|
|||||||
|
|
|||||||
|
|||||||
|
PROFIL LEMBAGA KOMUNITAS KONSERVASI INDONESIA - WARSI (KKI-WARSI)
Saat awal didirikan berkantor di Jambi dengan bentuk Yayasan (Yayasan WARSI) selanjutnya sejak April 1994 dipindahkan ke Bangko (ibu kota Kabupaten Sarolangun Bangko), karena terletak ditengah-tengah 4 propinsi Sumatera bagian Selatan, sekaligus dekat dengan pusat masalah konservasi di Sumbangsel yaitu kawasan Bukit Barisan khususnya Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang sampai saat ini jadi pusat perhatian banyak pihak. Pada bulan Juli 2002 Yayasan WARSI berubah menjadi Komunitas Konservasi Indonesia – WARSI ( KKI-WARSI) dan terhitung sejak tanggal 6 Desember 2002, sekretariat WARSI pindah ke Jambi. Kepindahan ini tentunya juga demi mendekatkan kegiatan Warsi soal konservasi dan pemberdayaan masyarakat ke tingkat pembuat kebijakan yang lebih tinggi, yaitu pemerintahan provinsi Jambi, disamping kedekatan dengan pemerintah kabupaten lainnya di Jambi. Forum WARSI tidak membatasi partisipannya pada kalangan LSM saja, tetapi juga terbuka bagi para profesional dan perguruan tinggi serta kalangan lain yang tertarik dan berminat untuk berkontribusi. Bekerja sama dan berdialog dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konservasi dan upaya pengembangan masyarakat di 4 propinsi Sumbangsel seperti Pemda (melalui Bappeda), Instansi Teknis Pemerintah (khususnya PKA Departemen Kehutanan), perguruan tinggi, swasta, serta pihak lain yang peduli. Tujuan WARSI adalah untuk mengupayakan terciptanya upaya pembangunan yang berkelanjutan, yaitu pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup manusia masa kini tanpa mengancam pemenuhan kebutuhan hidup generasi yang akan datang. Untuk mencapai tujuan, dikembangkan aktivitas sebagai berikut: 1) Sebagai clearing house (mengkoordinasikan dan menginformasikan) menyangkut upaya konservasi sumberdaya alam dan pengembangan masyarakat (comunity development) di wilayah Sumbagsel, 2) Membangun komunikasi, menjalin kerja sama, mediasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan, baik ditingkat lokal, nasional, maupun tingkat internasional, 3) Menyelengarakan berbagai forum dan sarana-sarana antara lain: forum workshop, pendidikan dan latihan, penelitian serta kegiatan yang sejenis, 4) Menyelenggarakan berbagai sarana komunikasi untuk kepentingan-kepentingan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan upaya konservasi dan pengembangan masyarakat di Sumbagsel, 5) Melaksanakan kegiatan-kegiatan konservasi langsung di lapangan dengan metoda-metoda pendekatan partisipatif khas Lembaga Swadaya Masyarakat serta program community development. WARSI berpendapat dan berkeyakinan bahwa masyarakat juga mampu dan mau serta berkepentingan dalam upaya konservasi sumber daya alam. Banyak contoh membuktikan bahwa masyarakat tradisional punya kearifan tersendiri dalam mengelola sumber daya alam disekitarnya. Untuk itu WARSI mencoba mengembangkan konsep : “KONSERVASI BERSAMA MASYARAKAT”. Selanjutnya sebagai motto yang dianut adalah Konservasi untuk Kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya kesejahteraan rakyat harus dikorbankan untuk konservasi. Misi dan sasaran yang dicapai adalah menghidupkan kembali asas-asas konservasi masyarakat asli dan mempengaruhi pengembangan model pengelolaan kawasan konservasi di Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya. Strategi untuk mencapai misi dan sasaran tersebut dilaksanakan program-program sbb:a) Program Informasi yang mencakup Perpustakaan, Kliping, Media Cetak berupa penerbitan Warta Warsi juga Alam Sumatera dan Pembangunan dan Audio Visual, b) Program Aksi mencakup kegiatan :
.
3. Studi Keanekargaman Hayati
Kegiatan ini merupakan kerjasama Warsi dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1998. Hasil dari kegiatan ini menjadi salah satu bagian informasi yang dikomunikasikan kepada berbagai pihak, terutama pemerintah, agar didapatkan perhatian terhadap pelestarian hutan alam yang tersisa di tengah Propinsi Jambi. Secara khusus, kegiatan penelitian ini juga untuk mengetahui jenis-jenis khas (endemik) kawasan dan pengetahuan etnobotani dari masyarakat lokal. Pada tahun 1998, Warsi bekerja sama dan memfasilitasi Ekspedisi Biota Medika ke kawasan Bukit Duabelas. Ekspedisi ini merupakan kegiatan kerjasama Depkes, IPB, UI, dan LIPI selama kurang lebih 1,5 bulan. Kegiatan ini menggali potensi biota obat yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba di Bukit Duabelas. Dari kegiatan ini teridentifikasi ratusan biota obat, flora dan fauna, yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba. Hasil dari ekspedisi ini dimanfaatkan sebagai bahan dalam komunikasi mempertahankan hutan alam di Bukit Duabelas.
