Filter Year:

Terima SK Penetapan Hutan Adat Dari Presiden

Enam Belas kelompok masyarakat adat kembali menerika penerima SK penetapan Hutan Adat dari Presiden Joko Widodo. Sepuluh diantaranya berasal dari Jambi, yaitu 7 kelompok dari Sarolangun, 2 kelompok dari Kerinci dan satu kelompok dari Bungo. Penyerahan SK berlangsung di Istana negara tadi pagi.

Continue Reading

Presiden Serahkan SK Hutan Adat Sarolangun

Hari ini, pengelola hutan adat dari Sarolangun bertolak ke Jakarta untuk menerima Surat Penetapan Hutan Adat dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara yang direncanakan diberikan besok (19/9) di istana negara. Para Pengelola Hutan Adat ini diantaranya berasal dari Pengelola Hutan Adat Desa Meribung, yang akan menerima SK nomor 5775/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 617 ha, Hutan Adat Penghulu Lareh Desa Temalang  SK 5774/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 240 ha, Hutan Adat Rio Peniti Lubuk Bedorong dengan SK SK 5776/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 240 ha, Hutan Adat Imbo Pseko Desa Napal Melintang dengan SK SK 5773/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018  seluas 83 ha. Ada juga Hutan Adat Datuk Mantari Sakti Desa Mersip dengan SK SK 5772/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/9/2018 seluas 78 ha. Para pengelola ini akan bergabung dengan pengelola hutan adat lainnya dari Kerinci, Bungo dan Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Total ada 6.032,50 ha kawasan Hutan Adat yang di tetapkan oleh Kementrian LHK dari 16 kelompok pengelola.

Continue Reading

Peraih Emas Asian Games Asuh Pohon Sinar Wajo

Sugianto atlet Pencak Silat yang menyumbangkan medali emas untuk Indonesia pada Asian Games lalu memenuhi janjinya. Sugianto menyumbangkan sebagian bonus yang diterimanya untuk mengasuh pohon. Pilihannya jatuh pada pohon yang berada di kawasan gambut, tepatnya di Hutan Desa Sinar Wajo Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten  Tanjung Jabung Timur. Penyumbang emas ke 25 pada Asian Games 2018 itu mengadopsi 15 pohon. Dalam bukti transfer yang diterima rekening Pohon Asuh dicantumkan keterangan untuk pengasuhan pohon atas nama Sugi, Anita (istri)  dan Faiz (anak).  Dengan pengasuhan ini Sugianto dan keluarga kecilnya tercatat sebagai pohon di Hutan Desa Sinar Wajo untuk satu tahun ke depan.

Continue Reading

7 Zonasi Menguatkan TNBD sebagai Rumah Orang Rimba

Penetapan Taman Nasional Bukit Duabelas secara nyata diperuntukkan bagi kepentingan Orang Rimba. Komunitas yang seluruh aspek kehidupannya sangat tergantung dengan hutan. Kawasan Bukit Duabelas  diadvokasikan WARSI untuk perlindungan sumber penghidupan Orang Rimba yang terancam dengan alih fungsi hutan yang sangat masih di era tahun 1990-an. Bisa dilihat sekitar Bukit Duabelas sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan transmigrasi.

Di tahun 2000, Pemerintah selaku pemegang kuasa atas hutan sepakat untuk mencabut izin yang sudah terlanjur diberikan kepada PT Inhutani V yang akan mengelola perusahaan hutan tanaman. Advokasi yang dilakukan WARSI dengan dukungan para pihak di Provinsi Jambi berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk mencabut izin hutan tanaman dan menjadikannya kawasan hidup Orang Rimba dengan nama Taman Nasional Bukit Duabelas.

Continue Reading

KLHK sepakat ada pembangunan untuk Orang Rimba dalam Taman Nasional

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sejak awal berdirinya digagas untuk melindungi kawasan hidup Orang Rimba, komunitas asli Jambi.  Sempat tarik ulur untuk penentuan sistem zonasi sebagai syarat pengelolaan taman nasional, belakangan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai mengakomodir kebutuhan Orang Rimba ke dalam penetuan zona dalam kawasan. Dalam zonasi Taman Nasional Bukit Duabelas yang sudah direvisi pasca penetapan kawasan Taman Nasional oleh Kementerian Kehutanan SK.727/Menhut-II/2012, TNBD dibagi ke dalam tujuh zona.  Zonasi kawasan TNBD sudah disahkan Menteri LHK sejak tahun 2015, secara bertahap Balai Taman Nasional Bukit Duabelas sudah disosialisasikan kepada Orang Rimba dan masyarakat desa.

Continue Reading

Orang Rimba mengadukan PT SAL ke Rajo Godong

Lima Tumenggung Orang Rimba mengadukan nasib mereka ke Gubernur Jambi.   Sejak Selasa pagi (28/8) para Tumenggung ini sudah datang ke kantor gubernur,  sempat di pingpong hingga kemudian diminta untuk menunggu Asisten III.  Mereka baru bisa bertemu dengan Asisten III Setda Provinsi Jambi setelah jam 14.00. Lama menunggu tidak masalah bagi Orang Rimba asalnya persoalan mereka bisa didengarkan pemerintah dan dicarikan jalan keluarnya.

Continue Reading

Berikan Akses Lahan untuk Masyarakat Adat

Masyarakat adat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, masih banyak yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sumber daya hutan yang menjadi tumpuan hidup mereka, kini sudah beralih fungsi dan tidak mampu memberikan penghidupan yang layak. Dari catatan WARSI di Provinsi Jambi ada 441 KK Orang Rimba yang hidup  di perkebunan sawit yaitu PT Sari Aditya Loka, Astra Group di Kabupaten Merangin dan Sarolangun, PT Bahana Karya Semesta (SMART) Kabupaten  Sarolangun, PT Kresna Duta Agroindo (SMART) Sarolangun, PT Sawit Harum Makmur, Citra Sawit Harum (Group Harum) di Kabupaten  Bungo dan PT Satya Kisma Usaha (SMART) di Bungo.

Continue Reading

WARSI sesalkan kekerasan pada Orang Rimba

Selasa sore (19/6) berubah jadi hari yang menakutkan dan mencekam bagi kelompok Hari dan Badai, Orang  Rimba yang  bermukim di perumahan sosial Pasir Putih Desa  Dwi Karya Bakti Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Jambi. Sabtu (16/6)  tepat di hari lebaran kedua Idul  Fitri Orang Rimba dari 51 KK Orang Rimba di lokasi ini  sudah mualaf itu mendapat kunjungan dari Ilham, Orang Rimba dari Kelompok Kitap yang bermukim sekitar Nalo Tantan  Kabupaten Merangin. 

Continue Reading

Jadikan Ramadhan Momentum Perubahan Prilaku Ramah Lingkungan

Allah menciptakan alam semesta dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ada tanggung jawab yang sangat besar bagi manusia dalam memanfaatkan dan mengelola alam dan lingkungan. Dalam Al Quran Allah menegaskan dalam Surat Al Qoshash ayat 77,Surat Arrum ayat 41 dan 42 juga dalam Surat Al A’raf ayat 56,56 dan 58, dijelaskan bumi merupakan rumah bagi semua makhluk,namun kemudian ada tangan-tangan yang jawab yang merusaknya, akibat keserakahan manusia, yang menimbulkan kerusakan di laut dan di darat. Demikian disampaikan ustadz Dairun, SAg, M.Pd.I dalam acara buka puasa bersama yang diselenggarakan KKI WARSI Kamis 7 Juni 2018.

Continue Reading

Siaga Bencana pada Suku Adat Marginal

Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap di kelompokkan suku adat marginal (SAM) sebagai bencana yang paling menakutkan dan mempengaruhi hidup mereka. Berada di dalam hutan namun kondisi gelap di siang hari karena tebalnya kabut asap merupakan kejadian yang menakutkan. Tak hanya itu, bencana ini datang penyakit juga banyak menyerang komunitas ini. Persoalan ini mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Penanggulangan Resiko Bencana Bagi Komunitas Masyarakat Adat yang digelar Komunitas Konservasi Indonesia WARSI dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia yang berlangsung 30-31 Mei 2018.

Continue Reading

Mendorong Tanjabtim Menjadi Kabupaten Ramah Gambut

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI terus mendorong untuk terlaksananya pengelolaan gambut berkelanjutan. Tanjung Jabung Timur sebagai kabupaten dengan luas lahan gambut mencapai sekitar 65 % atau  3.120 km2  dari luasnya merupakan gambut, menjadi fokus WARSI dalam berkegiatan di gambut, dengan mendorongnya menjadi kabupaten ramah gambut.

Continue Reading

Wujudkan Orang Rimba Cerdas dan Sehat

Cerdas dan sehat adalah harapan semua orang. Termasuk komunitas Orang Rimba. Perubahan yang drastis pada kawasan hutan yang menjadi tempat hidup mereka, telah menjadikan Orang Rimba marginal. Keseriusan dan dukungan semua pihak untuk mendukung Orang Rimba bisa setara dengan kelompok masyarakat lainnya sangat dibutuhkan.

Continue Reading

PETI di Hutan Adat

Ratusan warga Desa Baru Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin marah besar pada aktivitas penambangan illegal yang berlangsung di kawasan hutan adat mereka. kemarahan ini diluapkan warga dengan membakar alat berat yang ditemui di hutan adat pada 8 Februari 2018. Menurut cerita yang beredar penambangan emas liar di hutan adat ini sudah beberapa kali diingatkan untuk menghentikan aktivitas mereka namun tidak membuahkan hasil dan masih saja berlangsung. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat menjadi marah dan kemudian melakukan pembakaran pada alat berat yang kedapatan tengah berada dalam hutan adat.

Continue Reading

Budi Pencuri menjadi TNI

“Bu Agui,” ujar Budi ketika dia mengenang kembali masa-masa dia pertama kali mengenal huruf dan angka di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas. Kala itu, Budi masih mengiakan nama rimbanya, nama yang diberikan oleh Dukun yang menyambut kehadirannya di Asohon, jauh di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Agui adalah Agustina Siahaan, fasilitator pendidikan KKI WARSI yang mengajar anak rimba. Kala itu, Budi masih menjadi murid yang ikut-ikutan saja dengan kakaknya Beralun yang menjadi murid Xena panggilan akrab Bu Agui di kalangan staf WARSI.

Continue Reading