Halaman 22
[ prev ] [ next ]

         
  PROFIL
 

 

Juga tentang bagaimana kemungkinan manusia bisa mengatasi kelemahan-kelemahannya. Sebagai "alat" untuk memperlihatkan ini, Mochtar Lubis memanfaatkan alam Sumatera sebagai arena dan satwa harimau serta mitos dewa harimau sebagai alat pembongkar kebenaran. Untuk mengetahui lebih jauh pikiran-pikirannya soal harimau, dalam kaitan dengan hutan yang menjadi setting novelnya, redaksi AS&P mewawancarai Mochtar Lubis di kediamannya, awal bulan ini. Petikannya:

Dari mana Anda mendapat inspirasi untuk menjadikan harimau sebagai salah satu tokoh dalam novel itu?
Inspirasi itu saya dapatkan ketika masih sekolah di Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam, Sumatera Barat. Kami diajak mengenal tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di dalam hutan. Kami masuk dan menginap hingga empat sampai lima malam. Tidak ada tenda atau peralatan lain, seperti kemah anak-anak muda sekarang. Kami harus belajar hidup dalam hutan. Kami dididik, dilatih supaya tidak takut masuk hutan yang kaya dengan keindahan. Waktu pertama kali memang kesal juga. Tapi setelah masuk beberapa kali, kami menjadi tertarik dan selalu minta ada kegiatan masuk hutan lagi.

Anda sempat bertemu harimau?
Kebetulan kami tidak bertemu. Waktu itu kami semua sangat takut dengan harimau. Jadi kalau sempat ketemu, saya ngeri juga. Sebab di Minangkabau, harimau tabu dibicarakan.

Di Minangkabau, harimau juga disebut cindaku: harimau jadi-jadian yang suka mengganggu manusia
Ha, ha, ha.... Waktu kecil saya memang sering ditakut-takuti dengan cindaku. Tapi saya tidak tahu mengapa ada istilah cindaku untuk harimau pengganggu itu.

Dalam novel Anda, harimau disimbolkan sebagai satwa pengganggu manusia. Bagaimana ceritanya?
Sebagai salah satu penghuni hutan, harimau bagaikana raja rimba raya. Tapi bukan simbolisasi jahat yang saya tonjolkan terhadap harimau. Hewan ini juga bukan simbol kesatriaan. Ini sebetulnya tergantung dari tindak-tanduk dan tingkah laku manusia. Jika habitatnya diganggu, ia marah dan menerkam manusia.

Rasa takut terhadap harimau dan dewanya, mencerminkan bahaya nyata jika manusia hidup bertetangga dengannya. Ini dilema bagi konservasionis?

 
 

Mochtar Lubis:
"Wajah Indonesia
Sudah
Bopeng-
bopeng."
Mochtar Lubis merupakan tokoh yang "gentayangan" di mana-mana. Selain sastrawan, budayawan dan juga wartawan, pria kelahiran Padang 79 tahun yang lalu itu, juga dikenal sebagai tokoh LSM: memimpin Yayasan Obor Indonesia, yang menerbitkan buku-buku tentang hutan dan lingkungan hidup, dan anggota dewan penyantun Yayasan LBH Indonesia (mundur tahun 1996). Sebagai sastrawan, ia kerap mendapat penghargaan. Novelnya "Harimau, Harimau" mendapat hadiah sastra dari Yayasan Buku Utama, disamping penghargaan yang diterima untuk karyanya yang lain –di antaranya Piagam Maqsaysay dari Filipina tahun 1958 dan dikembalikan tahun 1995, sebagai protes atas terpilihnya sastrawan Pramudya Ananta Toer sebagai penerima penghargaan serupa.

Melalui "Harimau,Harimau", ia mengungkap berbagai sisi gelap atau kelemahan dasar bagi manusia: berhubungan dengan nafsu, yang pantang diakui dan disembunyikan di bawah permukaan kehidupan sosial. 

   
         

[ prev ] [ next ]