Home > Mata Hati

  MATA HATI

NEW

     
 

Pusat Pengembangan
Lumbung Energi Listrik Ramah Lingkungan
di Pedesaan

Oleh: Bening Sugiyanto

(Program Inisiasi Awal KKI Warsi)

Sejak tahun 2007 pemerintah telah mengembangkan  program  dalam skala nasional yaitu program Desa Mandiri Energi (DME). Program ini dimaksudkan untuk mendapatkan solusi kongkrit dalam mengatasi persoalan ketergantungan masyarakat  pada penggunaan BBM,  yang selama ini menjadi  sumber utama pemenuhan akan energi. 

Pemikiran atau gagasan tersebut pada tingkat pelaksanaan diwujudkan dalam beberapa bentuk yang diantaranya adalah pertama, pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN), kedua pengembangan listrik yang bersumber dari energy baru terbarukan yang tersedia di kawasan desa, seperti yang mudah dijumpai yaitu sumber daya air, angin, matahari, biogas.

Kebijakan makro yang dikuatkan dengan  Peraturan Presiden RI Nomor 5 tahun 2006 tersebut, saat ini telah mencapai 623 desa rintisan yang tersebar diberbagai propinsi dari rencana pencanangan yaitu 2000 Desa Mandiri Energi (DME) pada tahun 2015.  NEXT >>

 

 
     
 

Mengikuti Prosesi pernikahan ala Talang Mamak
Lauk dari ayam kalah aduan, pernikahan antar agama dilakukan secara adat
Oleh: R. Prashinta*

Komunitas Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, masih sangat kental dengan beragam upacara adat.  Mulai dari melahirkan dengan bantuan dukun bayi, timbang bayi, sunat, upacara perkawinan (gawai), berobat berdukun, beranggul (tradisi menghibur orang yang kemalangan) dan upacara batambak (menghormati roh yang meninggal dan memperbaiki kuburannya untuk peningkatan status sosial).  Semua upacara adat ini dilakukan dengan ritual-ritual khusus yang sangat menarik untuk disimak.

Seperti minggu (27/1), berlangsung ritual pernikahan di komunitas Talang Mamak di Dusun Siamang Rantau Langsat Taman Nasional Bukit Tigapuluh.  Untuk mencapai dusun ini, saya dan empat orang teman (KKI-Warsi) menempuh jalan darat selama 9  jam dengan jarak tempuh kurang lebih 385 km untuk mencapai Dusun Lemang—dusun terdekat dengan Dusun Siamang Rantau Langsat—yang bisa diakses dengan mobil.

Pukul 18.00 kami sampai di rumah Pak Mardius di Dusun Lemang —orang yang biasa dipecaya sebagai penghubung ke Komunitas Talang Mamak lainnya--. Pak Mardius yang baru saja menyambut kelahiran puteri pertamanya itu sangat senang menyambut kehadiran kami. Ini adalah kali pertama saya bertandang ke rumah Pak Mardius. Saya mengamat-amati keadaan rumahnya. Inilah rumah tempat saya menginap selama beberapa hari di sini. Dalam hati saya kagum pada sosok Pak Mardius.  Pria pemilik tubuh yang tak terlalu tinggi ini adalah sosok Orang Talang Mamak yang telah mengenal peradaban desa. Sosok sederhananya tak membuat saya canggung. Di rumahnya ini beliau membuka warung, beliau menjual banyak barang-barang keperluan sehari-hari. Saya dan teman-teman menyebut warung Pak Mardius sudah seperti Toserba,  semua barang kebutuhan mudah didapatkan disini, mulai dari permen, sabun, ikan teri, sampai handbody tersedia. NEXT >>

 

 
 

Harimau pun Perlu Hidup
Oleh: Muhammad Yunus dan Muji Santoso**

 
 

Luas permukaan Indonesia hanyalah 1,3% dari keseluruhan daratan dunia. Namun begitu, potensi yang terkandung sungguh mengagumkan. Betapa tidak, 10% dari seluruh tumbuhan dunia, 12% jumlah mamalia, 16% reptil dan amphibi, 17% jumlah burung, dan lebih dari 25% jenis ikan laut maupun tawar ada di sini. Fakta lainnya, 17.000 pulau di Indonesia memiliki kisaran habitat yang bervariasi. Mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, hutan bakau, padang rumput savana hingga perbukitan dan pegunungan. Dan untuk menjaga kelestarian itu semua, pemerintah telah menetapkan 10% dari luas daratan serta 20 juta hektar lautan sebagai kawasan konservasi. Konser-vasi in-situ sebagai prioritas utama demi keanekaragaman hayati Indonesia di masa mendatang.

Sebut saja Harimau, satwa yang telah dikenal luas oleh masyarakat karena kharisma ataupun kegarangannya. ’Mbah’ atau ‘Datuk’ dengan artian sesuatu yang dituakan dan dihormati adalah panggilannya. Dan lebih dari itu, bila menyebut nama ”nenek” saat memasuki hutan niscaya akan selamat, begitu petuah orang tua dulu. NEXT >>

 

Rendezvous Orang Rimba ke Mentawai
Oleh: Musfarayani, M. Rafi’i Rangkuti, dan Sutardi Diharjo**





 

Malam itu mendung di dermaga Muaro Padang, Sumatera Barat. Rutinitas yang biasa sebenarnya: hiruk pikuk calon penumpang, bising dan kuli pengangkut barang. Empat Orang Rimba (suku asli Taman Nasional Bukit Duabelas/TNBD) sambil memegang erat tas masing-masing, begitu awas memperhatikan kesibukan tersebut. Jelas bukan pemandangan dan kesibukan biasa bagi Orang Rimba.

