Home > Action > Dari Sahut-sahutan Mbul-mbul Hingga Kelap-kelip Iyup-iyup

  AGUSTINA DJ

 

 
DARI SAHUT-SAHUTAN MBUL MBUL
HINGGA KELAP-KELIP IYUP IYUP
Oleh: Agustina D. Siahaan, S. Hut (Fasilitator Pendidikan Alternatif Orang Rimba)
 




Saya belajar dan bermain bersama  anak-anak rimba. (Foto: Oceu Aprista, Erna Anjarwati/Dok.WARSI dan Daniel Saragih)


Menulis huruf A berbaris panjang dari kiri ke kanan di antara garis-garis lurus dalam setiap helai buku tulis. Dilanjutkan dengan abjad B. Hal yang sama dilakukan pula pada huruf C, D, E, sampai Z. Beberapa kesalahan kerap terjadi. Ada kaki panjang pada huruf B dan huruf V yang sama persis dengan huruf U. Yang paling sering adalah kesulitan menulis huruf G, M, W dan X. Mereka terus saja mencoba untuk menulis lebih baik dan semakin benar. Aku coba menjelaskan perbedaan bentuk beberapa huruf yang hampir sama, C, G dan J; E dan F; M dan W; X dan Y. Ada beberapa huruf hampir mirip karena bentuk perutnya seperti B, D, dan P. Sepertinya tak jua lelah ketika buburungon (sejenis burung hantu) dan serangga malam mulai bernyanyi, ketika lampu-lampu kelap-kelip iyup iyup (kunang kunang rimba) mulai menyala terbang di sekitar sungai dan menghampiri genah kami.

Suara mbul mbul (siamang) jantan melengking nyaring disusul lengkingan sang betina menjadi satu alunan morning call yang sangat indah. Keesokan hari, selesai sarapan kami mulai dengan mengingat nama huruf-huruf tersebut. Namanya juga belajar, salah sebut dan lupa sering pula terjadi. Paling mudah diingat adalah huruf-huruf A, B dan C. Orang Rimba sudah sangat fasih menyebut dan mengenal bentuknya dari merek baterei ABC ukuran besar maupun kecil, yang digunakan untuk senter sebagai penerangan menyuluh (berburu) binatang yang akan dijadikan lauk seperi babi, kijang, kancil dan landak, ataupun radio tape bahkan walkman sehingga mereka bisa sering mendengar lagu-lagu dari kaset Melayu, Padang dan Dangdut. Semuanya mereka dapatkan dengan menjual uang di desa terdekat. Uang tersebut adalah hasil penjualan hasil hutan seperti rotan, jernang, binatang buruan (rusa, kijang) dan madu.

Ternyata tak sulit bagi sebagian besar mereka untuk mengingat bentuk dan nama huruf-huruf tersebut. Kegiatan menghapal menjadi hal yang sangat menyenangkan, sangat tidak membosankan dan merekapun sangat menikmatinya. Aku mencoba membantu menghapal setiap huruf dengan mengingat benda-benda di sekitar mereka. G bentuknya seperti belaloi gejoh (belalai gajah), bunyinya pun seperti menyebut awal kata binatang besar itu “G-joh”, S seperti ular melingkar, demikian juga bunyinya seperti ular mendesis, dan Y bentuknya seperti peci (ketapel). Beberapa anak sangat cepat menangkap materi ini, beberapa yang lain lebih lambat. Mereka pun saling membantu dan mengingatkan. Salah diulang lagi, sudah benarpun masih terus diulang membaca huruf-huruf A sampai Z. Mereka tak kunjung bosan mengulang dan mengulang sampai kelalatu-kelelatu menghampiri lampu-lampu demor dan akhirnya berjatuhan di gelogor tempat tidur kami ketika sayapnya termakan api demor. Kadang pada malam hari, aku dan anak-anak pergi menyuluh hewan-hewan air yang hidup di sekitar sungai. Dengan diterangi senter, kami menangkap ikan, kodok, dan kelembuoy (sejenis keong yang dapat dimakan), kadang kami akan langsung memakannya pada malam itu, kadang kami jadikan lauk keesokan paginya.

Dalam dua sampai tiga hari, sebagian besar anak Rimba sudah menguasai hampir seluruh huruf tersebut. Beberapa yang masih sulit diingat adalah lima huruf terakhir yaitu V, W, X, Y, Z. Sambil belajar menghapalnya, pelajaran dilanjutkan dengan mengeja. Inipun menjadi hal yang menarik. Menyebut BABIBUBE, CACICUCECO, SASISUSESO sampai ZAZIZUZEZO. Pengenalan huruf memang dimulai dengan huruf kapital (huruf besar). Karena nantinya akan mudah bagi mereka ketika sudah bisa membaca mau tidak mau harus juga mempelajari huruf kecil. Belajar mengejapun menjadi sangat menarik. Beberapa kali anak-anak langsung menebak sembarang kata-kata yang pengejaannya benar K-A-Y-U menjadi UBI KAYU, dan kamipun tertawa bersama.

Pengiday, Besiga, Berayat, Mangkur, Bejamban, dan Nelikat adalah anak-anak laki-laki berusia 6 sampai 10 tahun yang begitu antusiasnya belajar membaca. Mereka semua adalah anak-anak Rimba yang berada di sekitar sungai Aek Behan di Taman Nasional Bukit 12. Bersama anak-anak, belajar, makan, bermain bahkan tidur aku lakukan di rumah sokola yang dibangun dari kayu-kayu yang disambung dengan tali rotan beralaskan kulit-kulit kayu Meranti. Setelah sekitar 2 minggu lamanya bila saatnya Sokola Rimba usai, anak-anak akan pulang ke rumah orangtua mereka, dan aku harus kembali ke kota Jambi. Selain di Sungai Aek Behan, lokasi-lokasi lain dimana aku membagi waktu selama satu tahun ini adalah Kejasung Besar hulu dan hilir, Kedundung Mudo, dan Makekal Hulu (Pengelaworon Godong dan Belukar Mestan).

Anak-anak belajar pula bersama beberapa pemuda Rimba yang cukup dewasa, bahkan ada pula yang sudah menikah. Beda halnya dengan anak-anak, pemuda Rimba seperti Pemilang dan Sedeh akan kembali ke rumah mereka jika matahari mulai tenggelam atau mereka harus bekerja berburu dan mengumpulkan hasil hutan lainnya untuk uang yang akan mereka jual ke desa dan hasilnya mereka belanjakan beberapa kebutuhan sehari-hari seperti gula, minyak tanah, rokok, batu baterei, parang dan beberapa peralatan dapur seperti periuk, piring dan kuali.

Suatu hari kegiatan belajar kami hentikan, ketika beberapa perempuan rimba memanggil dari kejauhan (besesalung). Kedengarannya ada rusa betina terkena jerat yang dipasang suaminya. Kamipun bergegas menuju lokasi rusa yang kena jerat tesebut. Sepertinya siang ini kita akan makan enak yaitu lauk segar. Sangat menyenangkan ketika Orang Rimba dapat hewan buruan sehingga kami tidak selalu makan dengan lauk ikan teri, kacang, sarden dan mie instan. Sampai di tepi sungai Meranti Gomuk, yang ternyata cukup jauh dan memakan waktu setengah jam, kami melihat rusa betina tersebut. Ternyata bukan terkena jerat tapi terkena tembakan kecepek (senapan). Karena cukup besar dan beratnya hampir 120 kg, sangat kesulitan untuk mendukungnya dan membawa pulang. Para perempuanpun membaginya di tempat tersebut. Anak-anak sekolah mendapat bagian daging paha rusa sekitar 4 kg. Kami membawanya pulang dan mengolahnya.

Selama satu tahun ini sejak September 2003, aku sangat menikmati jadi pendidik alternatif bagi Orang Rimba, suku asli (indigenous people) hutan Bukit 12. Mengajarkan mereka kemampuan membaca, menulis dan berhitung. “Kamia, ndok menjedi Orang Rimba melawon. Pi ado orang meheru depot pelolo kami lagi” (Kami ingin jadi Orang Rimba yang hebat. Tidak ada lagi orang dusun membodohi/menipu kami). Hal itu menjadi harapan setiap Orang Rimba yang mau anak-anaknya terus belajar. Bahkan ada Tumenggung Meladang di Kejasung Besar hulu akan membaluri anak-anaknya dengan daun jelatang (daun kayu Jelatang, bila terkena kulit akan sangat gatal selama seminggu dan akan semakin gatal bila tubuh terkena air) apabila absen belajar semenitpun.

Lima tahun yang lalu introduksi pendidikan ke dalam satu kelompok Orang Rimba adalah hal yang sangat sulit. Diperlukan pendekatan yang memakan waktu tidak sebentar. Dari belajar sembunyi-sembunyi sampai akhirnya mereka menyadari pentingnya bisa membaca, menulis dan berhitung. Saat ini, bahkan beberapa kelompok mulai menawarkan diri untuk diajar. Bahkan di rombong Tumenggung Meladang, para rerayo (orang tua) mengizinkan anak-anak perempuan mereka untuk belajar. Untuk pertama kalinya pula dalam satu rombong, murid-murid perempuan jumlahnya lebih banyak dari laki-laki. Mbayang, Ngarong, Betelau, Ngalau, Nyaut dan Betimbo kelak akan menjadi gadis Rimba yang bisa membaca, menulis dan berhitung. Saat ini mereka sudah mulai bisa membaca dengan mengeja kata-kata sederhana. Namun begitu beberapa rombong di wilayah Kejasung Kecil yang belum menerima masuknya pendidikan masih menjadi PR yang akan coba terus dikerjakan.

Hidup bersama Orang Rimba dalam hutan Bukit 12, bukan hanya mengajarkan mereka baca tulis hitung. Akulah yang lebih banyak menjadi murid bagi Orang Rimba. Mereka mengajarkan budaya Rimba, cara hidup, bahasa Rimba, hutan dan ekosistem yang ada di dalamnya. Setiap hari, kosa kata bahasa Rimbaku bertambah. Orang Rimba terutama anak-anak memberiku pengalaman hebat mengajarkanku banyak hal yang baru dan sangat berharga. Orang Rimba dan hutan merupakan satu kesatuan ekologi dan ekosistem yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Mbul mbul bersahut-sahutan nyaring di pagi hari, sesalungon perempuan Rimba, burung rangkong berkelompok mengepakkan sayap-sayap hitamnya, gemericik air sungai mengalir, hembusan angin menyentuh setiap dedaunan, dan tawa renyah anak-anak Rimba hingga kelap-kelip iyup iyup menerangi sudut-sudut rimba di malam hari menjadi satu rangkaian kehidupan di dalam Taman Nasional Bukit 12.



Copyright © WARSI 1999 - 2013.  All Rights Reserved. | log in |