|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Manusia Biasa dan Pilihan Hidup Tuhan
yang Maha baik memberi kita rezeki, tetapi kita harus menjemput untuk
mendapatkannya. Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang insan yang penuh cita-cita karena lulus dari perguruan tinggi dan bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meninggi. Walaupun pada intinya, pekerjaan pada saat ini buatku adalah sebatas pengabdian, pencarian jati diri dan penambah pengalaman serta penerapan hidup secara ilmiah layaknya manusia normal. Ada dua persimpangan yang harus aku pilih untuk untuk melangkah lebih jauh ke depan demi sebuah kebahagiaan dan kedamaian. Dua pintu ajaib (Doraemon-Red) di persimpangan itu siap membawaku ke bagian lain bumi yakni Jambi atau Lampung, karena keduanya menawarkan sesuatu (pekerjaan, pengalaman dan petualangan) untuk hidupku yang masih penuh tanda tanya. Dengan segala pertimbangan dan renungan akhirnya aku memilih untuk ke Jambi yang tidak jauh dari kota asalku Lintau. Selamat tinggal Bogor yang telah menjadi kota keduaku termasuk semua yang pernah aku cintai serta cerita indah dan ngalor ngidulnya hidupku di sana. Jambi yang terletak ditengah-tengah Pulau Sumatera (GIS bo!) dengan tingkat illegal logging yang tinggi (data Citra Satelit) menjadi bagian hidupku sampai sekarang (Welcome to mylife-simple plan). Jambi yang mempunyai empat taman nasional dan yang terbukti sebagai daerah endemik malaria telah merubah pola fikirku untuk lebih dewasa, dan tetap survive hidup di alam. Sebagai seorang staf GIS dan Remote Sensing yang bertugas untuk memetakan TNBD dengan permasalahannya, aku juga harus mengenal kehidupan manusia yang berada dalam kawasan dan interaksinya terhadap alam lingkungan. Masa orientasi aku lewati di dalam Taman Nasional Bukit 12 untuk mengenal secara dekat kehidupan Orang Rimba (ditempatku lebih dikenal dengan orang kubu yang imagenya agak kurang baik) serta masyarakat melayu yang punya kebiasaan berladang diselingi masyarakat pendatang (warga trans) yang lebih ulet. Cerita yang tidak akan pernah lupa dalam hidupku adalah ketika harus berjalan tertatih-tatih dimalam hari yang gelap gulita sementara hujan plus suara binatang malam saling bersahutan, supaya sampai diperkampungan terdekat karena kebetulan kakiku sudah dijalari bisa kaki seribu (sedikit pakai majas metafora-red). Sedikit banyak ilmu yang kudapat berpengaruh untuk keselamatanku dan sekali lagi jangan panik. Begitu pentingnya teman dalam hidup memang terbukti dikala kita sedang berbahagia dan mengalami kesusahan, itu yang kurasakan malam tersebut. Sebenarnya hutan belantara merupakan sesuatu yang sudah akrab dengan diriku semenjak kecil, tapi tinggal dan tidur layaknya Orang Rimba adalah hal baru yang unik bagiku. Mereka begitu bersahabat dan menyatu dengan alam walaupun terkadang mereka terlalu berlebihan untuk mengungkapkan sesuatu yang menurut pandangan kita adalah biasa. Alam yang terkadang adalah tempat indah untuk menentramkan hati namun akan menjadi marah apabila dirusak tidak bisa dipisahkan dalam hidup Orang Rimba, mulai dari mereka lahir, tumbuh, berkembang, besar, berumah tangga sampai mereka kembali dikubur disana. Indahnya hidup dalam hutan yang jauh dari kebisingan seakan dapat menghilangkan beban hidup yang menghimpit, akan terasa merenduh jiwa tatkala terdengar tawa polos anak-anak rimba yang penuh ceria mengekspresikan diri. Mereka telah mengajarkan kepadaku bagaimana seharusnya bertahan hidup dan pentingnya arti kebersamaan. Gemericik air sungai, nyanyian Burung Murai Batu yang syahdu, derai tawa dan teriakan khas membahana menjadi satu menyapa jiwa ketika aku bercengkrama dengan mereka. Belajar bersama, makan seadanya serta rokok yang begitu nikmat diterangi nyala api unggun yang mulai redup menjadikan interaksi di malan hari pelengkap cerita hidup bersama Orang Rimba di Taman Nasional Bukit 12. Kearifan lokal masyarakat yang membuat hutan tetap lestari mereka terapkan untuk kehidupan sehari-hari walaupun harus menelan ludah menahan lapar. Hanya sebagian kecil kawasan yang dibuka yang digunakan untuk bercocok tanam dan berkebun atau sebagai pembatas supaya orang dusun tidak terus membuka kebun dan memojokkan kehidupan mereka. Sialang, Manau dan buah serta hasil hutan yang lainnya diambil hanya sebatas untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Tradisi berburu dalam budaya rimba yang hanya menggunakan alat sederhana, sehingga hasil buruan yang diperoleh hanya untuk keperluan sesaat. Tapi sampai kapankah itu akan bertahan? Sementara perubahan yang mengarah Shock Cultural telah menjarah ditengah-tengah mereka dan tuntutan perut ibarat lolongan Srigala kelaparan tiada henti-hentinya menusuk telinga. Akankah mereka masih mempertahankan kawasan Bukit 12 yang menjadi penyangga berbagai kehidupan Makhluk Hidup selain manusia..... entahlah!, konservasi untuk kepentingan bersama itu memang perlu. Semoga para penjegal kayu sadar ada kehidupan lain di dalam kawasan hutan yang akan terusik bila hutan diusik, semoga alam akan memberikan kesadaran dan hukuman yang setimpal buat mereka. Aku bukanlah individu yang idealis dengan teori hidup yang sudah tertulis mantap di kanvas putih, namun Orang Rimba sedikit banyak telah memberikan coretan warna di kanvas tersebut. Aku bukan pula manusia yang mengingkari janji-Nya bahwa kerusakan alam dan lingkungan akan terjadi karena ulah tangan manusia sebagai kafilah tetapi tidak berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Aku sadar dan semoga tetap sadar bahwa ilmu itu akan didapat dimana saja terutama dari alam sekitar kita bahkan dari anak kecil sekalipun. Semoga perjalananku ke Bukit 12 menjadi sepenggal cerita dan bagian pencarian ilmu dalam hidupku ..... I wish it. |
![]() Pilihan merupakan sesuatu yang harus kita tentukan untuk jalan yang terbaik bagi kehidupan dimasa yang akan datang. Pilihan bisa menjadi batu sandungan dalam melangkah bahkan kadangkala merupakan batu pijakan yang empuk untuk melompat lebih tinggi. Demikian pilihan hidupku sekarang (mudah-mudahan pilihan yang tepat dan terbaik) bergelut dengan lingkungan dan konservasi yang sering berhubung dengan Orang Rimba sebagai “pemilik” Taman Nasional Bukit 12 yang menurut sebagian orang adalah aneh dan menakutkan. Tapi bagaimanapun Orang Rimba dengan segala pernak-perniknya telah mewarnai hijaunya alam yang akan menjadikannya sebuah kisah klasik unik untuk kehidupanku dimasa yang akan datang..........................
Kita tak bisa mengubah masa lalu.... --o)o(o-- |
|||
|
|
||||
Copyright © WARSI 1999 - 2013. All Rights Reserved. | log in | |