|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Witing TRESNO Jalaran soko
KULINO
oleh : Losi, Bening, Dani **
Ndalu menika...
malam nio ma terasa losi di badan
Adalah sebuah kondisi yang harus dirasakan ketika harus bergumul dengan Masyarakat Semesta Belantara Rimba. Padahal, kami bertiga berlatar budaya Jawa yang -tentu saja- telah menghiasi seluruh persendian darah ini. Kondisi yang menjadikan kami kaget budaya. Serta bukan hanya masalah Jawa dan bukan Jawanya juga yang menjadikan kami terus berkaget ria. Namun, lebih dari itu. Seluruh ruang hidup yang menjadi rumah baru kami, semuanya benar-benar asing. Kami harus merengkuh dan mencintai Jambi beserta rimbanya sepenuh hati. Di Jambi, lidah kami harus kreatif berinteraksi dengan pedas, santan, tempoyak atau ikan asin yang menjadi suguhan kuliner setiap hari. Sedang di rimba -tak jarang- aroma tubuh eksotis harus kami hirup dan resapi maknanya, yang terus membuat pupil-pupil mata ini kerja ekstra untuk tak pernah rela terpejam sedetikpun. Cawot ‘sang lelaki’, rambut kemilau tebal penuh kutu, gigi-gigi kinclong warna coklat yang habis karena makan gula berlebihan, tato alami “kurap” yang terukir di kulit, serta payudara terbuka dan kain-kain kumal yang membalut serasi di tubuh para wanita membuat kami tak sungkan melewatkan tayangan ini. Ehm, tayangan sekilas info akan Orang Rimba. Dan berbicara orang rimba, ada “Intercourse” paling menarik yang bisa kami jadikan moment of a life time. Ketika itu kami bertiga harus ke lapangan di daerah rimba Makekal. Dalam perjalanan yang hampir sampai di lokasi itu, tiba-tiba saja mobil Hiline dihadang Orang Rimba. Mereka begitu “buas” dalam pandangan pertama kami yang sudah pasti membuat keringat dingin ditubuh mengucur tak terasa. Dan tanpa ba bi bu be bo, mereka langsung berbicara dalam bahasa rimba. Untung saja seorang pendamping senior yang mengerti bahasa rimba segera menenangkan mereka. Selanjutnya, ternyata, mereka langsung masuk ke Hiline bahkan salah seorangnya memaksa naik di atas mobil, meski sudah penuh barang bawaan dan tangan kirinya membawa kujur. Gak taulah, gimana rasanya saat itu yang juga “harus” berbagi jock dengan mereka. Terpaksa, kami pindah ke kursi belakang tanpa harus berkata sedikitpun. Kesunyianpun tercipta yang dibarengi dengan keluarnya aroma eksotis dari tubuh mereka yang tentu saja kami belum terbiasa menciumnya. Wajar, jika perut seperti diaduk-aduk dan ingin muntah rasanya. Kondisi ini diperparah dengan ditutupnya seluruh kaca mobil, sehingga prkatis kami harus menikmati aroma itu selama kurang lebih dua jam. CaCam.... Dalam Perjalanan itu, kami bertiga tak henti bersitatap. Ada senyum tanda tanya, kegelian, juga ekspresi jijik di wajah kami yang terus berputar di kepala kami.
Tetapi... puihhhh... aroma itu tetap melayang-layang di Hiline dan yah... lama kelamaan ternyata... tidak terlalu buruk juga. Memang semua itu hanya masalah terbiasa atau tidak, dan masalahnya kami belum terbiasa.....witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula karena terbiasa). Yah, Rimba serta makhluk-makhluk di dalamnya sudah menjadi vena dari tubuh kami bertiga. Orang Rimba, sebuah komunitas budaya yang tak pernah tebayangkan sebelumnya, akan menjadi sahabat-sahabat baru kami. Mereka begitu kompleks, unik dan tak akan pernah terbaca. Sebuah misteri yang selalu gatal untuk digaruk dan dicicipi. Witing tresno jalaran soko kulino, karena kami bagian hidup dan berinteraksi dengan mereka... yah... mau tidak mau... kami pun JATUH CINTA PADA MEREKA. Sebuah bagian menarik dari semesta rimba yang akan menjadi bagian dari semesta hidup kami. **Lucia Dianawuri (Losi) Retnaningdyah Weningtyastuti
(Bening) Septi Dhanik Prastiwi (Dani) Foto: Dok. WARSI |
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |