|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
Mata Hati |
||
|
Komunitas Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, masih sangat kental dengan beragam upacara adat. Mulai dari melahirkan dengan bantuan dukun bayi, timbang bayi, sunat, upacara perkawinan (gawai), berobat berdukun, beranggul (tradisi menghibur orang yang kemalangan) dan upacara batambak (menghormati roh yang meninggal dan memperbaiki kuburannya untuk peningkatan status sosial). Semua upacara adat ini dilakukan dengan ritual-ritual khusus yang sangat menarik untuk disimak. Seperti minggu (27/1), berlangsung ritual pernikahan di komunitas Talang Mamak di Dusun Siamang Rantau Langsat Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Untuk mencapai dusun ini, saya dan empat orang teman (KKI-Warsi) menempuh jalan darat selama 9 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 385 km untuk mencapai Dusun Lemang—dusun terdekat dengan Dusun Siamang Rantau Langsat—yang bisa diakses dengan mobil. Pukul 18.00 kami sampai di rumah Pak Mardius di Dusun Lemang —orang yang biasa dipecaya sebagai penghubung ke Komunitas Talang Mamak lainnya--. Pak Mardius yang baru saja menyambut kelahiran puteri pertamanya itu sangat senang menyambut kehadiran kami. Ini adalah kali pertama saya bertandang ke rumah Pak Mardius. Saya mengamat-amati keadaan rumahnya. Inilah rumah tempat saya menginap selama beberapa hari di sini. Dalam hati saya kagum pada sosok Pak Mardius. Pria pemilik tubuh yang tak terlalu tinggi ini adalah sosok Orang Talang Mamak yang telah mengenal peradaban desa. Sosok sederhananya tak membuat saya canggung. Di rumahnya ini beliau membuka warung, beliau menjual banyak barang-barang keperluan sehari-hari. Saya dan teman-teman menyebut warung Pak Mardius sudah seperti Toserba, semua barang kebutuhan mudah didapatkan disini, mulai dari permen, sabun, ikan teri, sampai handbody tersedia. Pak Mardius sosok pria yang disegani warga dusun dan juga banyak berhubungan dengan orang luar dan menyaji tempat singgah orang luar yang akan berkunjung ke komunitas Talang Mamak ataupun yang akan menikmati eko wisata Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Poster-poster yang terpajang di ruang keluarga Pak Mardius memberi gambaran kalau rumah ini sering disinggahi orang luar. Semua poster menceritakan betapa pentingnya pelestarian alam. Selain itu, didinding depan rumah pak Mardius tertulis Teravel Mardius—mungkin maksudnya Travel Mardius--. Tapi jangan dipikir Pak Mardius punya usaha travel, tapi yang dimaksud beliau dengan teravel ini adalah penyediaan jasa sebagai guide bagi orang yang ingin masuk ke TNBT. Ya, saya jadi ingat beberapa tahun lalu saya dan teman-teman dari Mapala pernah mengunjungi Dusun Datai dan saat itu Pak Mardiuslah yang mengantarkan kami sampai ke Dusun Datai. Malam itu kami menginap di rumah Par Mardius, meski belum dialiri listrik dari PLN, tapi masyarakat Dusun ini yang merupakan suku asli Talang Mamak sudah mengenal genset. Tidak hanya untuk penerangan, genset juga berfungsi untuk menyalakan televisi yang hanya mereka nikmati pada malam hari. “Solar mahal dan belinya jauh, harus ke Granit (kira-kira 75 km dari Dusun Lamang, red) dulu. Jadi supaya hemat genset hanya dihidupkan malam hari.” Ungkap Pak Mardius. Malam itu kami lewatkan dengan menikmati jamuan makan malam yang disediakan Pak Mardius. Meski sederhana, namun terasa sangat nikmat, ya... kami makan sampai menambah beberapa kali. Pak Mardius berjanji pada kami bahwa beliau akan mengantar kami ke Dusun ke rumah Pak Marina, tempat berlangsungnya pesta pernikahan. Keesokan paginya, suara kokok ayam jago membangunkan kami. Sungguh udara pagi disini sangat segar, jauh berbeda dengan udara kota yang sudah tercemar asap kendaraan. Aktifitas pagi itu diawali dengan kegiatan mandi dan mencuci di Sungai Gangsal—sungai yang biasa dimanfaatkan masyarakat Dusun Lemang untuk aktifitas MCK--. Saya pun sama seperti orang dusun lainnya mandi dan mencuci di sungai yang jernih dan boleh dibilang dangkal itu. Sesekali terlihat ikan dan udang kecil yang berenang-renang dan sesekali pula saya melihat beberapa warga melintasi sungai dengan rakit. Jadi, jangan samakan mandi di sungai dengan di kamar mandi dirumah sendiri—sexy--, mandinya harus memakai kain basahan, supaya kalau ada yang melintas tidak terlalu tertarik untuk melihat siapa yang lagi mandi. Hari itu adalah hari Sabtu (26/01/08). Hari pasar di Sebrida dan hampir semua warga Dusun Lemang keluar dusun untuk berbelanja. Begitu juga dengan Pak Mardius, beliau minta izin kepada kami untuk keluar sebentar. Sembari menunggu Pak Mardius kembali dari pasar, kami berkeliling dusun. Pagi itu suasana dusun sangat sepi. Hampir dikatakan tak ada aktivitas. Hanya beberapa ibu-ibu saja yang berada di rumah, selebihnya pergi ke pasar. Saya mengamat-amati keadaan dusun ini. Ada banyak pohon pinang dan hampir disetiap rumah, di depannya terhampar buah pinang yang telah di belah dua. Saya menghampiri seorang ibu yang sedang menjemur buah pinang. Dari ibu itu saya tahu bahwa banyak perempuan Dusun Lemang yang sehari-harinya mencari buah pinang dan kemudian menjemurnya setelah dibelah dua. Buah pinang kering dipasarkan dengan seharga Rp 3.000 per kilonya. Pukul 13.00 Pak Mardius kembali dan setelah makan siang Pak Mardius mengajak kami ke rumah Pak Marina. Setelah berjalan kaki kurang lebih tigapuluh menit akhirnya tibalah di rumah Pak Marina. Pak mardius memperkenalkan kami pada Pak Marina dan keluarganya sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami. Pak marina dan keluarganya menyambut baik kehadiran kami di rumahnya dan beliau juga mengizinkan kami untuk mengikuti prosesi pernikahan keponakannya yang akan berlangsung esok harinya. Siang itu kami dijamu Pak Marina dengan durian yang kebetulan saat itu sedang musim. Komunitas Talang Mamak memang sangat sopan dan sangat menghargai orang luar yang datang. Dalam perbincangan dengan Pak Marina saya ketahui bahwa Keluarga Pak Marina adalah Orang Melayu atau langkah baru, yaitu orang Talang Mamak yang telah memeluk Agama Islam, begitu juga dengan keponakannya Ridwan yang akan menikah, sedangkan keluarga dari pihak pengantin wanita adalah Orang Talang Mamak penganut khatolik sinkritis. Kepercayan komunitas Talang Mamak sebagian besar masih animisme, kumunitas ini menyebut diri mereka sebagai langkah lama yang artinya orang adat. Sebagian sudah beragama, ada yang memilih Islam yang menyebut dirinya langkah baru dan identitas mereka berganti menjadi Melayu. Sebagian lagi memeluk Khatolik sinkritis khususnya penduduk Siambul dan Talang Lakat. Keesokan paginya (27/01/08), saya dan teman-teman bersiap-siap menuju Dusun Siamang tempat akan dilangsungkannya pernikahan. Perjalanan menuju Dusun Siamang ini adalah kali pertama saya lakukan dan yang terbayang oleh saya adalah dusun yang akan dikunjungi adalah dusun yang sangat tertinggal karena berada jauh di dalam hutan dan untuk mencapainya, pastilah akan memakan waktu berjam-jam berjalan kaki. Namun, betapa kagetnya saya, dari Dusun Lemang menuju Dusun Siamang hanya memakan waktu satu jam berjalan kaki. Kami berjalan kaki melintasi jalan setapak di tengah hutan. Sepanjang perjalanan Pak Mardius memberitahukan saya beberapa jenis tanaman yang bisa dijadikan obat-obatan. Mereka memang mengenal banyak obat-obatan tradisional. Orang Talang Mamak memanfaatkan lebih dari seratus jenis tumbuhan dan lebih dari duapuluh jenis cendawan untuk mengobati lebih dari limapuluh jenis penyakit. Sedangkan Orang Melayu memanfaatkan lebih dari seratus limapuluh jenis tumbuhan obat untuk mengobati lebih dari empatpuluh jenis penyakit dan delapan jenis cendawan obat untuk mengobati delapan jenis penyakit. Di beberapa tempat saya mendapati gubuk-gubuk orang Talang Mamak yang tidak lagi dihuni. Biasanya orang Talang Mamak meninggalkan rumahnya karena ada keluarganya yang meninggal dan mereka akan kembali lagi ke rumah tersebut setelah melewati masa satu tahun. Sebelum sampai di Dusun Siamang, kami harus menyeberangi Sungai Siamang dengan menggunakan rakit bambu. Rakit bambu merupakan alat transportasi bagi Orang Talang Mamak dan Orang Melayu. Setelah sampai seberang sungai, Dusun Siamang pun sudah terlihat. Tidak dijumpai rumah-rumah layaknya komunitas adat terpencil, seperti yang saya bayangkan sewaktu saya mengunjungi Dusun Datai beberapa tahun lalu. Namun, yang saya jumpai adalah rumah-rumah papan dan hampir setiap rumah memiliki parabola. Meski Dusun Siamang berada di tengah hutan tetapi masyarakat tidak tertinggal dalam hal teknologi. Di Dusun ini mudah menemukan televisi, tape, parabola, hingga handphone. Bahkan tidak sedikit yang memiliki kendaraan bermotor meskipun tidak memiliki nomor polisi alias plat. Kami sampai dirumah yang tak terlalu besar dan telah ramai oleh orang-orang. Semula saya berpikiran ini adalah rumah pengantin wanita. Namun ternyata bukan. Rumah itu adalah rumah Ketua RT setempat. Dirumah inilah pernikahan Ridwan dan Neti nanti malam akan dilangsungkan. Menurut Pak Marina, hal ini memang sudah menjadi kewajiban Ketua RT untuk mengadakan upacara pernikahan warganya di rumahnya sendiri. Selain itu, juga disebabkan karena mempelai pria adalah Orang Melayu. --------------------------------------
Pagi itu, ritual pernikahan dimulai. Hal pertama yang dilakukan oleh warga adalah mengadakan sabung ayam. Kami sempat terkejut mendengar kata sabung ayam. “Apakah mereka tidak takut ditangkap polisi?”. Pak Marina menjelaskan bahwa sabung ayam ini adalah sebagai hiburan dan merupakan rangkaian upacara adat Talang Mamak. Apabila sabung ayam ini ditiadakan maka upacara adat terasa tidak akan lengkap. Selain itu sabung ayam ini berguna untuk menambah lauk yang akan di masak pada pesta pernikahan. Jadi, ayam yang kalah akan di potong dan di jadikan hidangan pesta. Pukul 10.00 berlangsung sabung ayam. Sabung ayam ini juga tergolong unik, ayam-ayamnya tidak dibiarkan bertarung secara alami, tapi oleh pemiliknya ayam-ayam yang akan bertarung dipasangkan pisau pada tajinya. Pak Mardius secara diam-diam rupanya telah membeli ayam jago sore sebelumnya dan akan disabung pagi ini. Demikian juga Pak Marina, telah menyiapkan ayam jagonya yang akan ikut berlaga. Kedua pria inipun kemudian sibuk memasangkan pisau ditaji ayam sebelum melepas ayam mereka bertarung. Adalah ayam Pak Kayo yang akan dihadapinya. Pak Kayo juga telah mempersiapkan ayamnya. Sebelum mengikat pisau ke taji kaki ayamnya, beliau memperlihatkan terlebih dahulu senjata yang akan dipergunakan kepada ayamnya sambil berkata, “Inilah senjata yang akan kau pakai nanti, jadi kau jangan jadi ayam pengecut.” Beberapa menit kemudian, Pak Marina dan Pak Kayo mengadu ayam mereka. Hanya dalam dua menit sudah bisa ditentukan ayam Pak Marina yang kalah dan ayam yang baru dibeli pak Marina kemarin sore itu siap dijadikan hidangan pesta nanti malam. Tak ketinggalan mereka juga bertaruh dalam sabung ayam ini. Yang kalah berkewajiban membayar taruhan dan yang menang berhak menerima uang taruhan. Maka Pak Marina menyerahkan uang sejumlah Rp 80.000 sebagai uang taruhan dan Rp 40.000 sebagai uang beli ayam kepada Pak Kayo. Pukul 11.14 kami mengikuti ritual pernikahan selanjutnya yaitu, acara penyerahan alat-alat yang akan dimasak atau yang biasa dikatakan lemukut sepatah rebung sepucuk pakis sekalo selemak semanis. Yaitu, satu nampan besar yang berisi garam, gula, minyak, kelapa, bumbu dapur, dan sebagainya. Selain itu juga ada sepiring sirih. Selanjutnya Pak Saleh membuka kata untuk memberikan seserahan alat dapur ini. Kemudian menyerahkannya kepada istri Kepala Dusun. Seserahan diterima dan ia juga memakan sirih yang diberikan. Selanjutnya seserahan ini diserahkan kembali oleh Istri Kadus kepada orang yang akan memasak agar segera mulai memasak hidangan pesta nanti malam. Setelah acara penyerahan alat dapur, berikutnya adalah mandi belimau. Mandi belimau ini adalah dimana kedua calon pengantin dimandikan dengan air jeruk nipis. Hal ini bertujuan untuk membersihkan diri sebelum upacara pernikahan berlangsung.
Setelah waris (keluarga) perempuan menerima piring, maka waris perempuan memberikan piring berisi sirih dan keris kepada Ketua RT dan berunding agar anak mereka segera dinikahkan. Setelah berunding waris perempuan memberikan uang Rp 50.000 sebagai upah nikah yang nantinya akan diberikan kepada pegawai yang menikahkan kedua mempelai. Selanjutnya, Ketua RT memberikan piring berisi sirih dan keris kepada Kapala Dusun. Ketua RT menyalami Kadus, Kadus pun menerima piring dan memakan sirih yang diberikan, selanjutnya Ketua RT menjelaskan maksud kedatangannya adalah ada dua orang yang datang kepadanya dan minta dinikahkan. Kepala Dusun menjawab, “Jika memang keduanya sudah sepakat, maka nikahkanlah tetapi saya pun tidak bisa menikahkan mereka karena ada Pegawai Adat/Imam yang akan menikahkan mereka.” Maka Kadus menunjuk satu orang pegawai adat yang akan menikahkan kedua mempelai. Selanjutnya Kadus memberikan piring berisi sirih dan keris kepada pegawai yang beliau tunjuk yaitu Pak Nahar. Setelah menerima piring Pak Nahar menjelaskan bahwa beliau bukannya tidak bersedia menjadi pegawai yang menikahkan kedua mempelai hanya saja akhir-akhir ini beliau sudah tidak lagi menjadi pegawai nikah di Dusun Siamang ini. Setelah berunding, akhirnya Pak Nahar bersedia menikahkan kedua mempelai atas permintaan Pak Kadus.
Setelah calon pengantin pria dan wanitanya memasuki ruangan maka mereka berputar tiga kali di bawah kayu kubak tersebut. Kemudian kedua mempelai beradu cepat untuk duduk, siapa yang cepat maka dialah yang akan menang dan kali ini yang menang adalah calon pengantin wanitanya. Setelah kedua mempelai duduk berhadapan di bawah kayu kubak, calon pengantin pria dan wanita saling bertukar rokok, kemudian keduanya sama-sama memakan sirih, dan selanjutnya kedua mempelai saling menyuapi nasi yang diletakkan ditelapak tangan masing-masing sebagai tanda sehidup semati. Selanjutnya, hadirin yang berada di ruangan tersebut saling berbalas pantun. Baik tua maupun muda berhak memberikan pantun dan kemudian dibalas oleh yang lainnya. Setelah berpantun, pegawai adat yang akan menikahkan kedua mempelai berdiri di bawah ujung kayu kubak memberikan nasihat perkawinan. Selanjutnya pegawai mengeluarkan keris dan menancapkan keris pada kayu kubak sambil membaca mantra dan selanjutnya menempelkan keris di dada kedua mempelai secara bergantian. Selanjutnya pengantin kembali beradu cepat untuk duduk dan kali ini pemenangnya adalah pengantin pria. Dengan duduknya kedua mempelai maka pernikahan itu dinyatakan sah. Pegawai adat pun menyatakan kedua mempelai telah sah sebagai suami istri. Mereka tersenyum. Acara dilanjutkan dengan bersalaman, diawali kepada orang tua keluarga, beberapa orang yang dituakan dan dihormatai di lingkungan mereka dan seluruh hadirin yang memenuhi ruangan tersebut sebagai tanda mereka telah sah menjadi sepasang suami istri dan memohon doa agar kebahagiaan selalu menyertai keluarga mereka kelak. Upacara pernikahan adat Talang Mamak ini diakhiri dengan acara bersantap bersama. Usai sudah pernikahan ala Talang Mamak di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh itu. Apakah tradisi mereka akan tetap berlanjut? Atau akan tergerus waktu seiring dengan semakin tingginya terdegradasinya kawasan hidup mereka yang dikepung oleh perusahaan yang setiap saat siap menjamah hidup mereka. (* R. Prashinta staff Komunikasi KKI Warsi, foto-foto: Herry/Dok. KKI Warsi) |
|
|
|
Copyright © WARSI 1999 - 2008. All Rights Reserved. |
||