbukti dengan semakin lama hidup di kelompok Orang Rimba dan mempelajari kebiasaan serta bahasa mereka, membuat saya semakin berani dan semakin hari semakin banyak kosa kata mereka yang terekam di kepala saya. Hingga tahun berganti dan saya masih menikmati bergaul dengan mereka di tahun 2003 ini. Kisah-kisah hidup berdampingan dengan mereka memiliki banyak warna. Pernah suatu kali kemarau datang dan lama berakhir, banyak Orang Rimba yang jatuh sakit. Batuk bersahut-sahutan, namun mereka berdahak semaunya, menyebabkan penularan penyakit pun berlangsung cepat, tak terkecuali anak-anak menjadi sasaran penularan. Orang Rimba memaknai sakit dengan agak berlebihan. Mereka selalu mengaitkan penyakit dengan orang meru (orang dusun, orang luar, atau orang terang dalam sebutan mereka) . Menurut kepercayaan Orang Rimba penyakit datang dari orang dusun yang umumnya terdiri dari Orang Melayu. Semakin intensif hubungan itu berlansung semakin besar kemungkinannya kena penyakit. Mencari Simpati Kelompok Orang Rimba dalam memperlakukan penderita sakit dengan memberikan pengecualian khusus, antar lain melepaskannya dari kewajiban berburu, memanjat pohon madu serta mendapatkan simpati dari anggota kelompoknya. Sebaliknya, aspek kepercayaan menyebabkan penderita harus tunduk pada pantangan sakit yang dianut kelompoknya (kelompok Orang Rimba). Orang Rimba mengenal beberapa pantangan makanan bagi yang sakit, orang sakit tidak baik makan cabai, garam, sayur-sayuran, babi, biawak, dan ular sawah. Sebaliknya makanan yang dianjurkan adalah beberapa jenis ikan seperti kepiul, palau, juor, ubi dan sesembung. Makanan ini memang sangat tinggi proteinnya. Kendati demikian pantangan ini tidak begitu ketat dilakukan.
Berbeda dengan rombong (baca=kelompok) Setapa, yaitu sekelompok Orang Rimba yang eksodus meninggalkan mereka. Orang yang ditinggalkan itu, terdiri dari tiga orang anak kecil, dua orang ibu, serta seorang bapak. Orang sakit ditakuti menularkan penyakitnya, Orang Rimba kerap menyelesaikannya dengan cara menghindar (bersesandingon atau bercinenggo) bahkan jalan orang yang dilalui orang sakit pun tidak dipakai Orang Rimba yang sehat, karena penyakit menurut Orang Rimba tertular melalui mambu (udara). Di kelompok Orang Rimba yang lain, wilayah Utara TNBD, seorang ibu dari balik pohon-pohon kecil batuk sejadi-jadinya hingga wajahnya merah dan matanya berair, ia mengeluarkan dahaknya sembarangan. Seorang ibu lainnya memberitahukan anggota rombongnya bahwa ada seorang mantri yang bisa mengobati mereka. Orang Rimba hampir tidak bisa membedakan antara mantri dengan dokter.
Perbandingan Komparatif Penyelidikan antropolog tentang sakit memberikan gambaran universal bahwa sakit merupakan sarana pelepasan dari tekanan yang tak tertahankan, membantu untuk menanggung kegagalan pribadi, untuk memperoleh perhatian. Masuk rumah sakit dapat dianggap sebagai liburan, sebagai kontrol sosial, dan juga alat untuk menghapus perasaan berdosa. Namun tentunya bagi Orang Rimba
hampir tidak mungkin hanya bertahan di dalam hutan selamanya, atau
mengisolasi diri dari Orang Terang, selalu ada alasan yang tidak bisa
ditolak untuk keluar ke dusun. Tiga dasawarsa yang lalu Orang Rimba
masih tercukupi kebutuhannya dari hasil-hasil hutan dan buah-buahan.
Merebaknya eksploitasi sejak adanya HPH dan mega proyek transmigrasi,
perkebunan serta perambahan hutan dan illegal loging yang dilakukan
banyak pihak, sangat drastis menguragi ruang dan ketersediaan
sumber-sumber penghidupan Orang Rimba. Orang Rimba menutupi beberapa
kebutuhan keseharianya dengan berbelanja ke dusun. Begitu juga dalam
memenuhi kebutuhan akan kesehatan. |
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |