| PROFIL
|
||||
|
Juga tentang bagaimana kemungkinan manusia bisa mengatasi kelemahan-kelemahannya. Sebagai "alat" untuk memperlihatkan ini, Mochtar Lubis memanfaatkan alam Sumatera sebagai arena dan satwa harimau serta mitos dewa harimau sebagai alat pembongkar kebenaran. Untuk mengetahui lebih jauh pikiran-pikirannya soal harimau, dalam kaitan dengan hutan yang menjadi setting novelnya, redaksi AS&P mewawancarai Mochtar Lubis di kediamannya, awal bulan ini. Petikannya: Dari mana Anda mendapat
inspirasi untuk menjadikan harimau sebagai salah satu tokoh dalam novel itu? Anda sempat bertemu harimau? Di Minangkabau, harimau juga
disebut cindaku: harimau jadi-jadian yang suka mengganggu manusia Dalam novel Anda, harimau
disimbolkan sebagai satwa pengganggu manusia. Bagaimana ceritanya? Rasa takut terhadap harimau dan dewanya, mencerminkan bahaya nyata jika manusia hidup bertetangga dengannya. Ini dilema bagi konservasionis? |
||||
|
Mochtar Lubis: Melalui "Harimau,Harimau", ia mengungkap berbagai sisi gelap atau kelemahan dasar bagi manusia: berhubungan dengan nafsu, yang pantang diakui dan disembunyikan di bawah permukaan kehidupan sosial. |
||||