Sejak tahun 1999 (April) hingga 2002, Warsi bekerjasama dengan WWF Indonesia menjadi salah satu jaringan dari kegiatan Monitoring Perdagangan Harimau dan Badak Sumatra. Warsi menangani monitoring di wilayah Sumatra bagian tengah. Dalam kegiatan ini, Warsi mengumpulkan data dan informasi mulai dari kasus penangkapan atau pembantaian Harimau dan Badak Sumatra hingga jaringan pemasarannya.
Program IBSAP (penyusunan dokumen Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan) dengan durasi 6 bulan (April – September 2002) . Sebuah kenyataan bahwa di antara 1985 hingga 1997 sekitar 20 juta hektar hutan telah lenyap (atau 1,58 juta hektar/tahun) dan kebanyakan adalah hutan dataran rendah di bawah 300 meter tempat 60% spesies hutan tropik hidup, Lima juta hektar di antaranya lenyap akibat kebakaran hutan antara 1997-1998. dan perairan, 60% terumbu karang mengalami kerusakan dan polusi telah mencemari baik perairan air tawar maupun lautan, mendorong suatu usaha untuk mendapatkan dokumen yang berisi rencana aksi dan strategi payung di tingkat nasional yang komprehensif dan implementatif mutlak ada sebagai acuan berbagai pihak. Dokumen Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) ini diharapkan dapat menggantikan dokumen BAPI (Biodiversity Action Plan for Indonesia) yang disusun tahun 1993.
Adapun keluaran yang di hasilkan dari proses ini adalah hasil stocktaking yang berisikan analisis pelaksanaan BAPI 1993; Dokumen strategi dan rencana aksi konservasi keanekaragaman hayati ; Indonesia dalam versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; Enam dokumen strategi dan rencana aksi konservasi keanekaragaman hayati di tingkat lokal dalam versi bahasa Indonesia, dalam hal ini WARSI bekerja untuk menyusun substansi dokumen Sumatera; Dokumen strategi dan rencana aksi konservasi keanekaragaman hayati Indonesia versi populer bagi khalayak luas; serta berbagai informasi keanekaragaman hayati Indonesia yang dapat dilihat di www.ibsap.org.Kegiatan ini cakupannya adalah Wilayah Bioregional Sumatera dengan dukungan dana dari Grant GEF 4. Pengembangan Sistim Hutan Kemasyarakatan
Sejak bulan Mei 2000, Warsi dengan dukungan dana dari Ford Foundation menjalankan Program Ikhtiar Sosial Menuju Terwujudnya Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasiskan Masyarakat di Sumatra Bagian Selatan. Program ini dilaksanakan oleh lembaga-lambaga jaringan Warsi di empat propinsi di Sumatra bagian selatan. Ikhtiar ini dimaksudkan sebagai bentuk upaya mengimplementasikan Community Based Forest Management (CBFM). Diharapkan melalui upaya ini bisa difasilitasi implementasi model-model pengelolaan hutan oleh masyarakat di empat propinsi yang didukung dengan kebijakan dari pemerintah daerah setempat. Kegiatan ini berlokasi di beberapa desa, yaitu : Desa Batu Kerbau (Kab. Bungo) dan Desa Guguk (Kab. Merangin) di Propinsi Jambi; Desa Koto Melintang (Kab. Agam) di Propinsi Sumbar; Desa Ladang Palembang (Kab. Lebong Utara); dan Eks Marga Benakat (Kab. Tanjung Enim) di Propinsi Sumsel.
Terhitung mulai Bulan September 2002, untuk kurun waktu 7 bulan, WARSI dengan Dukungan dari DFID-MFP melakukan kegiatan persiapan yaitu Membangun Kesepahaman Bersama sebagai langkah awal untuk medorong perspektif baru pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat dengan pendekatan Bioregion DAS Batang Hari yang meliputi 2 (dua) propinsi (Jambi dan Sumatra Barat). Dari kegiatan ini diharapkan terbangun komitmen bersama (adanya nota kesepahaman bersama para pihak) untuk memulai penyusunan rencana pengelolaan bersama sumberdaya alam pada Daerah Aliran Sungai Batanghari yang menjamin keberlanjutan fungsi dan pemanfaatannya. Struktur Organisasi
|
||
|
Copyright © WARSI 1999 - 2007 All Rights Reserved. |
||