Home > Action > Fasilitasi Kesehatan untuk Orang Rimba

  HERTI HERJATI

 

KEGIATAN FASILITASI KESEHATAN
UNTUK ORANG RIMBA

di Taman Nasional Bukit Duabelas
Oleh: dr. Herti Harjati (Staff Fasilitasi Kesehatan Orang Rimba)

Apa sih yang dilakukan fasilitasi kesehatan di lapangan? Tentu saja tidak jauh dari memberikan pelayanan pengobatan kepada mereka. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mendatangi satu-persatu kelompok mereka, tentu saja hal ini akan membuat satu kelompok hanya mendapat kunjungan setiap 2-3 bulan sekali. Kelompok Orang Rimba tersebar di seluruh bukit dua belas sehingga untuk menemui setiap kelompok harus berjalan kadang-kadang sampai setengah hari perjalanan. Mungkin hal ini pula yang membuat petugas kesehatan jarang mengunjungi dan mereka pun enggan untuk berobat ke fasilitas kesehatan yang ada, seperti Puskesmas.

Saat datang ke tempat mereka pada jarak tertentu kita harus bersasalungon yaitu berteriak memanggil sampai mereka memberikan ijin. Di komunitas Orang Rimba saya dipanggil lokoter (dokter) tapi sering pula saya dipanggil mentri (mantri), apakah artinya nama yang penting kedatangan saya selalu mereka sambut dengan berbagai rintihan yang menunjukkan betapa menderita mereka oleh penyakitnya. Kemampuan mereka dalam mengekspresikan rintihan sangat meyakinkan sehingga sering membuat orang terheran karena setelah selesai pengobatan mereka akan berjalan dengan kelincahan yang mengagumkan. Terlepas dari trend pengobatan yang beralih ke obat-obat tradisional saat ini masih diberikan obat-obat kimiawi untuk meringankan keluhan mereka. Walaupun demikian selalu dianjurkan untuk memakai obat-obat tradisional yang biasa mereka pakai. Sayangnya penggunaan obat tradisional rimba masih banyak  bukan dalam bentuk ramuan tetapi hanya ditempelkan saja serupa dengan koyo, sehingga efektifitasnya masih diragukan.


dr. Ati sedang memeriksa Orang Rimba yang sakit. (Foto: Robert A.)

Infeksi saluran nafas dan paru-paru, malaria,  infeksi jamur kulit, impetigo, kecacingan, diare dan masalah gigi berlubang adalah kasus-kasus yang lazim dihadapi. Hampir semua penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri mereka. Sehingga saat pengobatan harus selalu diberikan penyuluhan kesehatan walaupun belum tentu mereka lakukan, tetapi dengan seringnya diberitahu maka mungkin saja satu saat mereka akan melakukannya atas kemauan sendiri.  

Masalah infeksi saluran nafas diperberat lagi dengan  kebiasaan merokok yang telah dimulai dalam usia yang sangat dini dan dilakukan pula oleh wanita terutama yang berusia tua. Keluhan batuk berdarah atau Asma tidak sedikit dijumpai. Walaupun demikian saat disarankan untuk mengurangi atau menyetop kebiasaan merokok maka mereka akan berkata lebih baik mati saja daripada tidak merokok.

Beberapa pantangan seperti larangan untuk memakai sabun baik untuk mencuci pakaian atau untuk mandi di satu sisi menjamin tak terjadinya polusi sungai tetapi di lain pihak pada beberapa kelompok membuat infeksi Jamur sebagai masalah kesehatan utama yang mereka hadapi, misalnya pada kelompok Orang Rimba Kejasung. Tidak lantas disarankan untuk memakai sabun tetapi lebih disarankan untuk sering mncuci baju yang dipakainya dan menjemur sampai kering sebelum dipakai lagi. Juga disarankan pengobatan dini, untunglah samapai sejauh ini respon terhadap obat jamur Griseofulvin masih baik dan pada beberapa kelompok masih bisa ditangani dengan tanaman obat yang biasa terdapat di Bukit Dua belas. Untuk kesehatan gigi akan sukar ditemui Orang Rimba yang bergigi utuh, berkaitan dengan tak pernah dikenalnya menggosok gigi melalui media apapun. Kesukaran untuk membiasakan menggosok gigi terlebih karena sifat odol yang berbusa mereka anggap sama dengan sabun. Sehingga biasanya untuk mereka yang sakit gigi hanya diberi saran agar rajin berkumur sebahis makan.

Masalah kesehatan reproduksi masih merupakan hal yang sakral sehingga mereka tak mengijinkan orang luar untuk mencampurinya. Tetapi beberapa wanita mulai mau memeriksakan kehamilannya, dan saat mengalami kesukaran pengeluaran placenta beberapa kelompok telah punya keinginan meminta bantuan tenaga medis terdekat seperti bidan desa atau dokter Puskesmas.

Selain pantangan yang terlihat agak merugikan kebiasaan Orang Rimba untuk tak mencemari air sungai dengan segala polutan yang dihasilkan oleh manusia, mencegah kejadian diare yang berat. Kebiasaan untuk buang air besar menggali tanah sebaiknya dihormati dan diikuti oleh setiap mereka yang datang ke Bukit Dua belas. Kajian terhadap kebiasaan Orang Rimba dan kaitannya dengan kesehatan masih terus dilakukan selain untuk mengetahui apa kebutuhan mereka akan masalah kesehatan juga masih banyak yang dapat kita pelajari untuk menjaga sumber daya alam yang semakin hilang.

Bagaimanapun kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi semua orang termasuk di dalamnya Orang Rimba. Sehingga pemberian pelayanan kesehatan yang tulus sedikitnya akan bisa mengurangi penderitaaan mereka sebagai kelompok yang tersingkirkan bahkan di tanah mereka sendiri.  



Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |