|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Kebakaran Hutan! |
||
|
Salah satu persoalan lingkungan yang muncul hampir setiap tahun di Indonesia terutama pasca tahun 2000 yaitu kebakaran hutan, baik itu di hutan Sumatera, Kalimantan, maupun di pulau lainnya. Semula kebakaran hutan dan lahan ini hanya terjadi dalam musim kering yang berkepanjangan saja (tahun 1982, 1987, 1991, 1994, dan 1997/1998). Dimana kekeringan ini dihubungkan dengan gejala alam elnino. Namun kenyataan menunjukan gejala alam elnino sudah meluruh dan menuju normal, kebakaran hutan tetap terjadi. Hal itu terlihat di tahun 2003 ini (sebagaimana yang diinformasikan media massa nasional). Bahkan terulang lagi pada tahun ini!
Sementara itu di Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Barat (Kalbar), berdasarkan pemberitaan Kompas 10 Juni 2003 NOAA mencatat ada 80 titik api, dengan rincian di Kabupaten Pontianak 27 titik, Ketapang 14 titik, Sambas13 titik, Bengkayang 10 titik, dan puluhan titik api lainnya tersebar di Kabupaten Sintang, Sanggau, dan Kapuas Hulu. Diperkirakan Juli-Agustus 2003 jumlah titik api ini akan semakin banyak. Dari penyebaran titik api yang muncul di Kalbar ini, terkonklusi 12 titik berada dalam areal HPH dan HTI (Hutan Tanaman Industri), sedangkan 68 titik api berada di luar kawasan hutan. Selanjutnya di Kalimantan Timur (Kaltim) terdapat 8 titik. Akibat yang pasti timbul dari kebakaran hutan ini yaitu kabut asap. Mulai dari kabut asap yang tipis sampai pada kabut yang membuat gelap satu kota, yang bahkan dalam jarak tertentu suatu benda tak bisa lagi terdeteksi. Tak jarang media massa pun melansir berita adanya pesawat yang sulit mendarat di suatu provinsi, atau dalam jarak pandang 500 meter telah membahayakan penerbangan akibat kabut asap. Disebabkan kabut asap juga tingkat kecelakaan kendaraan bermotor naik. Di Riau jarak pandang di pagi hari berdasarkan pemberitaan media massa 14 Juni 2003, hanya sejauh 150-200 meter. Dalam waktu bersamaan pula berbagai penyakit menghinggapi masyarakat, salah satunya ISPA (infeksi saluran pernafasan atas). Sebulan terakhir di Kabupaten Pontianak-Kalbar saja sudah tercatat 7.000 orang terkena ISPA, belum lagi penyakit diare yang menyerang 662 orang atau rata-rata 20 orang perhari di Pontianak. Sementara di Riau ada 220 warganya yang terkena ISPA. Penyakit ini menyerang tak kenal usia, dan usia kanak-kanak sangat rentan terkena ISPA. Jika dalam usia dini mereka telah terserang ISPA, bisa diprediksikan kondisi paru-paru generasi penerus bangsa ini akan memburuk di usia dewasa nantinya. Pihak yang sangat disorot media massa (seperti yang dikupas Kompas 10 Juni 2003) sebagai pelaku pembakaran hutan ini tak lain perusahaan dan masyarakat. Sementara oknum pemerintah ditunjuk sebagai pihak yang tak serius dalam menanganinya dan bahkan ikut bermain. Alasan perusahaan membakar hutan untuk menyiapkan areal perkebunan kelapa sawit berhektar-hektar. Sementara alasan masyarakat yaitu untuk menyiapkan areal pertanian.
Selanjutnya, di lain sisi ditemukan kebakaran hutan yang tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Misalnya memberikan izin atau bekerjasama dengan kontraktor untuk berbuat curang dalam kegiatan reboisasi. Pola yang dipakai yaitu pohon yang ditanam dalam reboisasi usianya dipilih lebih muda dari yang disyaratkan, yang berarti harganya lebih murah serta jarak penanaman pohon juga renggang. Kecurangan ini akan sulit terlacak jika areal tersebut telah terbakar. Tak jarang jika telah terjadi kebakaran hutan ini antara pemerintah di daerah saling lempar tanggung-jawab. Pemerintah daerah menyalahkan pembakar lahan, pembakar lahan menyalahkan pengelola hutan, pengelola hutan menyalahkan balik masyarakat atau instansi tertentu, begitu seterusnya berputar setiap tahun. Karena itu poling kami kali ini ingin mengajak pengunjung untuk berpartisipasi dengan memberikan pilihan pada pertanyaan di bawah ini.
[Photos © by Alain Compost] |
||
|
Nyatakan pendapat anda sekarang...! |
||
|
|
||
| Copyright © WARSI 1999 - 2007. All Rights Reserved. |