|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
“Gundul
& Gak Perawan”Oleh Asep Ayat, S. Hut. Asisten Bidang Kehutanan Program Bukit 30 KKI Warsi
Hutan kita dah gak perawan lagi! Benarkah? He eh. Bener lho. Soalnya, saat gue observasi ke Desa Pemayungan di Kawasam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh tanggal 11-27 April ’05 kemarin. Nah, tuh hutan di sepanjang kawasan dah botak, Jack! Ya, sih. Ga banyak. Tapi keliling. He he he. Gak Percaya? Nih, gue ceritain. Di sisi kiri-kanan toe jalan. Banyak banget lho, pohon berdiameter lebih dari satu meter tergeletak tak berdaya. Alias terkapar. Plus bekas perladangan masyarakat seluas dua hingga empat hektar yang dibiarkan merana. Dan itu belum seberapa! Ada yang lebih mengenaskan. Masak, sejumlah tumpukan kayu gelondongan udah parkir di tepi jalan. Meranti, Kulim, Kempas, Sialang dan lainnya dah pada siap diangkut. Tapi, yang bikin gue heran. Kok, meski jalannya becek karena hujan. Tapi, Truck 100 PS ga pernah putus asa tuk ngerekrut toe kayu. Apa lagi kemaruk ya mereka. Atau .... Ehhmmmmmm, kali aja dijual ke toke-toke.
Akhirnya, Gue dan tim Forester lainnya tiba di Desa Pemayungan dengan kondisi mobil penuh lumpur dan tanah merah. Singkat cerita, kami nginap dan bersilaturahmi dengan berbagai tokoh desa ini sekitar tanggal 11 April malam. Yang jelas. Desa Pemayungan yang berada di pinggir hilir sungai Siumai memiliki ”Ranjau Pemayungan.” Bukan. Bukan karena ada Ranjau anti perang di desa ini. Tapi, karena kotoran kerbau-sapi berserakan dan bertaburan di sekitar desa ini. Hi hi hi. Bauuuuuuu! Eeh. Esoknya, setelah menetapkan tujuan. Ada empat titik yang harus gue observasi. Hulu Sungai Bulan, Areal TPTJ ex PT. IFA, Area Biotrop, dan HTI Trans. Tentunya, dengan memanfaatkan jasa guide lokal, Bang Fani. So, petualanganku dengan gerombolan si berat (maksudnya tim forester. Ehm Nugraha) dimulai. Auooooo.
Setelah dua hari mendekam di Hulu Sungai Bulian, perjalanan pun di lanjutkan kembali. Namun, sungguh hal kontras yang ku dapatkan. Ja, saat berada di TPTJ, areal ex PT. IFA. Tengok aja, bukannya kicauan burung yang terdengar di pagi hari. Tapi, chain show. Dan kata Bang Fani lagi. Biasanya, saat jelang siang banyak truck yang ke sini. Bahkan, jika cuacanya cerah mencapai 20 truck PS. Berikutnya. Dengan tenaga tersisa, ekspedisi jalan kaki dilanjutkan ke HTI Trans. Tepatnya, di lokasi HTI PT Winayamukti Wisesa. Wuiii. Gue panik! Deretan pepohonan tak terawat seakan membentengi perjalannan ku. Mulai dari Sengon, Gmelina, hingga Sungkai. Semua tampak nelangsa..
Tapi, setelah gue liat sendiri Areal Biotrop ini! Kok, letihnya serasa menjadi. Pokoknya, lebih letih dari kejaran singa. Emang pernah gitu? He he. Ups Hutannya habis total. Yang terlihat, berupa pepohonan bekas tebangan. Serta hasil reboisasi jenis Gmelina, Sengon, dan Akasia yang baru di tanam. O ya, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan bekas guess house dan gapura megah selamat datang. Dan kini, semuanya berubah jadi tempat uji nyali. Hu hu hu. Payah Ah. Gue bingung. Ternyata Hutan dah Gundul. Gak Perawan Lagi. Terbukti! Bukan kampanye, Bung! Ini Reality Show Hidup Hutanku! Dukung Konservasi, euy! |
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |