Home > Action > Witing TRESNO Jalaran soko KULINO

  LOSI BENING DANI

 

Witing TRESNO Jalaran soko KULINO
 (cinta bermula karena terbiasa) 

oleh : Losi, Bening, Dani **
Staff Kajian dan Pendampingan Orang Rimba

Ndalu menika...
Wengine krasa atis
Dinujes dugi kulit ari
Ananging ora angalangi
Lakune jaka kang anlateni
Sawijine wanodya putri
Nyoba nuwuhake wiji-wiji tresna
Kang maune ora ana
Kanthi lumakune laku lan wektu
Tan rinasa wis kulino
Engga andadekna rasa kapang
Yen ta nora ketemu
Rasa kang akhire dadi tresna....

malam nio ma terasa losi di badan
hingga masuk ke delom  kulit
tapi hopi menghalang-halangi
bejelonnye seko jenton nang ndok dekat dengan sorang betina
cubo tumbuhko raso ndok bekintangon
nang semulo piado detong di delom dirinye
besesamo dengan bejelonnye waktu
piado teraso sodah tabiaso
hinggonye idup  mendetongko raso keririnduon kalo piado botomu
raso nang ujungnye menjedi bekintangon samo keririnduon.

Cinta bermula karena terbiasa... Sebuah jargon yang begitu sederhana dan sangat nyata, karena kami bertiga memang sungguh mengalaminya.

Adalah sebuah kondisi yang harus dirasakan ketika harus bergumul dengan Masyarakat Semesta Belantara Rimba. Padahal, kami bertiga berlatar budaya Jawa yang -tentu saja- telah menghiasi  seluruh persendian darah ini. Kondisi yang menjadikan kami kaget budaya.

Serta bukan hanya masalah Jawa dan bukan Jawanya juga yang menjadikan kami terus berkaget ria. Namun, lebih dari itu. Seluruh ruang hidup yang menjadi rumah baru kami, semuanya benar-benar asing.

Kami harus merengkuh dan mencintai Jambi beserta rimbanya sepenuh hati. Di Jambi, lidah kami harus kreatif berinteraksi dengan pedas, santan, tempoyak atau ikan asin yang menjadi suguhan kuliner setiap hari.

Sedang di rimba -tak jarang- aroma tubuh eksotis harus kami hirup dan resapi maknanya, yang terus membuat pupil-pupil mata ini kerja ekstra untuk tak pernah rela terpejam sedetikpun. Cawot ‘sang lelaki’, rambut kemilau tebal penuh kutu, gigi-gigi kinclong warna coklat yang habis karena makan gula berlebihan, tato alami “kurap” yang terukir di kulit, serta payudara terbuka dan kain-kain kumal yang membalut serasi di tubuh para wanita membuat kami tak sungkan melewatkan tayangan ini. Ehm, tayangan sekilas info akan Orang Rimba.

Dan berbicara orang rimba, ada “Intercourse” paling menarik yang bisa kami jadikan moment of a life time. Ketika itu kami bertiga harus ke lapangan di daerah rimba Makekal. Dalam perjalanan yang hampir sampai di lokasi itu, tiba-tiba saja mobil Hiline dihadang Orang Rimba. Mereka begitu “buas” dalam pandangan pertama kami yang sudah pasti membuat keringat dingin ditubuh mengucur tak terasa. Dan tanpa ba bi bu be bo, mereka langsung berbicara dalam bahasa rimba.

Untung saja seorang pendamping senior yang mengerti bahasa rimba segera menenangkan mereka. Selanjutnya, ternyata, mereka langsung masuk ke Hiline bahkan salah seorangnya memaksa naik di atas mobil, meski sudah penuh barang bawaan dan tangan kirinya membawa kujur.

Gak taulah, gimana rasanya saat itu yang juga “harus” berbagi jock dengan mereka. Terpaksa, kami pindah ke kursi belakang tanpa harus berkata sedikitpun.

Kesunyianpun tercipta yang dibarengi dengan keluarnya aroma eksotis dari tubuh mereka yang tentu saja kami belum terbiasa menciumnya. Wajar, jika perut seperti diaduk-aduk dan ingin muntah rasanya. Kondisi ini diperparah dengan ditutupnya seluruh kaca mobil, sehingga prkatis kami harus menikmati aroma itu selama kurang lebih dua jam. CaCam....

Dalam Perjalanan itu, kami bertiga tak henti bersitatap. Ada senyum tanda tanya, kegelian, juga ekspresi jijik di wajah kami yang terus berputar di kepala kami.

Akhirnya, keheningan pecah ketika ketika salah seorang gayek (orang tua) ingin muntah dan mengeluarkan suara penuh lendir. Untung saja, sang pendamping senior segera memintanya segera keluar yang akhirnya gayek tersebut lebih memilih jalan kaki, ketimbang Hiline yang  memusingkan kepalanya. EEEEE bahelo pacottttt........ee kuagak nye lah kememuakon samo minyak...Kami pun menghela lega, ketika tidak harus lagi menghirup aroma muntah sang gayek.

Tetapi... puihhhh... aroma itu tetap melayang-layang di Hiline dan yah... lama kelamaan ternyata... tidak terlalu buruk juga. Memang semua itu hanya masalah terbiasa atau tidak, dan masalahnya kami belum terbiasa.....witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula karena terbiasa).

Yah, Rimba serta makhluk-makhluk di dalamnya sudah menjadi vena dari tubuh kami bertiga. Orang Rimba, sebuah komunitas budaya yang tak pernah tebayangkan sebelumnya, akan menjadi sahabat-sahabat baru kami. Mereka begitu kompleks, unik dan tak akan pernah terbaca. Sebuah misteri yang selalu gatal untuk digaruk dan dicicipi.

Witing tresno jalaran soko kulino, karena kami bagian hidup dan berinteraksi dengan mereka... yah... mau tidak mau... kami pun JATUH CINTA PADA MEREKA. Sebuah bagian menarik dari semesta rimba yang akan menjadi bagian dari semesta hidup kami.

**Lucia Dianawuri (Losi)
Lahir di Jakarta 23 Oktober 1981 dengan kedua orang tua asal Gunung Kidul. Seorang wanita pemimpi yang jatuh cinta mati-matian serta begitu terinspirasi pada “orang-orang gila” yang hidupnya berakhir tragis. Penikmat makanan instant, mulai dari jenis mie, sambel goreng, kopi, teh, sampai sayur-sayuran instant. Pengumpul buku yang selalu terobsesi membuat perpustakaan buku terlengkap seantero Asia Tenggara mengalahkan perpustakaan sekolah sihir Hogwards milik Prof. Dumbledore. Mimpi terbesarnya adalah berkeliling dunia dalam waktu seminggu dengan motor besar bersama seorang kawan yang akan menjadi navigator setianya.

Retnaningdyah Weningtyastuti (Bening)
Dibesarkan di Djogdjakarta, dengan keluarga yang sangat kental kultur Jawa. Sejak kecil tidak pernah lepas dari kegiatan seni tari yang membuatnya bermimpi untuk menjadi penari. Sangat mencintai dunia anak yang sering membuatnya nyaman dan penuh kegembiraan. Nang...ning...nong...neng...gung....irama gendhing dengan rima tenang penuh kemistisan yang selalu dirindukan dalam setiap detak aliran darahnya. Sebagai perempuan Jawa, ia menyukai kehidupan Jawa yang selalu penuh dengan hidup “prihatin”. Seorang pecinta sayur dan sangat anti dengan ayam, ikan, daging, dan sejenisnya. Tetapi bila kepepet bisa juga menjadi penikmat teri ketika di dalam rimba. Mimpinya yang ntah kapan akan terwujud adalah membuat rumah Jawa  mungil di pedesaaan dengan pendhopo yang selalu terbuka untuk anak-anak dalam berkesenian. 

Septi Dhanik Prastiwi (Dani)
Aku adalah anak desa. Lahir dan dibesarkan di pinggiran kota Gudeg, kota yang memberikan kenyamanan dalam hidup. Aku bangga dengan "kedesaanku", dengan hijaunya alam dan suasana adhem ayem. Semuanya itu menghidupkan kesadaranku untuk mencintai alam dan belajar untuk tenang menghadapi hidup. Suatu saat nanti aku ingin menjadi bagian lagi dalam kehidupan desaku, dengan sebuah pondok kecil di tengah hamparan sawah yang menghijau ditemani suara gemericik air sungai. Djogdja.... akan selalu menjadi tempat yang nyaman untuk kembali pulang.

Foto: Dok. WARSI



Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |