|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Ahh. Andai gue masuk Warsi di era dunia persilatan. Mungkin, gue belajar ilmu meringankan tubuh dulu sama Wiro Sableng. Dengan kecepatan tinggi dan sekali kelebat bisa mencapai tempat yang jauh di Bukit 12. Tentunya, dengan jurus Badai Topan Melanda Samudra gue ajar mereka Baca Tulis Hitung he...he...he...
Surga jambi
akan kugenggam dan ku reguk kenikmatannya
Genggam aku
jangan di renggang ikatan-Mu Braakkk....drap-drap...dum-dum. Deru nafas dan degup jantungku kian terasa kacau balau. Meski hembusan angin selalu menerjang ”mesra” hidung mancungku ini. Ya maklum ajalah. Inikan pengalaman pertamaku menghisap udara rimba yang terlalu berharga untuk dihancurkan. Sedih, gembira, takut, juga bingung terus bernyanyi di batin ini. Akhh, emang gue pikirin. Nyantai, man! Gumamku dalam hati. So, daripada perang batin dan sedih hati tanpa ujung. Lebih baik gue nyanyi Welcome to the Jungle nya Guns n Roses aja. Habis masalah. Ya gak?
Kunjungan pertama ini sungguh memeras otakku. Soalnya, masih bingung, euy. Mau ngajar apa dan gimana caranya narik perhatian mereka. Tentunya, sesuai adat orang rimba, bok! Dan, hanya beberapa saat. Hal lucu pun mulai terasa. Ini terjadi ketika beberapa murid mulai berdatangan yaitu Bedingen, Ngeretek, Meranggai, dan Meluring. Anehnya, para toe murid bukannya datang nyamperi diriku (sebagai guru barunya yang ganteng, he he) tetapi malah manjat pohon. Wuih, gue kan bingung. Apa memang begini cara mengajarnya? Harus manjat pohon dulu baru belajar? Atau, memang belajarnya di atas pohon? Ah, konyol nian. Eh selidik punya selidik. Ternyata toe murid masih malu. Alias belum kenal dengan guru barunya. He he jadi malu, ah! Kema’i guding kalu kawana ndok balajo. Akeh bewo guru nang beheru, ”kata Ipoel. Hopi kawana orang beheru, bewo penyakit. Akeh hopi ndok kiun kreno kawana bewo penyakit. Do belakong bepak benyok nian hantu penyekitnye,” jawab Mluring. Waw, ternyata orang rimba sangat menyukai permainan memanjat pohon. Nah, yang bikin unik masak satu batang pohon kecil dinaiki 4 orang sambil duduk berjejer. Selanjutnya, mereka menaiki satu pohon seorang sambil mengamati kami yang berbincang dengan Rerayo (orang tua) di Kedundung Muda. Akhirnya, para orang tua berhasil membujuk mereka untuk ikut belajar. Nah, karena mereka rombong lama (telah diajar sebelumnya). So, tugas awal kami hanya memperlancar kata-kata yang masih sukar diucapkan. Contohnya gini (bila Anda juga ingin mencoba, boleh juga). Bepak nioma apo? Akeh hopi tokang ndok sobutnye (Bapak ini apa saya tidak bisa menyucapkannya). Nioma hurup nang betik di pakoi nangoi. Nio di sobut huruf F (Ini huruf yang sering dipakai oleh orang barat. Ini disebut huruf F). Mudahkan? ** Petualangan bulan kedua ternyata lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan. Rintangan mulai menghadang. Terutama saat Perjalanan menuju rombong Meladang di sungai Kejasung Besar. Medan yang sulit. Naik turun bukit. Ga ada sungai. Dan berjalan selama 11 jam. Wah, sangatlah menyiksa perasaanku. Sampai-sampai mau mati .... Eh, ga jadi deh (belum kawin coy). Saat itu, aku bareng Agustina, Ninuk, Sutardi, Sergi, dan Mulung (Kader guru dari orang rimba). Namun, Sutardi harus harus putar haluan menuju rombong lain. Aha. Perjalanan yang sangat melelahkan. Membuat otot-otot ku meregang tak terkira. Akhirnya, kami menginap di Panggaong dua malam. Esoknya, perjalanan dilanjutkan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan rombong yang meratop (menangis) sangat kencang. Juga belangun (perpindahan suatu rombong yang disebabkan kematian salah satu anggota rombong). Alamak, raungan mereka yang kencang itu masih terdengar dalam radius ratusan meter. Luar biasa!! Menggema, berpantul,
terngiang
Woiiiiiiiii.... Ternyata, di Aek Behan lebih asik. Kali ini muridnya lebih rame dan lebih bervariasi. Malah ada yang berusia 27 tahun. Alasan lainnya, intensitas interaksi yang terbentuk sangat tinggi. Sebab, lokasi rumah mereka yang jauh dari Sokola menyebabkan para murid tidur bareng dengan ku. Namun begitu, orang tua mereka tetap menjenguk. Bahkan nih, tak jarang membawakan makanan untuk semua yang lagi belajar. Seru kan! Dan, satu hal yang pasti. Pendidikan yang diberikan tidak berfokus pada anak-anak. Tetapi juga, remaja serta yang telah mempunyai anak (Rerayo). Kalau begitu, semua kan mudah. Sehingga pemberian materi BTH bisa dilakukan tiap hari. Dari pagi hingga malam, serta kapan pun di mana pun. Kondisi seperti ini, membuat mereka lebih cepat menyerap pendidikan dan semakin tumbuh cerdas. Terkadang, di sela-sela mengajar BABIBUBEBO atau 1+1 kuselingi dengan alunan lagu. Biar ga bosen, friend. Kan ini di hutan. Jadi so what gitu lhooooo...... Pokoke, semua materi BTH gue banget lah. Begini reaksi Nutul, salah satu muridku saat mengikuti pelajaran. ”Bepak nio ma apo, bendo yoya mampa ulo.” (Bapak ini apa seperti ular) ”Nio ma disobut hurup E., Kalu ndok sobut mulutnye harui di panjong ko depan. Bueknye pula mampak natong ulo ssss.........”jelasku ku (ini disebut huruf S, jika mau menyebut bibirnya harus maju ke depan, suaranya pula seperti suara ular ssss.......).
Chawwww..............met ketemu lagi dalam tulisan yang lebih
menyenangkan.. |
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |