|
|
||||
|
ALAM SUMATERA & PEMBANGUNAN |
||||
|
|
||||
|
Saya pikir, perlu ada penyadaran pada masyarakat bahwa satwa yang ada dalam hutan perlu diselamatkan dari kepunahan. Sebab kebanggaan kita tinggal lagi pada harimau. Bagaimana caranya, kita bersama-sama mempertahankan habitatnya, yakni hutan yang masih tersisa. Kelompok anti konservasi sering mengkritik, mengapa harimau, badak, gajah dan mamalia lainnya dibela mati-matian, padahal mereka mengganggu kehidupan manusia?Kembali pada penyadaran tadi. Ajak mereka untuk tidak bersikap dan bertindak yang bertujuan memusnahkan kehidupan makhluk hidup selain manusia. Kita harus menghormati kehidupan harimau, monyet, beruang dan lain-lain. Kehidupan satwa itu punya arti bagi kehidupan manusia. Kalau manusia sudah tidak menghargai makhluk lain, berarti ia sudah merusak kehidupannya sendiri. Konsekuensi dari kepunahan
sejumlah satwa yang dilindungi (karena diburu dan diperdagangkan), Indonesia
dikecam karena melanggar konvensi perdagangan satwa (CITES). Apa akibatnya bagi
Indonesia? Perdagangan satwa dikecam,
perdagangan kayu dikritik, seperti apa wajah negeri ini di luar negeri? Cerita soal penjara, Mochtar Lubis memang sudah kenyang mengalami. Di era Soerkarno berkuasa, ia sempat dikurung (1957-1966) gara-gara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Begitupun di era Soeharto, ia sempat meringkuk 2,5 bulan. Kedua-duanya tanpa proses pengadilan. Karena itu ia juga tidak setuju jika hewan ikut di penjara. "Saya tidak setuju dengan konsep kebun binatang, yang mencampakkan berbagai jenis hewan habitatnya. Konsep itu tidak benar," kata Mochtar Lubis dengan nada bicara agak meninggi. |
Mengapa keberatan dengan
konsep kebun binatang? Mungkin, dengan kebun
binatang, satwa yang langka bisa diselamatkan. Bisa juga anak-anak bisa
dikenalkan sejak dini tentang makhluk lain selain manusia? Dari mana awal penolakan
kebun binatang ini? Kenyataannya, para penyayang
binatang lebih banyak memelihara piaraannya dalam kandang yang disiapkan? |
|||