|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Suka Duka
Sokola
Orang Rimba "Akeh
urang malong, baco hopi ado tokang, menuliy-hitung hopi ado tokang,
mancing hopi mendepot. Eee.. akeh hopi menjedi (Saya orang yang paling
malang: baca tidak pintar, menulis hitung tidak bisa, memancing tidak
pernah dapat, aku tidak akan menjadi orang pintar, red.)”,
tutur Melabatu dengan memelas. Seorang
anak rimba ini sadar akan ketertinggalannya di bidang pelajaran
dibanding yang lain. Teman-temannya kemudian menghibur, “tapi Batu
nang paling tokang main ebal (tapi, Batu paling pintar bermain sepak
bola, red)!”. Mendengar pujian itu sesungging senyum Batu
muncul, dan semangat belajarnya timbul lagi. Itulah sekelumit kejadian dari kegiatan sokola (kegiatan praktis baca-tulis-hitung) bersama Orang Rimba di dalam hutan di kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Duabelas. Kegiatan ini dilakukan di dalam kelompok Bepak Bepiun, komunitas Orang Rimba yang berlokasi di sisi barat TN Bukit Duabelas.Kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, dan dihadiri para bujang (lelaki), mulai bujang kecik hingga bujang tanggung (kurun usia 8 sampai 17 tahun). Ada Gentar, Linca, Temiyang, Melabatu, Lomago, Bepiun, Ejam, juga Berenoi, Pelesir, dan Besudu. Semua saling berlomba adu pandai, adu cepat. Yang belum pintar dan masih sering salah akan memuji yang pintar, tanpa segan minta diajari.Tidak ada rasa malu jika tidak tahu, atau rasa takut salah saat menjawab pertanyaan pendamping yang sekaligus instrukturnya. Semua serba unik. Inikah yang dinamakan pendidikan alternatif (kegiatan pembelajaran tanpa gedung sekolah, kelas dan guru, atau pelajaran seperti PMP, PPKN, agama dan sejenisnya? Juga tidak ada jadwal belajar, lama waktu belajar, hingga aturan-aturan khusus –sebagaimana aneka perarutan di sekolah-sekolah formal-- seperti sanksi bagi yang absen berkali-kali, tanpa baju seragam, serta menyiapkan barisan dan upacara rutin tiap pagi.
Sokola ini “dibuka” kapan saja dan boleh belajar (dan mempelajari) apa saja,jika bermanfaat. Tapi bukan berarti ia berlangsung tanpa ada “sistem” dan “aturan”. Orang Rimba sesungguhnya juga memiliki berbagai aturan normatif dan etika yang mereka junjung tinggi. Secara alami mereka hidup di dalam koridor itu, sehingga sekolah berjalan sangat demokratis dan juga progresif. Maksudnya, mereka bisa belajar sejak subuh hingga lewat tengah malam. Saat sang pendamping memulai pelajaran pukul 07.00 pagi, semua sudah rapi (mandi dan sarapan/makan pagi) dengan buku dan alat tulis sudah di tangan. Kalau tidak-tiba pendamping terlambat mereka juga protes dan harus minta maaf. Tidak ada yang akan membantah jika sokola “ditutup” pukul 23.00 --karena pendamping sudah tidak kuat menahan kantuk. Semua berlangsung lancar dan dalam suasana tanpa beban –bagai didorong sebuah kekuatan besar agar mereka terus belajar setiap hari-- sehingga menjadi kepuasan tersendiri bagi sang pendamping. Proses sokola bukan saja duduk sambil memelototi bahan pelajaran selama berjam-jam. Waktu sokola juga diselingi main bola, makan (siang dan malam), dan kadang-kadang sambil memancing ikan di sungai, atau juga mengambil buah, melihat jerat binatang di hutan, hingga turun ke desa untuk menonton pertandingan sepak bola atau panggung hiburan. Semuanya berjalan alami dan tanpa beban: harus duduk sambil melipat tangan di atas meja, gelisah menunggu bel istirahat atau pulang, dan juga pekerjaan rumah (pe-er) yang harus selesai.
Sokola
adalah proses memberi, menerima dan sama-sama memperkaya pengalaman.