Selain Temenggung Tarib (pemimpin kelompok Rimba di daerah Sungai Paku Aji, Air Hitam, Jambi), ini adalah pertama kalinya bagi Temenggung Marituha (pemimpin kelompok Rimba di daerah Sungai Terab), Menti Pengusai (semacam Menteri dari daerah Sungai Makekal) dan Ejam (wakil pemuda Orang Rimba) pergi jauh dari rimbanya - tempat mereka tinggal selama ini - dengan menyebrangi lautan. Mereka akan mengunjungi Pulau Siberut (salah satu kepulauan Mentawai) yang jaraknya 100 mil dari kota Padang dengan menggunakan kapal laut yang bisa dibayar seharga Rp 50.000/perorang.

Keempatnya akan mengunjungi suku asli Mentawai yang tinggal jauh di kedalaman hutan Siberut Selatan, tepatnya di daerah bernama Bekkeiluk dan Desa Salapa. Kunjungan ini difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI), Jambi dan Yayasan Citra Mandiri (YCM), Padang. Orang Rimba akan bertukar pengalaman dan belajar tentang nilai-nilai kearifan adat budaya Orang Mentawai, begitu juga sebaliknya. Sehingga pengalaman langka ini bisa menjadi inspirasi bagi kedua suku untuk saling menguatkan dan mendukung satu dengan lainnya. Mereka diharapkan tidak perlu merasa rendah diri lagi hanya karena berasal dari suku yang sama sekali berbeda dan tinggal jauh di kedalaman hutan. NEXT >>

 

Dusun Tuo Datai Hari Ini
Oleh: Rahmadie

 
  Pak Peheng (28) baru saja memanen hasil kebun. Sesaat kemudian ia menuruni kebunnya itu dan melewati sungai Kuning, sungai yang pertama kali di temui saat menuju dusunnya. Dusun Tuo Datai yang jaraknya kurang lebih 1 km lagi (S 01° 0041,8' E 102° 33' 057"). Langkahnya yang cepat seolah tidak mencerminkan bahwa ia sedang membawa ubi kayu antara 25-30 kg di pundaknya.

Ya, beginilah kehidupan kami. Mengandalkan berladang. Biasanya yang ditanam itu manggalo (ubi kayu), padi, dan karet. Bila menanam padi maka panennya enam bulan sekali. ”Karena itu, bila tidak ada padi ubi pun jadi,” jelas pak Peheng sambil menyeka keringatnya. Bahkan, lanjutnya, bila terpaksa sekali, kami makan sagu. Itu pun dengan susah payah menjadikannya Lempeng.

Begitu juga dengan jernang. Kini, untuk mendapatkannya sangatlah sulit. Dulu, biasanya kami pergi hingga sepuluh hari. Lokasinya di sekitar anak sungai Gansal. Ya tergantung rezeki lah. Kadang dapat dan kadang pun tidak. Kalaupun dapat hingga 2 kg itu sudah sangat baik. ”Tapi, kini tiada lagi” tambahnya.

Dan, kisah sedih yang sama juga akan kami alami bila bercerita tentang madu. Sudah empat tahun ini madu yang biasanya ada di pohon Sialang tak kunjung tiba. NEXT >>

 
 

Menantang Sungai Gansal
(Dusun Tuo Datai bagian 2)*

Oleh: Rahmadie

 
 

Hari masih gerimis, ketika pagi itu sekitar pukul 09.00 WIB tim kami (6 orang dan 1 guide) akan menelusuri Sungai Gansal. Sungai yang harus kami lalui dua hari lamanya. Berkekuatan 3 armada perahu, yang masing-masing terdiri 2 personil penggalah (pendayung), maka perahu kami siap meluncur bak kapal perang siap tempur.

Tanpa jaket pelampung, tanpa helm pelindung dan tanpa perlengkapan lainnya, petualangan pun dimulai. Lubuk yang airnya dalam atau jeram yang airnya bergelombang, harus kami terjang. Gak kebayang jadinya ”bila perahu terbalik lalu kecebur dan gak bisa berenang.” Bagi kami hanya ada satu kalimat yang terlintas SERU dan MENANTANG.

Potensi Wisata

Dusun Tuo Datai yang terletak di Hulu Sungai Gansal dan Sungai Melenai Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu di Wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Riau, sudah berdiri sejak zaman penjajahan yang dibangun tentu saja untuk menjauhkan diri dari penjajah juga.

Wilayah ini berbukit dengan ketinggian antara 60m-843m dari permukaan laut yang terdiri atas tanah padsolik merah kuning dan latosol merah dengan kedalaman bervariasi antara 40cm-150 cm. Iklimnya B berdasarkan Schmidt dan Ferguson dengan rata-rata curah hujan 2082, 5 mm/tahun atau 173,5 mm/bulan.

Meski dusun ini terletak di pedalaman, akan tetapi berbagai potensi alam yang ditawarkan sungguh asri hingga layak dijadikan tujuan ekowisata. Sebut saja Sigulang-gulang Melenai dan Cindawan Muka Rimau yang ”maskotnya” Taman Nasional Bukit Tigapuluh. NEXT >>

 

Copyright © WARSI 1999 - 2007.  All Rights Reserved.