Filter Year:

Menunggu Kepastian Hak Kelola Hutan Desa Gambut

Masyarakat Desa Pematang Rahim Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur sudah menyusun berbagai rencana pengelolaan hutan desa dan menyediakan perangkat untuk mendukung pemanfaatan kawasan tersebut. Masyarakat sudah membentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHN) yang bertanggung jawab mengelola kawasan dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk patroli yang akan mengendalikan kebakaran pada kawasan yang berada di lahan gambut itu.  Masyarakat bersemangat untuk menyusun konsep ekowisata dalam kawasan hutan desa, dengan berbagai ide untuk mengembangkan wisata gambut di daerah yang bisa dijangkau dengan waktu 2 jam perjalanan dari Kota Jambi.

Namun ide untuk segera menerapkan pengelolaan hutan desa itu tak kunjung terlaksana. Masalahnya hak pengelolaan hutan desa yang sudah diusulkan masyarakat pada Januari 2017 lalu itu tak kunjung di respons Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pada awal pengajuan KLHK cukup responsif dengan usulan masyarakat, ditandai dengan adanya tim verifikasi pada Juni 2017.  Tim verifikasi telah menyatakan bahwa seluruh permohonan dapat diterima karena seluruh areal yang dimohon berada dalam Peta Indikatif Arahan Perhutanan Sosial (PIAPS) dan Lembaga Pengelola Hutan Desa dan masyarakat juga telah memenuhi persyaratan lainnya.

Continue Reading

Orang Rimba Derita Kanker Mulut

Ibu Nyesep (60) istri Bepak Sahar  Orang Rimba dari Kelompok Roni terbaring lemah di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi.  Bengkak dengan luka terbuka  di bibirnya didiagnosis dokter sebagai kanker mulut.  Ibu empat ini sebenarnya merasakan perubahan di bibir bawahnya sejak tahun lalu. Awalnya hanya berupa benjolan kecil menyerupai bisul, namun terus berkembang menjadi lebih besar.  Beberapa kali fasilitator kesehatan WARSI mengunjungi perempuan ini masih menolak untuk pengobatan medis. Perempuan yang saat ini bermukim di bawah pepohonan sawit milik masyarakat Desa Kembang Ujo Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin ini, memilih pengobatan tradisional.

Namun Selasa (9/10) Ibu Nyesap akhirnya meminta sendiri untuk dibawa berobat seiring dengan kondisi bibir bawahnya yang semakin membengkak dan ia kesulitan makan. Awalnya di bawa ke Puskesmas Pamenang, sore harinya pasien di rujuk langsung ke Rumah Sakit Abunjani Bangko. Sesuai dengan jalur untuk pengobatan pasien Jaminan Kesehatan daerah (Jamkesda) Kabupaten Merangin. Hingga Kamis, kembali dirujuk ke Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi.

Continue Reading

Sidang Adat Penganiayaan Orang Rimba

Lebih dari 50 Orang Rimba Kelompok Tumenggung Meladang meninggalkan kantor Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun  Senin Sore (1/10) yang menjadi lokasi sidang adat penganiayaan Beconteng. Dua hari sebelumnya Beconteng dianiaya oleh Satpam perusahaan, dituduh mencuri brondolan sawit di kebun milik PT Jambi Agrowiyana (JAW). Dalam sidang adat yang membicarakan nilai yang harus dibayarkan perusahaan kepada Orang Rimba. Ketika tidak terjadi kesepakatan Orang Rimba meninggalkan lokasi dan tidak mau melanjutkan sidang.

Malamnya meski lobi-lobi  pembayaran denda adat dilanjutkan. Perusahaan berusaha membujuk Orang Rimba untuk mencapai kata sepakat kata adat. Seperti ada upaya untuk meredam kemarahan Orang Rimba. Hingga akhirnya Orang Rimba menerima tawaran perusahaan untuk denda adat dan kasusnya dianggap selesai.

Continue Reading

Lagi kekerasan aparat perusahaan menimpa Orang Rimba

Beconteng (23) Orang Rimba dari anggota kelompok Tumenggung  Meladang masih terbaring lemah di pondok beratapkan plastik hitam yang dalam bahasa rimba disebut sesudongon.  Pemukiman Orang Rimba ini berada di perkebunan karet milik masyarakat Desa Jernih Kecamatan Air Hitam Sarolangun. Memar di wajahnya masih terlihat jelas, gumpalan darah sekitar hidungnya masih menyisakan bekas. Sesekali ia batuk dan dari  ludahnya masih tercampur dengan darah.

Dengan lirih Beconteng menceritakan kisah pilu yang dialaminya.  Luka yang dideritanya merupakan buah kekerasan dan perlakukan kasar  dari Satpan Perusahaan Jambi Agro Wiyana (JAW) anak perusahaan perkebunan Sinar Mas Plantation yang tak jauh dari sesudungon tempat ia bermukim.  Kejadian naas itu terjadi pada Sabtu (29/9) kemarin.  Hari itu, Beconteng bersama dengan Serah, Mbuda' dan Besilo berboncengan dengan dua sepeda motor pergi berburu dengan  membawa dua senjata rakitan kecepek. Orang Rimba sudah terbiasa melewati jalan ini, karena wilayah ini merupakan ruang jelajah mereka untuk mencari hewan buruan jauh sebelum kawasan itu berubah menjadi perkebunan sawit.

Continue Reading

WARSI Dukung Moratorium Perkebunan Sawit

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI menyambut baik keluarnya Instruksi Presiden Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit.  Direktur KKI WARSI Rudi Syaf menyebutkan bahwa Inpres ini sebagai momen untuk memperbaiki tata kelola dan juga penyelesaian konflik masyarakat dengan perusahaan  sawit. Di Jambi pada era awal perkebunan sawit hampir semua lokasi perkebunan sawit merupakan kawasan hutan yang dialih fungsikan. Hanya saja kala pelepasan kawasan hutan ini tidak memperhitungkan suku adat marginal yang tinggal dalam kawasan tersebut.

Continue Reading

Terima SK Penetapan Hutan Adat Dari Presiden

Enam Belas kelompok masyarakat adat kembali menerika penerima SK penetapan Hutan Adat dari Presiden Joko Widodo. Sepuluh diantaranya berasal dari Jambi, yaitu 7 kelompok dari Sarolangun, 2 kelompok dari Kerinci dan satu kelompok dari Bungo. Penyerahan SK berlangsung di Istana negara tadi pagi.

Continue Reading

Presiden Serahkan SK Hutan Adat Sarolangun

Hari ini, pengelola hutan adat dari Sarolangun bertolak ke Jakarta untuk menerima Surat Penetapan Hutan Adat dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara yang direncanakan diberikan besok (19/9) di istana negara. Para Pengelola Hutan Adat ini diantaranya berasal dari Pengelola Hutan Adat Desa Meribung, yang akan menerima SK nomor 5775/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 617 ha, Hutan Adat Penghulu Lareh Desa Temalang  SK 5774/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 240 ha, Hutan Adat Rio Peniti Lubuk Bedorong dengan SK SK 5776/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 240 ha, Hutan Adat Imbo Pseko Desa Napal Melintang dengan SK SK 5773/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018  seluas 83 ha. Ada juga Hutan Adat Datuk Mantari Sakti Desa Mersip dengan SK SK 5772/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 78 ha. Para pengelola ini akan bergabung dengan pengelola hutan adat lainnya dari Kerinci, Bungo dan Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Total ada 6.032,50 ha kawasan Hutan Adat yang di tetapkan oleh Kementrian LHK dari 16 kelompok pengelola.

Continue Reading

Peraih Emas Asian Games Asuh Pohon Sinar Wajo

Sugianto atlet Pencak Silat yang menyumbangkan medali emas untuk Indonesia pada Asian Games lalu memenuhi janjinya. Sugianto menyumbangkan sebagian bonus yang diterimanya untuk mengasuh pohon. Pilihannya jatuh pada pohon yang berada di kawasan gambut, tepatnya di Hutan Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten  Tanjung Jabung Timur. Penyumbang emas ke 25 pada Asian Games 2018 itu mengadopsi 15 pohon. Dalam bukti transfer yang diterima rekening Pohon Asuh dicantumkan keterangan untuk pengasuhan pohon atas nama Sugi, Anita (istri)  dan Faiz (anak).  Dengan pengasuhan ini Sugianto dan keluarga kecilnya tercatat sebagai pohon di Hutan Desa Sinar Wajo untuk satu tahun ke depan.

Continue Reading

7 Zonasi Menguatkan TNBD sebagai Rumah Orang Rimba

Penetapan Taman Nasional Bukit Duabelas secara nyata diperuntukkan bagi kepentingan Orang Rimba. Komunitas yang seluruh aspek kehidupannya sangat tergantung dengan hutan. Kawasan Bukit Duabelas  diadvokasikan WARSI untuk perlindungan sumber penghidupan Orang Rimba yang terancam dengan alih fungsi hutan yang sangat masih di era tahun 1990-an. Bisa dilihat sekitar Bukit Duabelas sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan transmigrasi.

Di tahun 2000, Pemerintah selaku pemegang kuasa atas hutan sepakat untuk mencabut izin yang sudah terlanjur diberikan kepada PT Inhutani V yang akan mengelola perusahaan hutan tanaman. Advokasi yang dilakukan WARSI dengan dukungan para pihak di Provinsi Jambi berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk mencabut izin hutan tanaman dan menjadikannya kawasan hidup Orang Rimba dengan nama Taman Nasional Bukit Duabelas.

Continue Reading

KLHK sepakat ada pembangunan untuk Orang Rimba dalam Taman Nasional

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sejak awal berdirinya digagas untuk melindungi kawasan hidup Orang Rimba, komunitas asli Jambi.  Sempat tarik ulur untuk penentuan sistem zonasi sebagai syarat pengelolaan taman nasional, belakangan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai mengakomodir kebutuhan Orang Rimba ke dalam penetuan zona dalam kawasan. Dalam zonasi Taman Nasional Bukit Duabelas yang sudah direvisi pasca penetapan kawasan Taman Nasional oleh Kementerian Kehutanan SK.727/Menhut-II/2012, TNBD dibagi ke dalam tujuh zona.  Zonasi kawasan TNBD sudah disahkan Menteri LHK sejak tahun 2015, secara bertahap Balai Taman Nasional Bukit Duabelas sudah disosialisasikan kepada Orang Rimba dan masyarakat desa.

Continue Reading

Orang Rimba mengadukan PT SAL ke Rajo Godong

Lima Tumenggung Orang Rimba mengadukan nasib mereka ke Gubernur Jambi.   Sejak Selasa pagi (28/8) para Tumenggung ini sudah datang ke kantor gubernur,  sempat di pingpong hingga kemudian diminta untuk menunggu Asisten III.  Mereka baru bisa bertemu dengan Asisten III Setda Provinsi Jambi setelah jam 14.00. Lama menunggu tidak masalah bagi Orang Rimba asalnya persoalan mereka bisa didengarkan pemerintah dan dicarikan jalan keluarnya.

Continue Reading

Berikan Akses Lahan untuk Masyarakat Adat

Masyarakat adat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, masih banyak yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sumber daya hutan yang menjadi tumpuan hidup mereka, kini sudah beralih fungsi dan tidak mampu memberikan penghidupan yang layak. Dari catatan WARSI di Provinsi Jambi ada 441 KK Orang Rimba yang hidup  di perkebunan sawit yaitu PT Sari Aditya Loka, Astra Group di Kabupaten Merangin dan Sarolangun, PT Bahana Karya Semesta (SMART) Kabupaten  Sarolangun, PT Kresna Duta Agroindo (SMART) Sarolangun, PT Sawit Harum Makmur, Citra Sawit Harum (Group Harum) di Kabupaten  Bungo dan PT Satya Kisma Usaha (SMART) di Bungo.

Continue Reading

WARSI sesalkan kekerasan pada Orang Rimba

Selasa sore (19/6) berubah jadi hari yang menakutkan dan mencekam bagi kelompok Hari dan Badai, Orang  Rimba yang  bermukim di perumahan sosial Pasir Putih Desa  Dwi Karya Bakti Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Jambi. Sabtu (16/6)  tepat di hari lebaran kedua Idul  Fitri Orang Rimba dari 51 KK Orang Rimba di lokasi ini  sudah mualaf itu mendapat kunjungan dari Ilham, Orang Rimba dari Kelompok Kitap yang bermukim sekitar Nalo Tantan  Kabupaten Merangin. 

Continue Reading

Jadikan Ramadhan Momentum Perubahan Prilaku Ramah Lingkungan

Allah menciptakan alam semesta dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ada tanggung jawab yang sangat besar bagi manusia dalam memanfaatkan dan mengelola alam dan lingkungan. Dalam Al Quran Allah menegaskan dalam Surat Al Qoshash ayat 77,Surat Arrum ayat 41 dan 42 juga dalam Surat Al A’raf ayat 56,56 dan 58, dijelaskan bumi merupakan rumah bagi semua makhluk,namun kemudian ada tangan-tangan yang jawab yang merusaknya, akibat keserakahan manusia, yang menimbulkan kerusakan di laut dan di darat. Demikian disampaikan ustadz Dairun, SAg, M.Pd.I dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan KKI WARSI Kamis 7 Juni 2018.

Continue Reading

Siaga Bencana pada Suku Adat Marginal

Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di kelompokkan suku adat marginal (SAM) sebagai bencana yang paling menakutkan dan mempengaruhi hidup mereka. Berada di dalam hutan namun kondisi gelap di siang hari karena tebalnya kabut asap merupakan kejadian yang menakutkan. Tak hanya itu, bencana ini datang penyakit juga banyak menyerang komunitas ini. Persoalan ini mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Penanggulangan Resiko Bencana Bagi Komunitas Masyarakat Adat yang digelar Komunitas Konservasi Indonesia WARSI dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia yang berlangsung 30-31 Mei 2018.

Continue Reading

Mendorong Tanjabtim Menjadi Kabupaten Ramah Gambut

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI terus mendorong untuk terlaksananya pengelolaan gambut berkelanjutan. Tanjung Jabung Timur sebagai kabupaten dengan luas lahan gambut mencapai sekitar 65 % atau  3.120 km2  dari luasnya merupakan gambut, menjadi fokus WARSI dalam berkegiatan di gambut, dengan mendorongnya menjadi kabupaten ramah gambut.

Continue Reading

Wujudkan Orang Rimba Cerdas dan Sehat

Cerdas dan sehat adalah harapan semua orang. Termasuk komunitas Orang Rimba. Perubahan yang drastis pada kawasan hutan yang menjadi tempat hidup mereka, telah menjadikan Orang Rimba marginal. Keseriusan dan dukungan semua pihak untuk mendukung Orang Rimba bisa setara dengan kelompok masyarakat lainnya sangat dibutuhkan.

Continue Reading

PETI di Hutan Adat

Ratusan warga Desa Baru Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin marah besar pada aktivitas penambangan illegal yang berlangsung di kawasan hutan adat mereka. kemarahan ini diluapkan warga dengan membakar alat berat yang ditemui di hutan adat pada 8 Februari 2018. Menurut cerita yang beredar penambangan emas liar di hutan adat ini sudah beberapa kali diingatkan untuk menghentikan aktivitas mereka namun tidak membuahkan hasil dan masih saja berlangsung. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat menjadi marah dan kemudian melakukan pembakaran pada alat berat yang kedapatan tengah berada dalam hutan adat.

Continue Reading

Budi Pencuri menjadi TNI

“Bu Agui,” ujar Budi ketika dia mengenang kembali masa-masa dia pertama kali mengenal huruf dan angka di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas. Kala itu, Budi masih mengiakan nama rimbanya, nama yang diberikan oleh Dukun yang menyambut kehadirannya di Asohon, jauh di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Agui adalah Agustina Siahaan, fasilitator pendidikan KKI WARSI yang mengajar anak rimba. Kala itu, Budi masih menjadi murid yang ikut-ikutan saja dengan kakaknya Beralun yang menjadi murid Xena panggilan akrab Bu Agui di kalangan staf WARSI.

Continue Reading