Orang Rimba umumnya memiliki daya ingat yang tajam serta kemampuan
meniru yang luar biasa dibandingkan dengan orang dusun (mereka
menyebutnya Orang Terang). Ini ada korelasi --sama seperti orang buta
yang memiliki pendengaran tajam. Karena
itu selama mendampingi, ada improvisasi dan kejutan yang tidak diduga
dari mereka. Misalnya hapalan alfabet yang dapat dikuasai kurang dari
dua jam, meski ada satu dua huruf yang terlupa tapi tidak sulit untuk
mengulang Sejak
awal sokola ini tidak terjadi begitu saja. Perlu pola-pola pendekatan
yang panjang dan variatif sebelum masuk kedalamnya. Belum lagi
kendala-kendala dari pihak orang tua, macam-macam alasannya, melanggar
adat, merubah halom, tidak ada gunanya, biarpun bisa membaca akan tetap
dipelolo kanti (diakali orang luar), biar bisa baca tetap saja orang
Kubu (tetap primitif dan bodoh), sampai ada seorang indok (ibu) yang
mengancam akan bunuh diri kalau guru masih mengajar anaknya lagi. Ia
takut anaknya akan disekolahkan dan dibawa keluar lalu tak kembali lagi.
Ia baru menerima saat sang guru bersumpah kalau melanggar maka : ke
darat dimakon merego (harimau), ke
air dimakon kuya hayek (buaya), masuk hutan tetmpa kayu. Suka dukanya
menjadi warna-warni yang indah. Murid-murid itupun semakin dilarang
semakin penasaran, seperti apa sebenarnya pelajaran sokola itu. Dan
komentar mereka setelah belajar selama dua minggu adalah “orang-orang
tua nang lolo, mereka nang merubah halom, dulu hutan kami hopi hancur
mumpo nio, itu karena ulah mereka, asal depot sen, endok bae beteken”
(orang2 tua yang bodoh, mereka, mereka yang merubah alam, dulu hutan
kami tidak hancur seperti ini, itu karena ulah mereka, asla dapat uang,
mau saja tanda tangan). Sokola disini berjalan selama dua setengah bulan, kemudian bencana terjadi, tumenggung, orang berpangkat tertinggi dalam struktur sosial orang rimba meninggal, dan mereka harus melangun sejauh mungkin, kami ikut dalam perjalanan melangun berhari-hari menjalani hutan rimba dan menyebrang sungai. Tapi proses belajar itu tidak hilang juga, semua murid meminta sokola setiap hari dan sering minta tey (tes/ujian) untuk mengetahui kemajuan kepandaiannya. Sejak mampu menulis, mereka menuliskan pengalaman mereka setiap hari, berbagai aspek kehidupan di Rimba, hasil hutan, pantun, mantra, dongeng dan undang-undang Orang Rimba dituliskan. Hal ini kelak dapat didokumentasikan sebagai data paling lengkap dan akurat. Hal ini menjadi dokumentasi yang mempermudah mereka menurunkannya secara generatif. Dengan demikian dapat dikatakan mereka mulai mampu mengidentifikasikan dirinya ke dalam bentuk tulisan sehingga orang luar mudah menyelaminya. Demikian juga sebaliknya, diharapkan orang rimba mampu menyelami dunia luar sedikit banyak melalui tulisan.
Pepatah mengatakan buku itu jendela dunia. Itu berlaku untuk dunia melek
huruf. Yang lebih penting lagi, membaca adalah kunci jendelanya. Orang
yang tidak dapat baca-tulis-hitung sama seperti orang buntung kaki yang
ingin berkelana mengelilingi dunia. Atau sama seperti orang yang punya
mata tapi tidak dapat melihat. Bila banyak orang buta berkumpul, memang
satu sama lain tidak akan menyadari ada yang kurang dalam kehidupan
mereka… tapi saat orang luar mulai campur tangan mengusik nafas
kehidupan bukit Duabelas, Orang
Rimba terdesak ke suatu lingkaran yang mengecil dan mereka tidak berdaya,
bahkan tidak menyadari apa yang tengah dan akan terjadi pada mereka.
Orang Rimba harus disadarkan, bukan hanya itu, mereka juga butuh
kekuatan, mereka butuh pendidikan. Tujuan taktisnya ada 2. Pertama
sebagai alat identifikasi diri yaitu kebanggan dan kepercayaan diri
bahwa ia setara dengan orang luar dan akan mampu mengatasi orang yang
mencoba mengakalinya. Yang kedua, adalah kemampuan untuk membuktikannya. |
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |