Home > Action > Menjadi Aku yang Funky

  RAHMADIE

 
 

Menjadi Aku yang Funky
Oleh: Rahmadi Rahmad

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk kreatif-dinamis. Kesungguhan dan kerja keras adalah dua semangat yang membedakannya dalam meraih kesuksesan dan kemenangan hidup (Filsuf Yuk Nani & Ustad Sanusi)

****

Setiap hari, kita selalu melakukan komunikasi, mulai dengan diri sendiri hingga kepada sang Pencipta, Allah SWT. Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi.

David K. Berlo (Rakhmat, 2000:280) menulis: People can have similar meaning to the extent that they have had similar experiences, or can anticipate similar experiences (orang-orang memiliki makna yang sama bila mereka mempunyai pengalaman yang sama atau dapat mengantisipasi pengalaman yang sama). Karena itu, komunikasi (Latin communis artinya sama) bisa terjadi bila kita memiliki makna yang sama yang pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama.

 

 
 

Orang Medan dan Tukang Cendol
Seorang pemuda dari Medan yang baru pertama datang ke
Yogya pengen sekali minum es Dawet alias Cendol di dekat Stasiun Tugu

Pemuda : Mbak, aku beli cendolnya ya ............
Mbak : Sampun telas, Mas (=sudah habis)

Pemuda : Iya memang harus pake gelas mbak .......
Mbak : Cendole mboten wonten, Mas (=tidak ada)

Pemuda : Iya lah ....aku sukanya pake santen
Mbak : (Dengan nada kesal) Dasar sinting!!!

Pemuda : Bah .......dari mana kau tau namaku Ginting?!
Mbak : (Nada kesal) Dasar wong edan!!!

Pemuda : Bah ....benar 'kali tebakkannya, memang aku dari Medan
Mbak : (Nada marah) Dasar wong ora duwe otak ...!!!

Pemuda : Memang benar aku asli Batak
Mbak : Dasar tuli!!!

Pemuda : Iya mbak aku dari Tapanuli.
Mbak : Dasar budeg (=tuli)!!!

Pemuda : Selain cendol aku juga suka gudeg
Mbak : Dasar .....kurang kerjaan !!! ?@@@...

(Guyon-Yook@yahoogroups.com, Juli 2005)

****

 

Menyinggung komunikasi, ada hal mendasar ataupun tuntutan wajib yang harus dikuasai oleh Spesialis Komunikasi B30 ketika bergabung di KKI Warsi. Adalah keterampilan writing dan speaking. Sekilas, pekerjaan ini terlihat corat-coter wungkul (saja) dan seputar cuap-cuap belaka ha ha. Padahal lebih dari itu lhoo ho ho.

Menulis bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia bukan kerajinan tangan, melainkan koordinasi yang cermat atas pemikiran, perasaan, tangan dan rangsangan otak. Otak perlu dilatih dan diberi wawasan sebanyak-banyaknya. Dengan isi yang cukup, otak yang cemerlang akan melakukan tugas seleksi dan analisis. Oleh karena itu, untuk dapat menulis dengan baik dibutuhkan dukungan riset, bacaan, diskusi dan upaya yang memperluas wawasan (Kasali, 2000:162).

Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium, juga pohon-pohon, yang tak pernah kita tahu namanya, atau umurnya.

Aroma kayu, dingin batu, bau perdu, dan jamur-jamur –adakah mereka bernama, atau berumur? Manusia menamai mereka, seperti orangtua memanggil anak-anaknya, meskipun tetumbuhan itu lebih tua. Rafflesia arnoldi, memang tidak mekar di Central Park, melainkan di hutan tropis dataran tinggi Malaya, tetapi kita tahu laki-laki Inggris kemudian menjadi ayah bunga itu (Utami, 1998, Saman).

****

Begitu juga dengan speaking. Keterampilan ini butuh latihan continue dan disiplin. Menurut Roger Ailes - Ailes Communication yang bekerja untuk beberapa nama besar dalam bidang bisnis, hiburan, dan politik di Amerika Serikat- keterampilan komunikasi terutama speaking haruslah dipelajari dan dilatih. Sehingga berbagai pesan lisan yang akan disampaikan terlihat akurat, tegas, dan jelas.

Sebagaimana yang kita ketahui, Reagen memenangkan dua kali pemilihan presiden. Pada kali kedua, lawannya adalah tokoh bernama Walter Mondale (pernah menjadi duta besar Amerika untuk Jepang). Mondale berusia 53 tahun, sedangkan Reagen 73 tahun.

Pada debat yang pertama, Reagen tampil begitu buruk, sehingga para staffnya sempat resah. Mereka berencana memasok pengetahuan baru, melatihnya dengan berbagai taktik tentang bagaimana menjawab dan berbicara kepada lawannya. Untuk itu, mereka mengundang Roger Ailes.

Singkat cerita, ketika bersama Presiden secara pribadi, Roger Ailes berbincang tentang keterampilan komunikasi, dan bagaimana menyampaikan pesan-pesannya secara akurat, tegas, jelas, dan sederhana!

Selanjutnya, Roger Ailes bertanya kepada orang yang menyewanya, apakah mereka telah mempersiapkan Presiden menghadapi pertanyaan yang kemungkinan bakal muncul, misalnya tentang umur...

Dan betul-betul terjadi, ketika debat dilaksanakan, seorang wartawan mengangkat tangan dan bertanya, ”tuan Presiden, tidakkah Anda kira Anda terlampau tua untuk menjadi presiden, pada umur 73 tahun?”... dan para pendukungnyapun beringsut tenggelam ke dalam kursi mereka.... ”Oh, jangan...” membayangkan ”bencana” yang bakal melanda pak tua itu. Tapi Roger Ailes tetap tenang mengantisipasi, ”tak perlu khawatir.”

Sang Presiden, sembari menyebutkan bahwa dirinya masih sehat walafiat untuk menjabat paling kurang empat tahun lagi... memunculkan kata-kata yang sampai sekarang begitu terkenal: ”Saya tak ingin menjadikan umur sebagai isu kampanye kali ini. Demi tujuan politis, saya tak ingin mengeksploitasi kemudaan dan kurangnya pengalaman lawan saya. ”

”Wow,” betapa hebatnya jawaban itu! (Jadi kau kira aku terlalu tua untuk menjadi Presiden? ...Well, saya kira dia terlampau muda untuk menjadi Presiden). Semua orang senang. Pers menjadikan kutipan itu sebagai headline esok paginya! Bahkan Walter Mondale terlihat tersenyum ketika mendekat dan menyalami Reagen atas penampilannya itu. Tapi, jika dicermati mata mereka, tentulah mereka sedang berkata dalam hati, ”He bangsat... tak sudi aku bertemu kau lagi!” Akhirnya, Reagen memenangkan pemilihan untuk kedua kalinya.

So, jadilah diri kita sendiri saat berbicara dan menyampaikan pesan. Jangan mencoba seperti orang lain! Jangan mencoba bicara seperti Lee Kuan Yew, Margareth Thatcher, Bung Karno, Dr. Mahathir, atau Ronald Reagen sekalipun. Kita bukanlah mereka. Jadilah diri kita sendiri – tapi diri yang baik (Green, 2000: 15-19).

*****

Foto-foto: Dokumen WARSI


Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |