|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Mata Hati |
||
|
Dusun Tuo Datai
Hari Ini Oleh: Rahmadie* |
|
|
|
Ya, beginilah kehidupan kami. Mengandalkan berladang. Biasanya yang ditanam itu manggalo (ubi kayu), padi, dan karet. Bila menanam padi maka panennya enam bulan sekali. ”Karena itu, bila tidak ada padi ubi pun jadi,” jelas pak Peheng sambil menyeka keringatnya. Bahkan, lanjutnya, bila terpaksa sekali, kami makan sagu. Itu pun dengan susah payah menjadikannya Lempeng. Begitu juga dengan jernang. Kini, untuk mendapatkannya sangatlah sulit. Dulu, biasanya kami pergi hingga sepuluh hari. Lokasinya di sekitar anak sungai Gansal. Ya tergantung rezeki lah. Kadang dapat dan kadang pun tidak. Kalaupun dapat hingga 2 kg itu sudah sangat baik. ”Tapi, kini tiada lagi” tambahnya. Dan, kisah sedih yang sama juga akan kami alami bila bercerita tentang madu. Sudah empat tahun ini madu yang biasanya ada di pohon Sialang tak kunjung tiba. Sekarang, kami bikin kebun dengan menumbang sendiri. Peralatannya pun sederhana. Parang, kapak ataupun beliung. Bisa jadi, untuk menumbangkan satu pohon butuh satu hari. Sehingga, untuk membuka lahan satu hektar saja akan menyita waktu hingga tiga bulan. Itu juga belum selesai. Selanjutnya, kami harus menugal padi atau membakar lahan selama satu setengah bulan. Baru seminggu kemudian, ditanami padi enam bulanan. ”Begitulah cara berkebun kami” lanjut pak Peheng. Dan jangan pula bertanya akan harga kebutuhan pokok. Di sini dua kali lipat harganya. Untuk beras saja sekitar lima ribuan dan gula pasir mencapai sepuluh ribuan. Sedangkan sebungkus garam dapur dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Yang pasti, sekarang ini pun barang tidak ada yang masuk. Jadi kami harus belanja ke Siberida atau Keritang, dua tempat terdekat dari desa kami, ”tutur bapak dua anak yang sekilas mirip orang jawa ini. 0000
Suku Talang Mamak sendiri tersebar di empat kecamatan yaitu Batang Gansal, Cenaku, Kelayang dan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Sedangkat satu kelompok berada di Dusun Semarantihan Desa Suo-suo Kecamatan Sumai Kabupaten Tebo Jambi. Untuk menuju Dusun Tuo Datai Talang Mamak yang terletak di Hulu Sungai Gansal dan Sungai Melenai Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu di Wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh dapat diakses jalan Darat. Yaitu melalui Siberida (Pekanbaru-Siberida 285 km) dengan menggunakan Mobil untuk menuju jalan bekas HPH. Atau juga melalui Simpang Pendowo sekitar 2,5 km dari desa Keritang, desa yang terletak di Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Rute sejauh 22 km dari Simpang Pendowo hingga memasuki perbatasan wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) atau juga yang lebih dikenal Jalan Dalex ini, sebaiknya dilakukan dengan sepeda motor ”lelaki” atau mobil bergardan dua. Selanjutnya, jarak tempuh dari jalan Dalex ke Dusun Tuo Datai sekitar 6 hingga 8 km hanya bisa dilewati jalan kaki. Meski tidak begitu jauh, namun jangan berharap akan segera sampai. Karena, medan yang diarungi harus ”mendaki gunung melewati lembah sungai mengalir indah.” Jadi, diperlukan stamina jreng untuk menempuh 1 hingga 3 jam perjalanan. Biasanya pada hari tertentu, Suku Talang Mamak akan turun ke desa terdekat, Keritang atau Siberida. Tujuannya menjual hasil kebun atau hasil hutan yang mereka peroleh untuk dibelikan kebutuhan hidup. ”Tapi, sekarang kami sudah jarang turun. Hasil hutan sudah berkurang. Yang kami andalkan untuk keseharian hidup hanyalah hasil kebun,” jelas Pak Katak atau pak Sidam yang juga menjabat Ketua RT Dusun Tuo Datai. Saat ini, total penduduk Talang Mamak dari Lubuk Tebrau hingga Melenai berjumlah 265 jiwa. Lima puluh persen jiwa diantaranya, sudah dapat menggunakan suaranya pada pemilihan Presiden dan pemilihan Bupati kemarin. Sedangkan jumlah KK yang ada di Dusun Tuo Datai sekitar 30 KK dengan jumlah 130 jiwa, yang sebagian besar masih animisme dan sisanya memeluk katolik. Secara keseluruhan, mata pencarian mereka adalah berladang, menyadap karet, dan mengambil hasil hutan nonkayu. Di samping berburu atau juga menangkap ikan. Namun, kini Dusun Datai tampak sepi dan banyak rumah yang tidak terawat lagi. ”Sekarang banyak yang meninggalkan rumahnya, bisa jadi mereka sedang membuka kebun baru atau juga pergi mencari Jernang, ” lanjut Pak Katak tentang kondisi penduduknya. Untuk urusan budaya, Masyarakat Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh sedikit berbeda dengan Tigabalai-Pusat kebudayaan Talang Mamak. Ini terlihat dari tidak adanya tradisi mengilir dan menyembah raja, serta lunturnya sistem kebatinan. Umumnya, mereka hidup otonom dalam beraktifitas sehingga berbagai persoalan yang ada akan diserahkan kepada kepala desa. Namun begitu, mereka masih kental dengan tradisi adat. Sebut saja Gawai (Pesta Pernikahan), Kemantan (Pengobatan Penyakit), Tambat Kubur (Acara 100 hari kematian), serta Khitanan untuk anak lelaki berumur 12 tahun ke atas yang dianggap mendekati usia dewasa. Begitu juga dengan rumah yang masih berbentuk panggung, sebagai ciri khas mereka, misalnya. Bangunan kayu tanpa ruangan khusus serta sekat pembatas -mulai dari dapur hingga ruang tidur- sehingga, segala barang tergeletak menjadi satu masih kokoh berdiri. Meskipun mereka hidup secara tradisional, namun untuk masalah pengobatan bisa diandalkan juga. Hasil Ekspedisi Biota Medika (1998) menunjukkan Suku Talang Mamak mampu memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan mengenali 22 jenis cendawan obat. 0000
Mengenai keberadaan Masyarakat tradisional Talang Mamak Dusun Tuo Datai di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, menurut Ir. Moh. Haryono, M.Si, selaku kepala Balai TNBT, mereka sudah ada sejak dahulu dibandingkan keberadaan TNBT. Di samping itu, sebagian besar mereka sudah mengetahui dan mengerti untuk melestarikan kawasan Taman Nasional ini. Sedangkan pola perladangan Talang Mamak yang beringsut artinya bergeser dari tempat semula sedikit demi sedikit, maka Haryono menjelaskan bahwa pihak Balai telah melakukan penyuluhan agar mereka tidak melakukan penebangan di luar wilayahnya. Pemda pun pernah merelokasikan mereka, namun tidak berhasil. Jelasnya, masyarakat tradisional Talang Mamak merupakan bagian dari sistem pengelolaan TNBT sehingga tidak bisa dikeluarkan. Dan, sesuai penataan kawasan secara zonasi, maka masyarakat Talang Mamak termasuk dalam Zona Rimba yaitu wilayah yang dikhususkan untuk masyarakat tradisional saja (Talang Mamak, Orang Rimba, dan Melayu Tua). Disamping adanya Zona pendidikan dan penelitian serta Zona pemanfaatan insentif. Yang pasti, masyarakat tradisional Talang Mamak Dusun Tuo Datai merupakan salah satu masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya secara tradisional dari hasil hutan. Sepintas, mereka terlihat masyarakat umumnya karena memakai pakaian dan wajahnya serupa orang jawa. Namun begitu, bukan tanpa alasan bila mereka memilih cara dan jalan hidupnya sendiri ketika teknologi menghiasi era globalisasi. **
*Rahmadie: Spesialis Komunikasi B30 KKI Warsi. <madie@warsi.or.id>
|
||
|
Copyright © WARSI 1999 - 2007. All Rights Reserved. |
||