Halaman 20
[ prev ] [ next ]

         
  LAPORAN UTAMA
 
 
 


Trenggiling

Hewan menyusui bersisik pemakan semut dan rayap. Tubuhnya tertutup sisik yang tersusun seperti genteng atap, sebagian saling menutupi. Bagian perut, sebelah dalam anggota tubuh, tenggorokan dan bagian-bagian kepala tidak tertutup sisik tetapi ditutupi bulu-bulu. Sisik berupa tonjolan kulit yang keluar dari epidermis. Kepala berbentuk kerucut, mata kecil, begitu pula telinga luar.

Oleh karena hewan ini tidak mempunyai gigi maka lidah digunakan untuk makan. Lidah panjang berbentuk cacing, kakinya kuat dan pendek lengkap dengan cakar. Cakar jari-jari benar-benar cakar penggali.

Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya. Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon.

Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India (Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina (M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon (M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla), Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki) terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M. javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Trenggiling Jawa yang terdapat di Pulau Sumatera mempunyai panjang kepala 50 - 60 cm, panjang ekor 50 - 80 cm, dengan warna sisik kuning sawo sampai coklat kehitam-hitaman dan kulit berwarna agak putih. (M. Yusuf)

 
 

ditingkatkan pengelolaan dan implementasinya. Melakukan inventarisasi secara menyeluruh terhadap seluruh populasi gajah di Pulau Sumatera sehingga diketahui jumlah dan struktur populasinya untuk memudahkan pengelolaan populasi gajah. Pemanfaatan gajah yang telah dilatih sebagai gajah pekerja dan atraksi perlu dilakukan secara nyata dan bertahap. Dimulai dari kawasan pembangunan yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Meningkatkan dan mengembangkan Pusat Latihan Gajah yang telah ada sebagai tempat pengembang biakan satwa liar gajah secara semi alami dan dilengkapi dengan klinik kesehatan gajah yang melayani gajah pekerja atau atraksi.

Bagaimanapun juga, sebagai landasan hukum dalam menjalin keterpaduan dalam pengelolaan populasi dan habitat gajah memerlukan Peraturan Pemerintah. Ini diikuti dengan penyuluhan kepada masyarakat untuk turut serta dalam melestarikan gajah Sumatera serta menjadikan gajah latih sebagai pendamping dalam usaha meningkatkan kesejahteraan. Kalau tidak segera dilakukan upaya pelestarian, maka gajah sumatera bisa hanya tinggal sebuah dongeng sebagaimana cerita tentang dinosaurus yang mengisi lembar-lembar dongeng di majalah anak-anak.

 
 
 

[ prev ] [ next ]