Halaman 23
[ prev ] [ next ]

   

 

 

ALAM SUMATERA & PEMBANGUNAN

 
 
 
 

Saya pikir, perlu ada penyadaran pada masyarakat bahwa satwa yang ada dalam hutan perlu diselamatkan dari kepunahan. Sebab kebanggaan kita tinggal lagi pada harimau. Bagaimana caranya, kita bersama-sama mempertahankan habitatnya, yakni hutan yang masih tersisa.

Kelompok anti konservasi sering mengkritik, mengapa harimau, badak, gajah dan mamalia lainnya dibela mati-matian, padahal mereka mengganggu kehidupan manusia?Kembali pada penyadaran tadi. Ajak mereka untuk tidak bersikap dan bertindak yang bertujuan memusnahkan kehidupan makhluk hidup selain manusia. Kita harus menghormati kehidupan harimau, monyet, beruang dan lain-lain. Kehidupan satwa itu punya arti bagi kehidupan manusia. Kalau manusia sudah tidak menghargai makhluk lain, berarti ia sudah merusak kehidupannya sendiri.

Konsekuensi dari kepunahan sejumlah satwa yang dilindungi (karena diburu dan diperdagangkan), Indonesia dikecam karena melanggar konvensi perdagangan satwa (CITES). Apa akibatnya bagi Indonesia?
Bukan hanya dikecam, tapi juga dikucilkan. Sebab kita sudah sepakat untuk melindungi dengan menandatangani konvensi itu. Nama baik kita makin rusak di dunia internasional. Mereka pasti melakukan boikot.

Perdagangan satwa dikecam, perdagangan kayu dikritik, seperti apa wajah negeri ini di luar negeri?
Bopeng-bopeng, ha,ha,ha.... Ya, ‘kan. Wajah Indonesia sudah bopeng-bopeng di luar negeri, karena kita seenaknya melanggar perjanjian yang sudah disepakati . Mengapa kita memburu harimau, gajah, badak, beruang, monyet dan lain-lain itu? Mengapa orang leluasa menangkap burung lalu memenjarakan dalam sangkar? Bagaimana kalau kita yang justru dikandangkan dalam kerangkeng. Mau nggak kita?

Cerita soal penjara, Mochtar Lubis memang sudah kenyang mengalami. Di era Soerkarno berkuasa, ia sempat dikurung (1957-1966) gara-gara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Begitupun di era Soeharto, ia sempat meringkuk 2,5 bulan. Kedua-duanya tanpa proses pengadilan. Karena itu ia juga tidak setuju jika hewan ikut di penjara. "Saya tidak setuju dengan konsep kebun binatang, yang mencampakkan berbagai jenis hewan habitatnya. Konsep itu tidak benar," kata Mochtar Lubis dengan nada bicara agak meninggi.

 

Mengapa keberatan dengan konsep kebun binatang?
Karena satwa-satwa itu dikurung. Terus terang, dalam kurungan tidak ada kebebasan. Hewan seperti burung tidak bebas mengepakkan sayapnya. Harimau, monyet, orangutan dan sebagainya, tidak leluasa menikmati hidup. Untuk apa mereka hidup jika sudah tidak ada kebebasan. Coba kalau dibalik, Anda dimasukkan ke dalam kerangkeng dan ditonton oleh hewan-hewan.

Mungkin, dengan kebun binatang, satwa yang langka bisa diselamatkan. Bisa juga anak-anak bisa dikenalkan sejak dini tentang makhluk lain selain manusia?
Bukan begitu caranya. Bukan dengan membuatkan penjara. Kalau untuk bahan pelajaran, bisa melalui gambar atau foto-foto. Ini lebih manusiawi daripada ditangkap lalu dipertontonkan. Keberadaan kebun binatang tidak mendidik anak-anak menghargai kehidupan yang sebenarnya.

Dari mana awal penolakan kebun binatang ini?
Para pecinta binatang sudah lama menolak kebun binatang yang tidak membiarkan satwa itu hidup bebas.

Kenyataannya, para penyayang binatang lebih banyak memelihara piaraannya dalam kandang yang disiapkan?
Menyayangi tidak harus mengandangkan. Kalau ingin mengoleksi, siapkan habitatnya. Biarkan satwa itu menikmati hidupnya di alam bebas. Habitatnya bukan sebatas dan seluas kandang yang disiapkan.

 
         

[ prev ] [ next ]